Gaya Hidup🏥 Kesehatan

BPOM Temukan Takjil yang Berpotensi Rusak Ginjal: Ini Cara Mengenalinya

Jakarta — Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) kembali memperingatkan masyarakat agar waspada terhadap konsumsi takjil selama bulan Ramadan karena ada produk yang berpotensi membahayakan kesehatan ginjal dan organ tubuh lainnya. Peringatan ini disampaikan setelah BPOM menemukan indikasi takjil yang mengandung bahan berbahaya saat pengawasan di pasar musiman.

Pengawasan pangan takjil yang intensif menjadi bagian upaya BPOM untuk melindungi masyarakat dari risiko kesehatan akibat konsumsi makanan dan minuman siap saji yang beredar selama Ramadan. Menurut pengujian awal, beberapa produk mengandung zat yang tidak aman dan dapat berdampak buruk jika terus dikonsumsi.

Penemuan Takjil Mengandung Zat Berbahaya

BPOM melaksanakan pemeriksaan takjil di sejumlah bazar Ramadan di Kota Kediri dan menemukan lebih dari satu contoh produk yang diduga mengandung bahan berbahaya seperti pewarna tekstil Rhodamin B. Zat ini tidak diperbolehkan dalam makanan dan biasa digunakan di industri tekstil serta kertas. Paparan zat berbahaya seperti ini bisa menimbulkan masalah kesehatan serius, termasuk gangguan fungsi hati dan ginjal apabila dikonsumsi berkepanjangan.

Selain Rhodamin B, zat lain yang menjadi perhatian BPOM adalah Methanyl Yellow, boraks, dan formalin — semuanya termasuk bahan yang dilarang dalam makanan karena bersifat toksik. BPOM mengingatkan potensi dampak negatif dari konsumsi makanan yang mengandung bahan tersebut, termasuk iritasi saluran pencernaan, gangguan fungsi organ tubuh, dan risiko penyakit kronis.

Ciri‑Ciri Takjil Berpotensi Berbahaya

BPOM mengimbau masyarakat mengenali ciri‑ciri takjil berpotensi berbahaya agar bisa menghindarinya saat membeli di pasar atau bazar Ramadan. Berikut beberapa indikator yang harus dicermati:

  1. Warna takjil terlalu mencolok atau tidak merata — Pewarna tekstil yang berbahaya sering menghasilkan warna sangat terang yang tampak tidak alami.
  2. Tekstur yang tidak wajar — T akjil dengan tekstur sangat kenyal atau lengket secara tidak normal bisa menunjukkan penggunaan bahan tambahan tidak aman.
  3. Tidak basi meskipun disimpan selama 1–2 hari — Beberapa zat kimia berbahaya membuat takjil tidak mengalami pembusukan seperti makanan biasa.
  4. Tidak dihinggapi lalat — Kondisi ini bisa menunjukkan adanya bahan pengawet berlebih atau zat kimia yang tidak aman.

Pola‑pola ini tidak berarti takjil pasti berbahaya, tetapi memberi sinyal agar konsumen lebih cermat sebelum membeli dan mengonsumsinya.

BPOM dan Balai Besar Pengawasan Pangan Gelar Pengawasan

Tidak hanya di Kediri, Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan DKI Jakarta (BBPOM DKI) juga aktif melakukan pengawasan di lima wilayah Jakarta untuk memastikan pangan takjil aman dikonsumsi. BBPOM DKI memantau sentra takjil di berbagai titik termasuk Bendungan Hilir dan Koja, sambil mengambil sampel untuk diuji lebih lanjut. BBPOM DKI juga memberi edukasi langsung kepada pedagang tentang bahaya bahan berbahaya dalam makanan.

Dalam beberapa pemeriksaan di Jakarta, petugas menemukan beberapa sampel yang terindikasi menggunakan pewarna tekstil yang berbahaya dan langsung menariknya dari peredaran sambil memberi penjelasan kepada penjual agar memperbaiki praktik produksi mereka.

Edukasi bagi Pedagang dan Konsumen

BPOM juga menggalakkan edukasi kepada pedagang UMKM agar selalu menggunakan bahan yang aman dan sesuai peruntukan pangan. Pengawasan tidak hanya fokus pada pemeriksaan lapangan, tetapi juga pada pengetahuan pedagang tentang cara memproses takjil dengan hygienis, benar, dan aman. BPOM mengajak para pedagang menerapkan prinsip keamanan pangan dalam setiap tahapan produksi.

Bagi konsumen, BPOM mengimbau agar selalu memeriksa takjil sebelum membeli. Perhatikan warna, bau, dan kondisi tekstur makanan atau minuman. Bila menemukan produk yang mencurigakan, sebaiknya tidak dikonsumsi. Edukasi seperti ini dimaksudkan agar masyarakat tidak hanya bergantung pada hasil pengawasan saja, tetapi juga menjadi konsumen yang cerdas.

Pentingnya Pengawasan Pangan Saat Ramadan

Ramadan menjadi momentum bagi banyak pedagang untuk menjual aneka takjil buka puasa. Fenomena pasar musiman ini membuat kebutuhan pengawasan makin penting karena volume produk pangan naik drastis. BPOM bersama dinas terkait terus meningkatkan kontrol untuk memastikan keamanan dan kualitas pangan di bulan suci ini.

Pengawasan intensif dan edukasi bersama diharapkan cukup mampu mencegah peredaran takjil berbahaya sekaligus menjaga kesehatan masyarakat yang menjalankan ibadah puasa di seluruh Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *