💡 Teknologi

PMI Kota Mojokerto Perkuat Layanan Kemanusiaan Berbasis Teknologi Informasi

Mojokerto, Jawa Timur — Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Mojokerto menegaskan komitmennya dalam menguatkan layanan kemanusiaan melalui adaptasi teknologi informasi. Transformasi ini dipandang penting untuk merespons dinamika zaman dan kebutuhan masyarakat yang makin kompleks, terutama di sektor layanan darah dan tanggap darurat. Strategi baru ini menjadi fokus utama dalam Musyawarah Kerja (Musker) II PMI Kota Mojokerto yang digelar di Aula Kantor PMI Kota Mojokerto pada Sabtu, 14 Februari 2026.

Wali Kota Mojokerto sekaligus Ketua PMI Kota Mojokerto, Ika Puspitasari, menekankan bahwa tugas PMI bukan hanya sekadar menjalankan program rutin, tetapi juga terus memperbarui pendekatan layanan agar lebih cepat, efisien, dan akurat. Dalam forum tersebut, Ning Ita — sapaan akrabnya — menyampaikan bahwa teknologi informasi saat ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari semua sektor kehidupan, termasuk pelayanan kemanusiaan.


Bangun Pelayanan Responsif di Tengah Perubahan Zaman

Menurut Ika Puspitasari, tugas PMI adalah tugas kemanusiaan. Oleh karena itu, segala bentuk inovasi perlu diarahkan untuk memaksimalkan dampak yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat. Di era digital seperti sekarang, layanan berbasis teknologi dianggap menjadi elemen utama dalam memastikan bahwa proses pelayanan berjalan cepat, terukur, dan sesuai kebutuhan di lapangan.

“Teknologi informasi saat ini menjadi bagian tak terpisahkan dari seluruh sektor kehidupan. Oleh karena itu, PMI juga harus mampu mengikuti perkembangan zaman agar pelayanan kepada masyarakat tetap terukur dan responsif,” ujarnya.

Pendekatan ini bukan hanya berfokus pada penggunaan aplikasi atau sistem digital semata, tetapi juga mencakup seluruh rantai layanan PMI — mulai dari stok darah, distribusi stok secara cepat ke daerah yang membutuhkan, hingga layanan ambulans darurat 24 jam penuh.


Pencapaian Layanan PMI Kota Mojokerto Tahun 2025

Laporan yang dipaparkan pada Musker II menunjukkan sejumlah capaian layanan PMI sepanjang tahun 2025 yang patut diapresiasi. Di antara pencapaian itu adalah:

1. Layanan Darah Menyeluruh

PMI Kota Mojokerto tercatat berhasil melayani lebih dari 18.422 kantong darah pada periode 2025. Angka ini menunjukkan peningkatan efektivitas dalam pengelolaan stok darah, koordinasi dengan donor sukarela, hingga distribusi ke rumah sakit serta fasilitas kesehatan yang memerlukan. Tidak hanya melayani kebutuhan domestik Kota Mojokerto, layanan PMI juga mendukung daerah penyangga seperti Kabupaten Mojokerto, Sidoarjo, Gresik, Surabaya, hingga Malang.

Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa PMI dapat berfungsi sebagai pusat layanan darah yang mampu memenuhi kebutuhan tidak hanya dalam satu wilayah administratif, tetapi juga bekerja sama dengan berbagai pihak di tingkat regional untuk memastikan ketersediaan darah.

2. Respons Layanan Ambulans Darurat

Selain soal darah, layanan ambulans juga menjadi sorotan prestasi PMI Kota Mojokerto di tahun sebelumnya. Tim relawan PMI merespons hingga 1.668 panggilan darurat sepanjang 2025, yang tersebar sepanjang tahun, dalam sistem layanan 24 jam yang siap membantu kapan pun dibutuhkan.

Dalam angka tersebut, total 2.073 jiwa tercatat menerima manfaat dari berbagai layanan kemanusiaan yang tidak hanya terbatas pada ambulans saja, tetapi juga jaringan relawan yang bergerak di sektor lain seperti evakuasi, pertolongan pertama, dan dukungan logistik pada peristiwa sosial atau bencana.

Angka ini menunjukkan bahwa PMI tidak hanya bergerak secara reaktif, tetapi juga bersinergi dengan masyarakat untuk memberikan layanan yang holistik, termasuk dalam penanganan kondisi darurat yang memerlukan respon cepat dengan koordinasi antar lembaga.


Rencana Strategis 2026–2029: Klinik Pratama PMI

Melihat tren perkembangan layanan dan kebutuhan masyarakat, PMI Kota Mojokerto juga merencanakan pengembangan sarana dan prasarana baru sebagai bagian dari strategi jangka menengah hingga panjang. Salah satu rencana strategis yang tengah digodok adalah pendirian Klinik Pratama PMI Kota Mojokerto.

Klinik tersebut diharapkan menjadi fasilitas layanan kesehatan tingkat pertama yang dapat melayani warga baik untuk keperluan konsultasi, pemeriksaan rutin, maupun layanan medis dasar lainnya. Lokasi markas PMI yang berada di pusat kota dinilai sangat strategis karena dekat dengan pusat perekonomian dan akses transportasi, sehingga layanan kesehatan dapat diakses dengan mudah oleh warga kota maupun pelintas dari kabupaten tetangga.

Rencana pendirian klinik ini menunjukkan kesiapan PMI untuk bergerak lebih jauh dalam memberikan layanan kesehatan yang tidak hanya bersifat darurat, namun juga preventif dan rutin, yang relevan dengan tumbuhnya kebutuhan masyarakat dalam menghadapi dinamika kesehatan publik pascapandemi.


Musyawarah Kerja II: Forum Perumusan Kebijakan

Musyawarah Kerja II PMI Kota Mojokerto juga dimanfaatkan sebagai wahana untuk mengevaluasi kegiatan dan program yang telah dilaksanakan sebelumnya. Forum ini menjadi momen penting untuk melakukan evaluasi terhadap kinerja organisasi, sekaligus menyusun Rencana Anggaran Biaya (RAB) tahun berjalan serta merumuskan kebijakan strategis untuk masa depan.

Menurut Sekretaris PMI Kota Mojokerto, Ayuhannafiq, forum Musker ini sangat krusial karena membahas tiga poin utama yang menjadi landasan pengembangan organisasi:

  1. Evaluasi kegiatan dan pelaksanaan program tahun sebelumnya,
  2. Penetapan RAB tahun berjalan,
  3. Perumusan kebijakan strategis organisasi ke depan.

Program kerja yang disusun dalam Musker diharapkan dapat memberikan arah strategis yang jelas terhadap peran PMI di tengah masyarakat, baik saat terjadi bencana maupun dalam pelayanan rutin masyarakat yang membutuhkan dukungan kemanusiaan.


Peran Teknologi dalam Layanan Kemanusiaan

Adaptasi teknologi informasi dalam layanan kemanusiaan bukan sekadar tren modern, tetapi menjadi kebutuhan operasional yang nyata. Dalam era digital, penggunaan teknologi terbukti membantu mempercepat respon layanan, memperkuat koordinasi data, serta meningkatkan akurasi informasi yang penting dalam situasi kritis.

Misalnya, teknologi dapat membantu dalam:

  • Pengelolaan stok darah secara real time, sehingga donor dan permintaan darah dapat dipetakan lebih efektif,
  • Monitoring layanan ambulans secara digital, memudahkan relawan dan petugas untuk menavigasi lokasi darurat,
  • Sistem pelaporan respon darurat berbasis aplikasi, memberi akses cepat bagi masyarakat untuk meminta pertolongan.

Transformasi layanan berbasis teknologi semacam ini juga menjadikan PMI sebagai organisasi yang lebih siap menghadapi tantangan global, termasuk aspek layanan publik yang mengutamakan kecepatan, akurasi, dan transparansi data dalam situasi genting.


Dampak Sosial Layanan PMI bagi Masyarakat

Komitmen PMI untuk memperkuat layanan berbasis teknologi tidak hanya membawa manfaat administratif, tetapi juga berdampak sosial yang luas. Disamping menyediakan layanan darah dan ambulans yang responsif, langkah ini juga memberikan rasa aman dan kepercayaan kepada masyarakat bahwa setiap panggilan darurat akan ditangani dengan profesional.

Peningkatan kapasitas layanan PMI juga membantu memperluas jaringan kemanusian antar lembaga di wilayah Jawa Timur dan sekitarnya. Kerja sama antara PMI dengan dinas kesehatan, instansi pemerintah daerah, serta lembaga kemanusiaan lain memudahkan koordinasi saat terjadi krisis atau kebutuhan layanan bersama.

Komitmen ini turut mendukung pembentukan komunitas resilient — masyarakat yang mampu menghadapi tantangan sosial dan kesehatan secara bersama, terutama dalam situasi yang penuh ketidakpastian.


Kesimpulan

PMI Kota Mojokerto menunjukkan komitmen kuat dalam memperkuat layanan kemanusiaan melalui pengembangan layanan berbasis teknologi informasi. Dengan pencapaian layanan darah yang besar, respon ambulans yang responsif sepanjang tahun 2025, serta rencana strategis pendirian Klinik Pratama PMI, organisasi kemanusiaan ini terus memperluas cakupan manfaatnya bagi masyarakat di Kota Mojokerto dan regional sekitarnya.

Musyawarah Kerja II menjadi momentum penting bagi PMI untuk mengevaluasi kinerja, menyusun rencana kerja lebih terperinci, serta memastikan strategi layanan berbasis teknologi dijalankan secara efektif. Langkah ini menunjukkan kesiapan PMI dalam menghadapi tantangan zaman dan memperkuat perannya sebagai garda terdepan layanan kemanusiaan tingkat lokal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *