💡 Teknologi

Ilmuwan Ungkap Bahwa Vulkanisme di Mars Jauh Lebih Kompleks: Erupsi Terjadi Berulang Kali

Jakarta — Para peneliti kini menemukan bahwa aktivitas vulkanik di Planet Mars jauh lebih dinamis dan kompleks dari yang selama ini diyakini. Bukti terbaru dari hasil studi ilmiah menunjukkan bahwa gunung-gunung berapi di Mars tidak terbentuk dari satu letusan tunggal saja, melainkan melalui beberapa fase erupsi berulang kali selama jutaan tahun. Temuan ini memberikan pandangan baru mengenai sejarah geologi dan proses internal yang terjadi jauh di bawah permukaan Planet Merah.

Selama ini, fenomena vulkanik di Mars sering dipahami sebagai hasil letusan besar yang terjadi dalam sekali peristiwa. Namun, riset terbaru justru menunjukkan bahwa struktur vulkanik tersebut mencerminkan sebuah sistem magma yang aktif dalam jangka panjang — dengan fase letusan yang berbeda dan perubahan komposisi kimia magma seiring waktu.

Sistem Magma yang Evolutif di Mars

Para ilmuwan internasional yang tergabung dalam tim penelitian internasional menggunakan data pencitraan orbital beresolusi tinggi dan analisis mineral untuk membedah sejarah vulkanisme Mars. Fokus studi ini adalah wilayah vulkanik yang terletak di selatan Pavonis Mons, salah satu gunung berapi terbesar di Mars.

Pavonis Mons merupakan bagian dari wilayah “Tharsis” — sebuah kawasan luas dengan sejumlah gunung berapi raksasa yang menjadi bukti kuat bahwa Mars pernah mengalami aktivitas geologi yang intens. Namun, studi ini menemukan hal yang lebih mendalam: magma di bawah Pavonis Mons tidak langsung naik dan meletus dalam satu kejadian tunggal. Sebaliknya, magma mengalami perubahan letusan berulang kali, yang masing-masing meninggalkan jejak mineral yang berbeda pada lapisan lava di permukaan.

Doktor Bartosz Pieterek dari Adam Mickiewicz University menjelaskan bahwa fase letusan itu merupakan bagian dari evolusi yang jauh lebih panjang pada sistem magma yang mendasari Pavonis Mons. Menurutnya, magma tidak muncul seketika di permukaan, tetapi mengalami perpindahan, perubahan komposisi kimia, dan akumulasi dalam reservoir bawah tanah sebelum akhirnya meletus.

“Temuan kami menunjukkan bahwa gunung berapi tersebut tidak hanya meletus sekali dan selesai. Aktivitasnya berubah sepanjang waktu seiring kondisi di bawah permukaan berubah,” ujar Pieterek dalam sebuah pernyataan.

Mineral Sebagai Jejak Aktivitas Vulkanik Masa Lalu

Salah satu hal penting yang menguatkan hasil studi ini adalah perbedaan komposisi mineral pada lapisan lava yang berbeda. Variasi ini mencerminkan pergeseran dalam kondisi fisik dan kimia magma di bawah permukaan Mars. Mineral-mineral yang terbentuk pada fase letusan awal berbeda dengan yang terbentuk pada fase berikutnya, menunjukkan bahwa magma itu pun berevolusi seiring berjalannya waktu.

Karena para ilmuwan belum bisa langsung mengambil sampel batuan dari lokasi vulkanik Mars secara fisik, pendekatan analisis berbasis data orbital sangat penting. Citra dan spektrum mineral yang diambil dari orbit memungkinkan ilmuwan memahami bagaimana magma bergerak dan berubah di dalam tubuh planet, meskipun tanpa misi pendaratan langsung di permukaan.

Dampak Penelitian terhadap Pemahaman Geologi Mars

Penelitian ini terutama dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Geology, yang merupakan salah satu publikasi terkemuka dalam ilmu geologi dan planetologi. Hasilnya menunjukkan bahwa interior Mars tetap aktif dalam skala waktu geologi yang luas, bahkan di periode vulkanik “terbaru” yang relatif muda menurut standar planet.

Ilmuwan juga menemukan bahwa fase awal aktivitas vulkanik di Mars ditandai dengan aliran lava luas yang berasal dari retakan di permukaan, sementara fase berikutnya menunjukkan erupsi dari satu titik ventilasi utama yang membentuk fitur mirip kerucut atau gunung kecil. Perbedaan pola aktivitas ini juga mengisyaratkan perubahan karakter magma dan tekanan di bawah permukaan Mars.

Signifikansi dan Arah Penelitian Selanjutnya

Temuan ini tidak hanya memperkaya pengetahuan tentang sejarah vulkanisme Mars, tetapi juga menjadi acuan penting bagi penelitian geologi planet terestrial lainnya — seperti Bulan, Venus, dan bahkan Bumi. Dengan memahami bagaimana magma berevolusi dan meletus secara berulang di Mars, para ilmuwan dapat membandingkan proses vulkanik di berbagai lingkungan planet.

Para peneliti berharap bahwa kemajuan teknologi pencitraan dan misi pengorbit masa depan akan terus menyediakan data lebih kaya, sehingga mereka dapat menelusuri sistem magma fosil di Mars dengan lebih rinci dan menyeluruh. Studi ini menegaskan bahwa Planet Merah menyimpan banyak misteri geologi yang masih menunggu untuk diungkap

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *