Ekonomi

Nilai Tukar Rupiah Menguat terhadap Dolar AS pada 11 Februari 2026

Jakarta — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak positif pada perdagangan Rabu, 11 Februari 2026, setelah pekan lalu menunjukkan tekanan pasar yang kuat. Pada pembukaan pasar pagi hari ini, rupiah menunjukkan penguatan, dan posisi tersebut bertahan hingga penutupan perdagangan sore. Pergerakan ini menunjukkan bahwa rupiah kembali menemukan momentum meskipun pasar global masih penuh ketidakpastian menjelang data ekonomi Amerika Serikat yang penting.

Penguatan Rupiah di Pasar Spot dan Jisdor

Pada pembukaan perdagangan di Jakarta pagi ini, rupiah menguat signifikan. Kurs rupiah tercatat menguat 36 poin atau sekitar 0,21 persen ke level Rp16.775 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp16.811 pada penutupan perdagangan Selasa. Pergerakan ini menunjukkan apresiasi yang jelas pada awal sesi perdagangan hari ini.

Selain itu, data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) dari Bank Indonesia (BI) menunjukkan rupiah berada di level Rp16.781 per dolar AS, menggambarkan konsistensi penguatan mata uang Garuda di antara pelaku pasar valuta.

Sementara itu pada penutupan perdagangan sore, rupiah mempertahankan tren penguatannya dengan berada di sekitar Rp16.786 per dolar AS, atau meningkat 0,15 persen dari posisi penutupan sebelumnya. Pergerakan positif ini menunjukkan bahwa tekanan jual terhadap mata uang domestik mereda seiring berjalannya hari.

Sentimen Pasar dan Faktor Global

Para analis pasar menyatakan penguatan rupiah dipengaruhi oleh beberapa faktor global yang mempengaruhi permintaan dolar AS. Salah satunya adalah data penjualan ritel AS yang mengecewakan, yang membantu menekan permintaan terhadap dolar sebagai aset aman. Kondisi tersebut memberi ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk menguat terhadap dolar AS.

Investor juga menunjukkan sikap wait and see menjelang rilis data tenaga kerja AS (Non-Farm Payroll/NFP), yang dianggap sebagai salah satu indikator penting untuk arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Ketidakpastian terkait keputusan suku bunga dan prospek ekonomi AS membuat sebagian pelaku pasar lebih berhati‑hati, sehingga mengurangi tekanan pada rupiah.

Faktor geopolitik global juga ikut memberi pengaruh. Ketegangan di beberapa wilayah telah membuat pelaku pasar beralih ke aset‑aset safe haven tertentu, tetapi tekanan pada dolar tidak terlalu tajam sehingga memberikan peluang rupiah bergerak positif pada hari ini.

Pergerakan Rupiah di Bank‑Bank Besar

Selain data pasar resmi seperti Jisdor dan spot, kurs rupiah terhadap dolar AS di bank‑bank besar pada Rabu pagi juga menunjukkan tren penguatan. Di beberapa bank komersial, rupiah diperdagangkan di kisaran Rp16.768 per dolar AS di sesi pagi, menegaskan bahwa apresiasi terjadi di berbagai segmen pasar.

Para pelaku pasar di bank mengamati bahwa perbedaan kecil antar bank mencerminkan tingginya likuiditas dan partisipasi para investor institusional. Meskipun demikian, mereka memperkirakan nilai tukar bisa tetap fluktuatif sepanjang hari sebelum data utama AS dirilis.

Prospek Nilai Tukar Rupiah di Sisa Perdagangan

Analis memperkirakan bahwa meskipun rupiah menguat di awal dan akhir sesi perdagangan hari ini, mata uang domestik tetap memiliki risiko untuk kembali melemah jika data pasar tenaga kerja AS menunjukkan angka kuat, yang bisa memperkuat dolar AS. Investor global cenderung berhati‑hati dalam melakukan langkah besar sebelum rilis data tersebut.

Selain itu, kegiatan pasar obligasi domestik yang kuat juga memberi dukungan pada penguatan rupiah. Permintaan terhadap surat utang negara Indonesia mencerminkan kepercayaan investor terhadap aset dalam negeri, sehingga membantu menjaga nilai tukar tetap stabil.

Dampak Terhadap Ekonomi Domestik

Penguatan rupiah memberikan dampak positif bagi stabilitas harga komoditas impor dan menekan tekanan inflasi yang bersumber dari barang impor. Penguatan ini juga berarti bahwa biaya impor bahan baku industri bisa sedikit tertekan turun, yang membantu sektor manufaktur dan perdagangan. Namun, sektor ekspor harus berhati‑hati karena rupiah yang lebih kuat dapat membuat produk Indonesia kurang kompetitif di pasar global.

Bank Indonesia terus memantau pergerakan pasar valuta asing dan mekanisme stabilisasi yang diperlukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Bank sentral bertindak sesuai dengan data ekonomi terbaru dan menetapkan kebijakan moneter yang tepat untuk menjaga daya beli rupiah.

Kesimpulan

Pada perdagangan Rabu, 11 Februari 2026, rupiah menunjukkan penguatan terhadap dolar AS, baik pada pembukaan maupun penutupan perdagangan. Penguatan ini terjadi di tengah ketidakpastian global menjelang data tenaga kerja AS dan sentimen pasar yang cenderung berhati‑hati. Penguatan rupiah menawarkan sinyal positif bagi stabilitas ekonomi domestik, namun tetap menyisakan potensi volatilitas di masa depan menjelang rilis data penting lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *