Sains🏥 Kesehatan

Sering Ngemil Larut Malam? Studi Kaitkan Kebiasaan Ini dengan Risiko 2 Penyakit Liver


Kebiasaan mencari camilan ketika malam sudah larut mungkin terasa biasa bagi sebagian orang. Biskuit, keripik, atau makanan ringan lainnya kerap menjadi teman saat menonton televisi, bekerja hingga larut, maupun sebelum tidur. Namun, sebuah penelitian menemukan bahwa waktu makan yang terlalu dekat dengan jam tidur berkaitan dengan peningkatan risiko dua penyakit hati.

Dua penyakit yang menjadi perhatian adalah sirosis dan metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease (MASLD), yaitu penyakit hati berlemak yang berkaitan dengan gangguan metabolisme. Temuan ini menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan liver bukan hanya soal jenis makanan yang dikonsumsi, tetapi juga dapat berkaitan dengan waktu makan.

Meski demikian, kebiasaan makan larut malam tidak serta-merta membuat seseorang terkena penyakit liver. Penelitian tersebut menemukan hubungan statistik dan belum membuktikan bahwa waktu makan malam secara langsung menyebabkan kerusakan hati.

Penelitian Libatkan Hampir 200 Ribu Orang

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Clinical Gastroenterology and Hepatology tersebut menganalisis data 199.155 peserta dengan usia median 59 tahun. Informasi mengenai pola makan dan gaya hidup dikumpulkan melalui kuesioner yang diisi secara berkala, yakni setiap dua hingga empat tahun.

Penelitian ini dilakukan oleh para peneliti dari Oregon Health and Science University (OHSU) dan Massachusetts General Hospital. Pemantauan berlangsung dalam jangka panjang, dengan median periode pengamatan mencapai 16 tahun.

Hasil analisis menunjukkan bahwa peserta yang memiliki kebiasaan makan larut malam mempunyai risiko sirosis 28 persen lebih tinggi. Sementara itu, risiko MASLD tercatat 36 persen lebih tinggi dibandingkan peserta dengan waktu makan yang lebih teratur.

Dalam penelitian tersebut, makan larut malam merujuk pada kebiasaan makan setelah waktu tidur atau di antara waktu makan malam dan waktu tidur.

Peneliti juga memperhitungkan beberapa faktor yang dapat memengaruhi hasil, seperti usia, indeks massa tubuh (IMT), dan aktivitas fisik. Setelah penyesuaian dilakukan, hubungan antara kebiasaan makan larut malam dan peningkatan risiko penyakit hati tetap signifikan secara statistik.

Walaupun demikian, angka peningkatan risiko tersebut tidak berarti setiap orang yang makan menjelang tidur akan mengalami penyakit liver. Risiko individu dapat berbeda, sedangkan sirosis sendiri tergolong jarang ditemukan dalam kelompok yang diteliti. Selama periode pengamatan, tercatat 315 kasus sirosis dari hampir 200 ribu peserta.

Mengapa Makan Larut Malam Bisa Berkaitan dengan Kesehatan Hati?

Para peneliti menduga ritme sirkadian atau jam biologis tubuh berperan dalam hubungan tersebut. Ritme sirkadian mengatur berbagai proses biologis berdasarkan siklus siang dan malam, termasuk pola tidur, metabolisme, dan pengolahan energi.

Organ hati juga mempunyai mekanisme pengaturan waktu yang berkaitan dengan ritme sirkadian tubuh. Karena itu, perubahan waktu makan berpotensi memengaruhi cara tubuh mengolah zat gizi.

Pada malam hari, tubuh umumnya bersiap untuk beristirahat. Peneliti menduga konsumsi makanan dalam periode tersebut mungkin berkaitan dengan perubahan sensitivitas insulin dan penggunaan energi. Dalam kondisi tertentu, hal ini dapat berkontribusi terhadap gangguan metabolisme, peningkatan kadar gula darah, serta penumpukan lemak di hati.

Namun, mekanisme tersebut masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. Studi ini juga belum dapat memastikan apakah waktu makan menjadi faktor utama atau terdapat faktor lain yang ikut memengaruhi hubungan tersebut.

Salah satu keterbatasan penelitian adalah tidak diperhitungkannya waktu dan kualitas tidur secara menyeluruh dalam analisis. Selain itu, peneliti mencatat waktu konsumsi camilan, tetapi tidak mengumpulkan informasi terperinci mengenai jenis makanan yang dikonsumsi.

Dengan demikian, belum dapat dipastikan apakah hasil penelitian berkaitan terutama dengan waktu makan, jumlah kalori, pilihan makanan, atau kombinasi beberapa faktor.

Mengenal MASLD dan Sirosis

MASLD merupakan kondisi ketika lemak menumpuk di hati dan berkaitan dengan faktor metabolik, seperti obesitas, gangguan gula darah, serta masalah metabolisme lainnya. Kondisi ini dapat berkembang tanpa gejala yang jelas sehingga seseorang mungkin tidak menyadari adanya gangguan pada organ hatinya.

Pada sebagian orang, penumpukan lemak dapat disertai peradangan dan kerusakan jaringan hati. Jika berlangsung terus-menerus, kerusakan tersebut berpotensi berkembang menjadi fibrosis atau pembentukan jaringan parut.

Sementara itu, sirosis merupakan kondisi ketika jaringan hati mengalami kerusakan dan digantikan oleh jaringan parut secara luas. Kerusakan ini dapat mengganggu fungsi hati dan, pada tahap lanjut, berujung pada gagal hati.

Kedua kondisi tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh waktu makan. Faktor lain, seperti konsumsi alkohol berlebihan, obesitas, diabetes, infeksi hepatitis, serta kondisi medis tertentu, juga dapat berperan dalam terjadinya penyakit hati.

Karena penyebabnya beragam, pencegahan dan penanganan perlu disesuaikan dengan faktor risiko masing-masing orang.

Cara Menjaga Kesehatan Liver

Temuan penelitian ini membuka peluang untuk memahami pentingnya waktu makan dalam menjaga kesehatan metabolisme. Meski belum cukup untuk menetapkan aturan waktu makan yang berlaku bagi semua orang, ada beberapa kebiasaan yang dapat diterapkan.

Pertama, usahakan memiliki jadwal makan yang teratur dan hindari menjadikan camilan larut malam sebagai rutinitas apabila tidak diperlukan. Jika merasa lapar pada malam hari, perhatikan pula jumlah serta kandungan makanan yang dikonsumsi.

Kedua, jaga pola makan seimbang dengan memperbanyak sayur, buah, sumber protein, dan makanan kaya serat. Batasi konsumsi gula tambahan serta makanan tinggi kalori yang dikonsumsi secara berlebihan.

Ketiga, pertahankan berat badan yang sehat dan lakukan aktivitas fisik secara rutin. Langkah ini membantu menjaga kesehatan metabolisme yang berkaitan dengan risiko penyakit hati berlemak.

Keempat, hindari konsumsi alkohol berlebihan dan jangan menggunakan obat atau suplemen secara sembarangan. Beberapa zat dapat berdampak buruk pada hati, terutama jika digunakan dalam dosis yang tidak tepat.

Terakhir, lakukan pemeriksaan medis apabila memiliki faktor risiko penyakit hati atau mengalami keluhan yang mengkhawatirkan. Jangan menunggu munculnya gejala berat untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Para peneliti menilai bahwa waktu melakukan aktivitas sehari-hari, termasuk makan, tidur, dan berolahraga, patut mendapat perhatian dalam kajian kesehatan metabolisme. Meski demikian, penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memastikan seberapa besar perubahan jadwal makan dapat membantu menurunkan risiko penyakit hati.

Untuk saat ini, kebiasaan makan yang teratur dapat menjadi bagian dari gaya hidup sehat, tetapi tidak menggantikan pentingnya pola makan seimbang, aktivitas fisik, dan pemeriksaan kesehatan sesuai kebutuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *