Sampah Antariksa 17 Ribu Ton Mengorbit Bumi, Ancam Satelit Aktif
JAKARTA – Tumpukan sampah antariksa menjadi salah satu tantangan serius dalam perkembangan teknologi luar angkasa. Badan Antariksa Eropa atau European Space Agency (ESA) memperkirakan total massa benda buatan manusia yang berada di orbit Bumi telah mencapai lebih dari 17.400 ton. Sebagian benda tersebut merupakan satelit yang sudah tidak berfungsi, badan roket bekas peluncuran, serta pecahan yang dihasilkan dari berbagai peristiwa di ruang angkasa.
Data ESA yang diperbarui pada 23 Oktober 2026 mencatat sekitar 47.260 objek telah terpantau secara rutin oleh jaringan pemantauan antariksa. Dari jumlah satelit yang pernah ditempatkan di orbit Bumi, sekitar 15.900 masih berfungsi. Namun, angka tersebut belum menggambarkan keseluruhan benda yang mengelilingi planet ini karena banyak serpihan berukuran kecil tidak dapat dipantau satu per satu secara rutin.
Persoalan tersebut turut menjadi perhatian di Indonesia. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong penguatan pengamatan dan kolaborasi untuk memahami pergerakan benda antariksa, termasuk potensi risikonya terhadap satelit dan misi luar angkasa.
Bukan Hanya Satelit Mati
Sampah antariksa tidak hanya berupa satelit yang sudah berhenti beroperasi. Benda-benda tersebut juga mencakup bagian roket yang tertinggal setelah peluncuran, komponen yang terlepas dari wahana antariksa, serta serpihan akibat tabrakan atau pecahnya objek di orbit.
Menurut statistik ESA, berdasarkan pemodelan populasi objek antariksa, terdapat sekitar 68.450 benda berukuran lebih dari 10 sentimeter di orbit Bumi, termasuk satelit aktif. Selain itu, diperkirakan terdapat sekitar 1,5 juta serpihan dengan ukuran antara 1 hingga 10 sentimeter dan sekitar 230 juta fragmen berukuran 1 milimeter hingga 1 sentimeter.
Angka tersebut menunjukkan bahwa masalah sampah antariksa jauh lebih luas daripada benda besar yang dapat terlihat atau dilacak secara langsung. Fragmen kecil sekalipun dapat menjadi ancaman ketika bergerak dengan kecepatan tinggi relatif terhadap wahana lain.
Di ruang angkasa, objek-objek tersebut mengikuti lintasan orbitnya masing-masing. Pergerakannya perlu dipantau untuk memperkirakan kemungkinan pertemuan atau tabrakan dengan satelit yang masih beroperasi.
Mengapa Sampah Antariksa Berbahaya?
Salah satu risiko utama sampah antariksa adalah tabrakan dengan satelit aktif. Satelit memiliki peran penting dalam kehidupan modern, mulai dari komunikasi, navigasi, pemantauan cuaca, hingga pengamatan permukaan Bumi.
Tabrakan dengan serpihan yang bergerak cepat dapat merusak komponen satelit, mengganggu fungsinya, atau membuat wahana tidak dapat digunakan lagi. Dampaknya bergantung pada ukuran, kecepatan relatif, serta bagian yang terkena benturan.
Bahkan, serpihan berukuran kecil tidak selalu dapat dianggap aman. Energi tumbukan yang besar dapat merusak bagian tertentu dari wahana antariksa, sementara benturan yang lebih parah bisa menghasilkan pecahan baru.
Situasi ini menimbulkan persoalan berantai. Ketika sebuah objek pecah akibat tabrakan, fragmen yang dihasilkan dapat menambah jumlah sampah antariksa dan meningkatkan potensi benturan berikutnya.
Kondisi tersebut berkaitan dengan konsep Kessler Syndrome, yaitu skenario ketika tabrakan antarbenda di orbit menghasilkan semakin banyak puing hingga meningkatkan risiko tabrakan lanjutan. Jika proses ini terus berlangsung, sejumlah wilayah orbit dapat menjadi semakin sulit digunakan secara aman.
Kendati demikian, fenomena tersebut merupakan risiko yang perlu dicegah dan dipantau, bukan berarti seluruh orbit Bumi sudah berada dalam kondisi tidak dapat digunakan.
Ancaman terhadap Misi Antariksa Masa Depan
Meningkatnya jumlah satelit yang diluncurkan membuat pengelolaan ruang orbit semakin penting. Selain satelit komunikasi dan navigasi, berbagai negara serta perusahaan juga mengembangkan jaringan satelit dalam jumlah besar untuk memperluas layanan internet dan mendukung kebutuhan teknologi lainnya.
Aktivitas peluncuran yang meningkat membawa manfaat bagi masyarakat, tetapi juga menuntut pengelolaan yang lebih baik terhadap benda-benda yang tertinggal di orbit. Satelit yang sudah menyelesaikan misi perlu ditangani dengan prosedur akhir masa operasi yang tepat agar tidak terus menjadi sumber risiko.
Pemantauan lintasan menjadi salah satu cara untuk mengurangi kemungkinan tabrakan. Informasi mengenai posisi dan pergerakan objek dapat digunakan untuk memperkirakan risiko serta membantu operator mengambil keputusan ketika satelit perlu melakukan manuver penghindaran.
Namun, pemantauan tidak sepenuhnya menyelesaikan persoalan. Serpihan kecil lebih sulit dilacak secara akurat, sedangkan jumlah benda yang terus bertambah membuat pengawasan ruang angkasa menjadi pekerjaan berkelanjutan.
Karena itu, pencegahan terbentuknya puing baru sama pentingnya dengan mengembangkan teknologi untuk mengurangi sampah antariksa yang sudah ada.
BRIN Dorong Penguatan Pengamatan
Di Indonesia, BRIN terus mendorong kolaborasi pengamatan antariksa untuk mendukung pemantauan benda-benda yang mengorbit Bumi. Salah satu fasilitas yang disebut dalam laporan RRI adalah Observatorium Nasional Timau di Nusa Tenggara Timur, yang memiliki teleskop berukuran 3,8 meter.
Pengamatan astronomi dan pemantauan objek antariksa memiliki kebutuhan teknis yang berbeda, tetapi fasilitas serta kemampuan riset nasional dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat pengetahuan tentang lingkungan antariksa. Pengembangan kemampuan tersebut perlu disertai koordinasi dan pertukaran data dengan lembaga yang memiliki sistem pemantauan objek orbit.
Kerja sama internasional menjadi penting karena benda-benda antariksa melintasi wilayah di atas banyak negara. Tidak ada satu negara yang dapat menangani seluruh persoalan sampah antariksa secara mandiri.
Kolaborasi dapat membantu memperluas informasi tentang posisi objek, mendukung analisis risiko, serta memperkuat upaya menjaga keberlanjutan pemanfaatan ruang angkasa.
Sampah Antariksa Bisa Kembali ke Bumi
Selain berisiko bertabrakan dengan satelit, sebagian benda yang mengorbit Bumi pada akhirnya dapat memasuki kembali atmosfer. Proses ini dikenal sebagai re-entry.
Ketika memasuki atmosfer, benda antariksa mengalami pemanasan akibat interaksi dengan udara. Banyak objek berukuran kecil akan terbakar atau hancur selama proses tersebut. Namun, sebagian komponen berukuran besar atau berbahan tahan panas berpotensi bertahan dan mencapai permukaan Bumi.
Meski demikian, kemungkinan sampah antariksa jatuh ke permukiman tidak berarti setiap objek yang memasuki atmosfer otomatis membahayakan manusia di darat. Risiko perlu dinilai berdasarkan ukuran benda, material, lintasan, serta lokasi kemungkinan jatuhnya puing.
Pemantauan dan prediksi waktu masuknya kembali objek menjadi bagian penting untuk membantu memperkirakan risiko tersebut.
Besarnya massa sampah antariksa yang kini mengorbit Bumi memperlihatkan bahwa aktivitas manusia di luar angkasa meninggalkan konsekuensi jangka panjang. Dengan semakin banyaknya misi dan satelit yang diluncurkan, pengendalian sampah antariksa, pemantauan lintasan, serta kerja sama antarnegara akan semakin dibutuhkan agar orbit Bumi tetap dapat dimanfaatkan secara aman pada masa mendatang.

