Mahasiswa UMS Kreasikan Inovasi Herbal Berbasis Sains dari Kulit Manggis, Raih Medali Emas di Kompetisi Internasional AISEEF 2026
Prestasi akademik dan inovasi berbasis sains kembali dicatat oleh Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Dalam kompetisi ASEAN Innovative Science Environmental and Entrepreneur Fair (AISEEF) 2026, tim mahasiswa UMS berhasil menyabet medali emas melalui karya riset inovatif yang memanfaatkan kulit buah manggis sebagai solusi anti-inflamasi alami.
Ajang AISEEF 2026 berlangsung selama beberapa hari pada tanggal 9 hingga 12 Februari 2026, di mana para peserta dari berbagai negara Asia Tenggara berkompetisi menampilkan inovasi ilmiah dan solusi teknologi yang bermanfaat bagi masyarakat luas. UMS mengirim sejumlah tim, dan salah satu yang mencuri perhatian adalah Tim Dehan — yang menempuh riset berbasis ilmu herbal modern dengan pendekatan farmasetika terukur.
Tim Dehan: Kreasi Herbal Berbasis Sains
Tim Dehan terdiri dari enam mahasiswa yang dipimpin oleh Dani Hendrawan, bersama rekan-rekannya Hanifa Aulia Khoirunnisa, Bella Fitria Anggraini, Muhammad Elzam Dwi Fahrudin, Srigita Hayyu Ghaitsa, dan Atha Salwa Imtiyaz. Seluruh anggota tim berasal dari disiplin ilmu yang mendukung penelitian ilmiah tersebut. Mereka didampingi oleh salah satu dosen dari Program Studi Farmasi UMS, Suprapto, S.Si., Apt., M.Sc.
Karya yang dikembangkan tim ini berjudul:
“Formulation and Evaluation of Mangosteen Peel Extract Capsules as an Anti-Inflammatory Agent With Variations in Amprotab Concentration as a Disintegrant.” Judul tersebut mencerminkan fokus penelitian pada pemanfaatan kulit manggis — yang lazimnya dianggap limbah — menjadi bahan kapsul anti-inflamasi berkualitas tinggi serta aman jika dikonsumsi.
Latar Belakang Riset: Alternatif Herbal yang Lebih Aman
Menurut penuturan ketua tim, ide penelitian ini bermula dari kekhawatiran akan efek jangka panjang obat anti-inflamasi nonsteroid (OAINS) yang seringkali memberikan dampak negatif pada sistem pencernaan jika dikonsumsi secara terus-menerus. Oleh karena itu, tim Dehan memilih untuk mengeksplorasi potensi kulit manggis — yang dikenal kaya akan senyawa xanthone — sebagai alternatif alami yang memiliki fungsi anti-peradangan.
Kulit manggis memiliki sejarah panjang dalam pengobatan tradisional. Senyawa xanthone yang terkandung di dalamnya telah diteliti memiliki aktivitas antioksidan dan anti-inflamasi, sehingga menjadikannya kandidat unggulan bagi para peneliti yang ingin menciptakan solusi medis berbasis bahan alam. Metode ilmiah profesional pun diterapkan untuk mengekstraksi dan memformulasi bahan aktif tersebut ke dalam bentuk kapsul yang efektif.
Rekayasa Formulasi Kapsul yang Optimal
Lebih dari sekadar memilih bahan baku yang tepat, tim ini juga menerapkan pharmaceutical engineering atau teknik farmasetika untuk memformulasikan ekstrak kulit manggis menjadi seri kapsul. Salah satu elemen penting dalam penelitian ini adalah penggunaan Amprotab sebagai disintegran untuk memastikan kapsul dapat larut dengan cepat setelah dikonsumsi, sehingga senyawa aktif segera bekerja di dalam tubuh. Mereka menguji variasi konsentrasi Amprotab untuk menemukan komposisi paling optimal.
Proses ini tidak hanya menuntut ketelitian di laboratorium, tetapi juga pemahaman mendalam tentang bagaimana formulasi dapat memengaruhi kinerja kapsul secara keseluruhan. Kinerja disintegrasi yang cepat menjadi titik perhatian utama agar tubuh dapat menyerap zat aktif dengan lebih mudah dan efektif.
Momen Puncak di Kompetisi Internasional
Prestasi ini diraih setelah tim Dehan mempresentasikan hasil penelitian mereka di hadapan para juri kompetisi AISEEF 2026. Presentasi tersebut tidak hanya memukau audiens, tetapi juga menarik perhatian salah satu pakar sensori internasional, Dr. Ing. Dase Hunaefi, S.T.P., M.Food.St., dari Institut Pertanian Bogor.
Kesan positif dari Dr. Hunaefi bukan hanya berupa pujian semata, tetapi juga diikuti dengan tawaran peluang kolaborasi. Ia secara simbolis memberikan kartu nama kepada tim Dehan sebagai bentuk apresiasi dan membuka kemungkinan untuk mengembangkan produk riset tersebut hingga tahap uji sensori profesional.
Menurut Dani, pengalaman tersebut merupakan salah satu momen paling berkesan selama ajang kompetisi. Selain mendapatkan penghargaan, tim Dehan juga mendapatkan wawasan dan hubungan baru yang dapat memperluas potensi penerapan hasil karya mereka di masa mendatang.
Dampak Luas dan Potensi Pengembangan
Keberhasilan tim ini tidak hanya menjadi kebanggaan tersendiri bagi UMS, tetapi juga menunjukkan bahwa mahasiswa Indonesia mampu bersaing di tingkat internasional dengan gagasan yang berdasar pada pendekatan ilmiah yang kuat. Prestasi ini mencerminkan kemampuan generasi muda dalam menerjemahkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menciptakan solusi nyata bagi masalah kesehatan masyarakat.
Dosen pembimbing, Suprapto, turut menyampaikan apresiasi atas keberhasilan tim Dehan. Menurutnya, karya ini bukan sekadar prestasi kompetisi, tetapi juga menjadi landasan untuk kemungkinan pengembangan produk hingga ke tahap hilirisasi dan komersialisasi di industri kesehatan. Ia berharap inovasi ini dapat turut berkontribusi pada kemajuan produk herbal Indonesia di pasar global.
Kemenangan tim Dehan juga memperkuat citra Universitas Muhammadiyah Surakarta sebagai perguruan tinggi yang aktif dalam memfasilitasi riset berbasis sains dan inovasi, sehingga mahasiswa punya ruang nyata untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus membawa nama Indonesia lebih harum di panggung internasional.

