Fakta Medis: Benarkah ‘Hujan Pertama’ Lebih Berbahaya dan Bikin Gampang Sakit?
JAKARTA, kilasjurnal.id ā “Jangan main hujan! Apalagi ini hujan pertama, airnya kotor bikin sakit!”
Kalimat di atas pasti sering Anda dengar dari orang tua, terutama saat langit menumpahkan airnya untuk pertama kali setelah musim kemarau panjang. Di Indonesia, ada kepercayaan kuat bahwa “Hujan Pertama” memiliki kandungan yang berbeda dan lebih berbahaya bagi tubuh dibandingkan hujan-hujan berikutnya.
Apakah ini hanya mitos orang tua untuk menakuti anak-anak, atau memang ada fakta sains di baliknya? Mari kita bedah secara medis.
Fakta: Langit “Mencuci” Dirinya Sendiri
Secara teknis, anggapan bahwa hujan pertama itu “kotor” adalah BENAR.
Selama musim kemarau, polusi udara, debu, partikel logam berat dari asap kendaraan, serta bakteri dan virus beterbangan dan menumpuk di atmosfer. Saat hujan pertama turun, air hujan berfungsi sebagai “sapu” yang membilas semua polutan tersebut dari langit ke bumi.
Akibatnya, tetesan air hujan pertama memang mengandung konsentrasi kotoran dan zat asam yang lebih tinggi. Jika air ini mengenai tubuh, terutama kepala, dan tidak segera dibilas, risiko iritasi kulit atau gangguan pernapasan bagi mereka yang sensitif (alergi) memang meningkat.
Mekanisme: Mengapa Kita Demam Setelah Kehujanan?
Namun, perlu diluruskan: Air hujan itu sendiri tidak mengandung virus flu. Anda tidak sakit karena kebasahan air, melainkan karena reaksi tubuh terhadap perubahan suhu yang ekstrem (Thermal Shock).
Berikut adalah apa yang terjadi pada tubuh saat terkena hujan:
1. Penurunan Suhu Tubuh (Hipotermia Ringan) Air hujan yang dingin, ditambah hembusan angin, menurunkan suhu tubuh dengan cepat. Untuk menjaga panas, pembuluh darah di hidung dan tenggorokan akan menyempit (vasokonstriksi).
2. Melemahnya Benteng Pertahanan Saat pembuluh darah menyempit, aliran sel darah putih (tentara imun) ke saluran napas berkurang. Padahal, hidung adalah pintu masuk utama kuman. Akibatnya, sistem imun lokal melemah.
3. Pesta Pora Virus Di saat imun sedang “lengah” karena kedinginan itulah, virus Influenza atau Rhinovirus (penyebab pilek) yang sudah ada di sekitar kita menyerang. Inilah alasan kenapa kita sering demam atau pilek setelah kehujanan.
Bau Tanah (Petrichor) dan Bakteri
Selain air, hujan pertama juga identik dengan aroma tanah yang khas atau disebut Petrichor. Aroma ini muncul karena senyawa geosmin yang dilepaskan oleh bakteri tanah (Streptomyces) saat terkena air.
Bagi sebagian orang, spora bakteri yang terangkat ke udara bersama aroma hujan ini bisa memicu reaksi alergi asma atau batuk, meskipun bagi sebagian lainnya aroma ini justru menenangkan.
Kesimpulan: Apa yang Harus Dilakukan?
Jadi, nasihat orang tua itu tidak sepenuhnya salah. Hujan pertama memang membawa lebih banyak polutan, dan suhu dinginnya bisa melemahkan imun.
Jika Anda terpaksa menerobos hujan pertama:
- Segera Mandi Air Hangat: Jangan biarkan air hujan mengering di badan. Bilas polutan dan kembalikan suhu tubuh normal dengan air hangat.
- Keringkan Rambut: Kepala yang basah mempercepat hilangnya panas tubuh.
- Minum Minuman Hangat: Jahe atau teh hangat membantu melancarkan peredaran darah.
Nikmati hujannya, tapi tetap waspada dengan kesehatan tubuh Anda!
