Sering Sulit Tidur? Studi Ungkap Kebiasaan Malam yang Berkaitan dengan Otak Lebih Cepat Tua
Tidur sering dianggap sekadar waktu bagi tubuh untuk beristirahat setelah menjalani aktivitas sehari-hari. Padahal, kualitas tidur juga berhubungan erat dengan kesehatan otak. Sebuah penelitian menemukan bahwa kebiasaan tidur buruk dan penuaan otak memiliki hubungan yang patut diperhatikan, terutama ketika masalah tidur terjadi secara terus-menerus sejak usia paruh baya.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Neurology tersebut mengamati 589 orang dengan usia rata-rata sekitar 40 tahun pada awal penelitian.
Hasilnya cukup menarik. Peserta yang mengalami dua hingga tiga karakteristik tidur buruk memiliki usia otak rata-rata sekitar 1,6 tahun lebih tua dibandingkan mereka yang hanya mengalami nol hingga satu masalah tidur.
Sementara itu, mereka yang memiliki lebih dari tiga karakteristik tidur buruk menunjukkan usia otak rata-rata sekitar 2,6 tahun lebih tua.
Meski demikian, hasil ini bukan berarti seseorang yang sulit tidur otomatis membuat otaknya menua beberapa tahun lebih cepat. Para peneliti menegaskan bahwa penelitian tersebut menemukan hubungan atau asosiasi, bukan membuktikan hubungan sebab-akibat.
Peneliti Mengikuti Kondisi Tidur Selama Bertahun-tahun
Penelitian tersebut menggunakan data dari studi Coronary Artery Risk Development in Young Adults atau CARDIA.
Sebanyak 589 peserta, dengan rata-rata usia 40,4 tahun dan sekitar 53 persen di antaranya perempuan, memberikan informasi mengenai pola tidur mereka. Kondisi tidur kembali dievaluasi lima tahun kemudian.
Lima belas tahun setelah pengukuran awal, peserta menjalani pemindaian otak menggunakan MRI.
Peneliti kemudian menggunakan pendekatan berbasis machine learning untuk memperkirakan āusia otakā berdasarkan pola perubahan struktur dan atrofi yang biasanya berkaitan dengan bertambahnya usia.
Dengan metode tersebut, peneliti dapat membandingkan usia kronologis peserta dengan gambaran usia otaknya.
Sederhananya, seseorang mungkin secara kalender berusia 55 tahun, tetapi karakteristik struktural otaknya dapat menyerupai rata-rata otak orang yang lebih muda atau lebih tua.
Kebiasaan Tidur Buruk Apa Saja yang Diteliti?
Peneliti tidak hanya melihat berapa jam peserta tidur. Ada enam karakteristik tidur yang menjadi perhatian.
Masalah tersebut meliputi durasi tidur pendek, kualitas tidur yang buruk, sulit mulai tertidur, sering terbangun dan sulit tidur kembali, bangun terlalu pagi, serta rasa mengantuk pada siang hari.
Durasi tidur pendek dalam penelitian ini didefinisikan sebagai tidur kurang dari enam jam.
Setelah menghitung jumlah masalah yang dialami, peserta dibagi menjadi tiga kelompok: mereka yang memiliki nol hingga satu karakteristik tidur buruk, dua hingga tiga masalah, dan lebih dari tiga masalah.
Sekitar 69 persen peserta berada dalam kelompok nol hingga satu masalah tidur. Sekitar 22 persen mengalami dua hingga tiga masalah, sedangkan sekitar 8 persen mengalami lebih dari tiga karakteristik tidur buruk.
Sulit Tidur hingga Sering Terbangun Patut Diperhatikan
Dari berbagai karakteristik tersebut, sejumlah masalah menunjukkan hubungan lebih jelas dengan usia otak yang lebih tinggi.
Kualitas tidur yang buruk, kesulitan untuk mulai tertidur, kesulitan mempertahankan tidur sepanjang malam, serta kebiasaan bangun terlalu pagi dikaitkan dengan usia otak yang lebih tua.
Hubungan tersebut terlihat lebih kuat ketika masalah tidur bertahan selama periode lima tahun.
Temuan ini menjadi pengingat bahwa kualitas tidur tidak hanya diukur dari lamanya seseorang berada di tempat tidur.
Seseorang bisa saja berada di kasur selama delapan jam, tetapi apabila berkali-kali terbangun atau membutuhkan waktu lama untuk tertidur, tidur yang diperoleh belum tentu memiliki kualitas optimal.
Menariknya, tidur kurang dari enam jam memang termasuk salah satu karakteristik yang diamati, tetapi ketika dianalisis secara individual dalam penelitian tersebut, durasi tidur pendek tidak menunjukkan hubungan statistik yang signifikan dengan usia otak setelah berbagai faktor lain diperhitungkan.
Karena itu, hasil penelitian tidak tepat jika disederhanakan menjadi ākurang tidur pasti membuat otak cepat tuaā.
Apa yang Dimaksud dengan Otak Lebih Tua?
Istilah āusia otakā dalam penelitian tidak berarti otak benar-benar mengalami pertambahan usia secara terpisah dari tubuh.
Usia otak merupakan ukuran yang diperoleh dengan membandingkan karakteristik MRI seseorang dengan pola perubahan otak yang biasanya muncul seiring bertambahnya usia.
Apabila hasil pemindaian terlihat lebih menyerupai kondisi otak orang yang lebih tua, peneliti menyebutnya sebagai usia otak yang lebih tinggi.
Pendekatan tersebut digunakan untuk membantu ilmuwan mempelajari kesehatan otak jauh sebelum seseorang menunjukkan gangguan kognitif yang jelas.
Penulis penelitian, Clémence Cavaillès dari University of California San Francisco, mengatakan temuan mereka menunjukkan bahwa masalah tidur berkaitan dengan tanda penuaan otak yang sudah dapat terlihat pada usia paruh baya.
Studi Lain Juga Menemukan Hubungan Serupa
Penelitian yang lebih besar kemudian memberikan hasil yang sejalan.
Studi tahun 2025 yang melibatkan 27.500 peserta UK Biobank menilai sejumlah aspek tidur, termasuk durasi, insomnia, mendengkur, rasa mengantuk berlebihan pada siang hari, serta kecenderungan waktu tidur.
Penelitian tersebut menemukan bahwa pola tidur yang lebih buruk berkaitan dengan usia otak yang lebih tinggi berdasarkan hasil MRI.
Dalam penelitian itu, setiap penurunan satu poin pada skor tidur sehat dikaitkan dengan selisih usia otak sekitar 0,48 tahun lebih tinggi. Para peneliti juga menemukan bahwa inflamasi sistemik mungkin menjelaskan sebagian hubungan antara tidur buruk dan usia otak.
Sekali lagi, penelitian observasional tersebut tidak membuktikan bahwa tidur buruk secara langsung menjadi penyebab tunggal penuaan otak.
Faktor kesehatan, gaya hidup, kondisi medis, stres, dan berbagai variabel lain juga dapat berperan.
Cara Menjaga Kualitas Tidur
Walaupun penelitian masih terus berkembang, menjaga kebiasaan tidur yang baik tetap merupakan bagian penting dari gaya hidup sehat.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) merekomendasikan orang dewasa usia 18ā60 tahun mendapatkan setidaknya tujuh jam tidur setiap malam. Namun, durasi bukan satu-satunya hal yang penting. Tidur yang tidak sering terputus dan membuat tubuh terasa segar setelah bangun juga menjadi bagian dari kualitas tidur yang sehat.
Beberapa kebiasaan sederhana dapat membantu. Tidur dan bangun pada waktu relatif sama setiap hari dapat menjaga jadwal tubuh lebih teratur. Kamar tidur juga sebaiknya dibuat tenang, nyaman, dan sejuk.
CDC menyarankan mematikan perangkat elektronik setidaknya sekitar 30 menit sebelum tidur, menghindari makanan dalam porsi besar dan alkohol menjelang waktu tidur, serta membatasi kafein pada sore atau malam hari. Aktivitas fisik secara teratur juga dapat mendukung kualitas tidur.
Jangan Abaikan Masalah Tidur yang Terus Berulang
Sesekali sulit tidur setelah menghadapi hari yang sibuk tentu tidak otomatis menunjukkan adanya masalah serius.
Hal yang lebih perlu mendapat perhatian adalah ketika sulit tidur, sering terbangun, bangun terlalu dini atau rasa lelah pada siang hari berlangsung terus-menerus dan mulai mengganggu aktivitas.
CDC menyarankan orang yang mengalami masalah tidur berkepanjangan untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Pada akhirnya, penelitian tersebut memberi alasan tambahan untuk tidak menganggap tidur sebagai waktu yang bisa terus-menerus dikorbankan.
Hubungan antara kebiasaan tidur buruk dan penuaan otak memang masih perlu dipelajari lebih jauh. Namun, bukti yang ada menunjukkan bahwa pola tidur pada usia paruh baya dapat berkaitan dengan kondisi otak bertahun-tahun kemudian.
Jadi, bukan hanya soal tidur lebih lama. Kemampuan untuk tertidur dengan baik, mempertahankan tidur sepanjang malam, dan bangun dalam kondisi cukup segar juga layak mendapat perhatian jika ingin menjaga kesehatan tubuh sekaligus otak hingga usia lanjut.

