đź’ˇ Teknologi

Batas Tektonik Afrika dan Asia Perlahan Menjauh, Apa yang Terjadi?

Jakarta — Ilmuwan geologi menemukan bahwa batas tektonik antara benua Afrika dan Asia (Plate Arab) masih mengalami pergeseran atau “menjauh” meskipun sangat perlahan. Proses ini penting dalam kajian tektonik karena bisa berdampak besar dalam jangka waktu jutaan tahun, termasuk potensi terbentuknya celah daratan baru.

Apa Itu Batas Tektonik Divergen?

Pergerakan lempeng tektonik yang saling menjauh dikenal sebagai batas divergen. Pada zona divergen, magma dari dalam Bumi dapat naik dan membentuk kerak baru — fenomena yang berpotensi menciptakan rift, lembah, atau bahkan samudra kecil baru dalam jangka geologis.
Dalam konteks Afrika-Asia, lempeng Arab secara perlahan menjauh dari lempeng Afrika, terutama di wilayah timur laut Afrika dan Semenanjung Arab.


Penelitian Terbaru: Afrika dan Arab Masih Berpisah

Penelitian ilmiah menyebut bahwa pergeseran antara lempeng Afrika dan lempeng Arab belum sepenuhnya berhenti. Data geologi menunjukkan bahwa rift di sepanjang Selat Suez (Gulf of Suez) terus melebar, walaupun kecepatan pergerakannya sangat kecil: hanya sekitar 0,5 mm per tahun menurut studi geofisika terbaru.
Menurut para ahli, rifting (pemecahan lempeng) ini tidak benar-benar “mati”, tetapi melambat dari kecepatan sebelumnya. Kondisi seperti ini menantang pemahaman konvensional bahwa rift hanya “aktif” atau “mati”: kenyataannya bisa berada dalam fase transisi yang lambat.


Superplume di Dalam Bumi: Dorongan Kuat dari Mantel

Salah satu faktor pendorong utama pemisahan tektonik ini adalah keberadaan superplume (gumpalan besar material panas) di bawah Afrika, terutama di wilayah Afar. Penelitian geofisika menunjukkan bahwa material panas dari mantel Bumi secara periodik naik ke arah kerak bumi dan mendorong lempeng-lempeng di atasnya untuk menjauh.
Superplume ini tidak hanya memberikan dorongan kuat, tetapi juga struktur kimia tertentu yang memungkinkan para ilmuwan memetakan dampak jangka panjang pada batas lempeng.


Implikasi Jangka Panjang: Samudra Baru di Ujung Mata

Jika proses ini terus berlangsung, ada kemungkinan bahwa celah tektonik ini akan semakin melebar dan suatu saat bisa diliputi air laut, membentuk semacam samudra baru di antara benua yang terpisah.
Beberapa ahli bahkan memperkirakan bahwa pembentukan landscape seperti ini bisa memakan waktu 5 hingga 10 juta tahun atau lebih.
Selain itu, dengan terjadinya pemisahan lempeng, negara-negara bagian timur Afrika bisa mengalami perubahan geografis besar: potensi perubahan garis pantai dan risiko gempa pun meningkat.


Risiko Geologis dan Potensi Gempa

Pergerakan lempeng ini tidak selalu bersifat damai. Zona rift cenderung menjadi area rentan gempa karena lempeng terus “ditarik” dan tekanan dalam mantel meningkat.
Di samping itu, formasi rift yang semakin aktif dapat membuka peluang aktivitas vulkanik jika magma terus naik ke permukaan bumi. Hal ini dapat menjadi tantangan bagi penduduk lokal dan arsitektur lingkungan jangka panjang.


Perspektif Ilmiah dan Masa Depan

  1. Pemantauan Modern
    Dengan teknologi modern seperti GPS dan pemantauan seismik, para ilmuwan dapat melihat pergerakan mikromilimeter tiap tahun. Ini memberikan wawasan nyata bahwa Bumi kita masih aktif secara geologis.
  2. Model Geodinamik
    Studi terkini mencoba memodelkan dinamika superplume dan interaksinya dengan lempeng lepas. Model ini dapat memperkirakan kecepatan pemisahan dan potensi pembentukan cekungan laut di masa depan.
  3. Edukasi Publik
    Mengetahui bahwa benua kita “hidup” dan berubah secara perlahan bisa menjadi pelajaran penting bagi generasi muda: bumi bukanlah struktur statis melainkan sistem dinamis.

Kesimpulan

Fenomena tektonik antara benua Afrika dan Asia menunjukkan bahwa lempeng-lempeng besar di bawah kaki kita masih bergerak meski sangat lambat. Superplume di dalam mantel bumi dan batas divergen membuat “retakan” antara lempeng Afrika dan Arab tetap aktif dan melebar.

Dalam skala jutaan tahun, proses ini bisa berujung pada pembentukan samudra baru dan pemisahan daratan benua, tetapi juga membawa risiko geologis seperti gempa dan aktivitas vulkanik. Studi ilmiah dan pemantauan masa depan akan sangat penting untuk memahami dampak jangka panjang dari pergeseran tektonik ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *