edukasiGaya Hidup

FOMO Minggir, JOMO Ngegas: Gen Z Mulai Investasi Lebih Waras dan Terukur

JAKARTA – Setelah beberapa tahun identik dengan tren investasi berbasis media sosial dan fenomena Fear of Missing Out (FOMO), Generasi Z kini menunjukkan perubahan pola pikir yang cukup menarik. Semakin banyak anak muda yang mulai meninggalkan kebiasaan mengejar tren investasi hanya karena sedang viral dan beralih ke pendekatan yang lebih rasional melalui konsep Joy of Missing Out (JOMO). Tren ini menandai perubahan penting dalam cara generasi muda memandang uang, risiko, dan tujuan keuangan jangka panjang.

Jika FOMO menggambarkan rasa takut tertinggal dari orang lain, JOMO justru mengajarkan seseorang untuk merasa nyaman meski tidak mengikuti semua tren yang sedang populer. Dalam konteks investasi, pola pikir ini mendorong seseorang untuk lebih fokus pada tujuan finansial pribadi dibanding sekadar mengejar peluang yang sedang ramai dibicarakan di media sosial.

Perubahan perilaku tersebut dianggap sebagai sinyal positif bagi perkembangan literasi keuangan generasi muda Indonesia yang selama ini sering dikaitkan dengan keputusan investasi impulsif.

Dari FOMO Menuju JOMO

Dalam beberapa tahun terakhir, media sosial menjadi salah satu sumber utama informasi investasi bagi generasi muda. Berbagai konten mengenai saham, reksa dana, kripto, hingga instrumen investasi alternatif mudah ditemukan setiap hari.

Namun derasnya informasi tersebut juga membawa konsekuensi. Banyak investor pemula yang akhirnya mengambil keputusan bukan berdasarkan analisis, melainkan karena takut tertinggal dari orang lain yang dianggap sudah memperoleh keuntungan lebih dulu. Fenomena inilah yang dikenal sebagai Fear of Missing Out atau FOMO.

Kini mulai muncul kecenderungan baru. Sebagian Gen Z memilih untuk berhenti sejenak sebelum mengambil keputusan investasi. Mereka tidak lagi merasa wajib membeli aset tertentu hanya karena sedang ramai dibahas influencer atau menjadi tren di media sosial. Sebaliknya, mereka lebih mempertimbangkan tujuan keuangan, profil risiko, dan kebutuhan pribadi sebelum menempatkan dana.

Investasi Bukan Lagi Ajang Ikut-Ikutan

Direktur PT Insight Investments Management (IIM), Ria M. Warganda, menilai JOMO mencerminkan perubahan cara pandang generasi muda terhadap tren. Menurutnya, semakin banyak anak muda yang menyadari bahwa mereka tidak harus selalu mengikuti apa yang sedang populer untuk merasa sukses atau diterima lingkungan sosial.

Dalam dunia investasi, pola pikir seperti ini dianggap lebih sehat karena membantu investor menghindari keputusan emosional.

Banyak investor muda kini mulai memahami bahwa tidak semua instrumen yang sedang populer cocok dengan kondisi keuangan mereka. Sebuah investasi yang menguntungkan bagi satu orang belum tentu sesuai untuk orang lain karena setiap individu memiliki tujuan, kebutuhan, dan toleransi risiko yang berbeda.

Kesadaran tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun perilaku investasi yang lebih disiplin dan berorientasi jangka panjang.

Gen Z Mendominasi Investor Pasar Modal

Perubahan pola investasi Gen Z menjadi semakin penting karena kelompok usia muda kini mendominasi pasar modal Indonesia.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa lebih dari separuh investor pasar modal Indonesia berasal dari kelompok usia di bawah 30 tahun. Artinya, keputusan yang diambil generasi muda memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan industri keuangan nasional.

Pertumbuhan jumlah investor muda juga terjadi seiring semakin mudahnya akses terhadap aplikasi investasi digital. Hanya melalui telepon pintar, seseorang kini dapat membeli saham, reksa dana, obligasi, hingga berbagai instrumen investasi lainnya.

Namun kemudahan akses tersebut perlu diimbangi dengan kemampuan memahami risiko. Tanpa literasi keuangan yang memadai, kemudahan berinvestasi justru dapat mendorong munculnya keputusan impulsif yang berpotensi merugikan.

Media Sosial Masih Berpengaruh

Meskipun tren JOMO mulai berkembang, pengaruh media sosial terhadap keputusan investasi Gen Z masih cukup besar.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa konten edukasi keuangan dan aktivitas para financial influencer masih memiliki peran penting dalam membentuk minat investasi generasi muda. Namun pengaruh tersebut tidak selalu negatif selama digunakan sebagai sarana belajar, bukan sebagai satu-satunya dasar pengambilan keputusan.

Banyak investor muda kini mulai menggunakan media sosial sebagai sumber referensi awal sebelum melakukan riset lebih mendalam. Mereka membandingkan berbagai sumber informasi dan tidak langsung mengikuti rekomendasi yang beredar.

Pendekatan ini menunjukkan adanya peningkatan kedewasaan dalam mengelola informasi keuangan di era digital.

Mindful Investing Jadi Tren Baru

Konsep yang banyak dikaitkan dengan JOMO adalah mindful investing atau investasi yang dilakukan secara sadar dan terencana.

Pendekatan ini menekankan pentingnya memahami alasan seseorang berinvestasi sebelum menempatkan dana pada suatu instrumen. Investor diajak untuk mengenali tujuan keuangan mereka, menghitung kemampuan menanggung risiko, serta menyesuaikan pilihan investasi dengan kondisi masing-masing.

Dengan cara tersebut, keputusan investasi tidak lagi didasarkan pada emosi sesaat atau tekanan sosial.

Mindful investing juga membantu seseorang menghindari perilaku membeli aset hanya karena harga sedang naik atau karena banyak orang lain terlihat memperoleh keuntungan.

FOMO Masih Menjadi Tantangan

Meski tren JOMO berkembang, fenomena FOMO belum sepenuhnya hilang.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa rasa takut tertinggal masih menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keputusan investasi Generasi Z. Paparan informasi yang terus-menerus dari media sosial dapat memicu keinginan untuk mengikuti tren tanpa melakukan analisis yang memadai.

Karena itu, para pelaku industri keuangan dan regulator terus mendorong peningkatan literasi keuangan agar investor muda mampu membedakan antara peluang investasi yang nyata dan sekadar hype sesaat.

Pendidikan mengenai manajemen risiko juga dianggap semakin penting mengingat semakin banyak pilihan investasi yang tersedia di pasar.

Fokus pada Tujuan Jangka Panjang

Salah satu perubahan paling mencolok dari pola pikir JOMO adalah fokus terhadap tujuan jangka panjang.

Alih-alih mengejar keuntungan cepat, banyak investor muda kini mulai membangun kebiasaan investasi secara konsisten. Mereka lebih memilih instrumen yang sesuai dengan kebutuhan keuangan pribadi dibanding mengejar aset yang sedang viral.

Pendekatan ini membantu investor mengurangi tekanan psikologis yang sering muncul ketika melihat orang lain tampak memperoleh keuntungan besar dalam waktu singkat.

Dengan memiliki tujuan yang jelas, investor cenderung lebih tenang menghadapi fluktuasi pasar dan tidak mudah panik saat terjadi penurunan harga.

Tanda Kedewasaan Finansial Gen Z

Munculnya tren JOMO menunjukkan bahwa Generasi Z mulai mengalami perubahan penting dalam cara mereka mengelola keuangan.

Jika sebelumnya investasi sering dipandang sebagai perlombaan untuk mendapatkan keuntungan tercepat, kini semakin banyak anak muda yang melihat investasi sebagai proses membangun masa depan secara bertahap dan berkelanjutan.

Perubahan tersebut menjadi kabar baik bagi perkembangan ekosistem investasi di Indonesia. Investor yang mengambil keputusan berdasarkan pemahaman dan tujuan yang jelas cenderung memiliki perilaku investasi yang lebih sehat dibanding mereka yang hanya mengikuti tren sesaat.

Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan untuk berkata “tidak” terhadap tren yang tidak sesuai kebutuhan justru menjadi salah satu keterampilan finansial paling berharga. Bagi banyak Gen Z, inilah esensi sebenarnya dari JOMO: tidak takut tertinggal, karena fokus pada tujuan yang memang ingin dicapai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *