Gaya Hidup

Pakar Harvard Sebut 10 Suplemen Populer Tak Selalu Dibutuhkan Tubuh

Tren konsumsi suplemen kesehatan terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Banyak orang mengonsumsi vitamin atau suplemen tambahan untuk menjaga daya tahan tubuh, meningkatkan energi, hingga memperbaiki kesehatan kulit dan pencernaan. Namun, pakar kesehatan dari Harvard mengingatkan bahwa tidak semua suplemen populer benar-benar diperlukan tubuh, terutama bagi orang yang sudah memiliki pola makan seimbang.

Ahli gizi dan peneliti kesehatan mencatat bahwa masyarakat sering mengonsumsi berbagai jenis suplemen secara rutin, bahkan dalam jumlah banyak setiap hari. Survei terhadap ribuan orang dewasa di Amerika Serikat menunjukkan sekitar setengah responden rutin mengonsumsi suplemen, sering kali dipengaruhi promosi di media sosial maupun rekomendasi influencer.

Profesor kedokteran dari Harvard Medical School, Dr. JoAnn Manson, menegaskan bahwa suplemen memang bermanfaat pada kondisi tertentu, seperti kehamilan atau kekurangan nutrisi. Namun bagi kebanyakan orang sehat, kebutuhan vitamin dan mineral seharusnya dapat dipenuhi melalui makanan sehari-hari. Ia juga mengingatkan bahwa suplemen bisa mengandung kontaminan, dosis berlebihan, atau berinteraksi dengan obat tertentu.

Multivitamin Tidak Selalu Diperlukan

Multivitamin menjadi salah satu suplemen paling populer karena banyak orang menganggapnya sebagai perlindungan tambahan bagi kesehatan. Padahal, para ahli menyebut sebagian besar orang dapat memenuhi kebutuhan nutrisi dari pola makan seimbang yang mencakup buah, sayur, biji-bijian, produk susu, serta sumber protein sehat.

Kelompok tertentu memang mungkin memerlukan tambahan multivitamin, seperti lansia, orang dengan diet sangat ketat, atau mereka yang mengalami gangguan penyerapan nutrisi. Namun bagi individu sehat, konsumsi rutin belum tentu memberikan manfaat signifikan.

Magnesium dan Probiotik Masih Minim Bukti

Suplemen magnesium kerap dipromosikan untuk membantu mengatasi insomnia, migrain, atau depresi. Meski demikian, para pakar menilai bukti ilmiah yang mendukung klaim tersebut masih terbatas. Mereka menyarankan masyarakat memperoleh magnesium dari makanan seperti biji labu, almond, bayam, kacang hitam, dan quinoa.

Hal serupa berlaku untuk suplemen probiotik dan prebiotik. Banyak produk mengklaim mampu meningkatkan kesehatan usus, tetapi bukti manfaatnya pada orang sehat masih lemah. Para ahli menyarankan konsumsi makanan fermentasi seperti yogurt, kefir, kimchi, atau miso serta makanan tinggi serat untuk menjaga kesehatan pencernaan.

Omega-3 Lebih Baik dari Ikan Asli

Minyak ikan atau suplemen omega-3 sering dikaitkan dengan kesehatan jantung. Namun penelitian menunjukkan manfaat tersebut tidak selalu sama ketika omega-3 dikonsumsi dalam bentuk suplemen.

Para pakar menilai konsumsi ikan secara langsung tetap menjadi pilihan terbaik. Mereka merekomendasikan makan ikan seperti salmon, sarden, atau makarel dua porsi per minggu untuk mendapatkan manfaat kesehatan jantung secara optimal.

Vitamin C Mudah Dipenuhi dari Makanan

Vitamin C dikenal luas sebagai suplemen peningkat daya tahan tubuh. Padahal, kebutuhan harian vitamin C relatif kecil dan mudah dipenuhi dari makanan sehari-hari.

Buah jeruk, kiwi, brokoli, dan paprika merah sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan vitamin C harian kebanyakan orang. Oleh karena itu, suplemen tambahan sering kali tidak diperlukan kecuali pada kondisi khusus.

Kolagen dan Vitamin B12 Perlu Disesuaikan Kondisi

Suplemen kolagen banyak dikonsumsi untuk mengurangi keriput atau menjaga kesehatan sendi. Namun bukti ilmiah terkait manfaat tersebut masih terbatas. Pakar kesehatan menekankan pentingnya menjaga asupan protein, vitamin C, serta mineral dari makanan alami, sekaligus menghindari kebiasaan merokok dan paparan matahari berlebih.

Sementara itu, vitamin B12 memang penting bagi tubuh, tetapi biasanya hanya diperlukan dalam bentuk suplemen pada kelompok tertentu, seperti vegan, lansia, atau orang dengan defisiensi nutrisi. Bagi orang sehat, kebutuhan B12 dapat dipenuhi dari ikan, daging, telur, susu, atau sereal yang difortifikasi.

Pilih Nutrisi dari Makanan Seimbang

Selain berbagai suplemen tersebut, pakar juga menyoroti produk serbuk campuran buah dan sayur yang dianggap praktis. Mereka menilai produk ini sering kali hanya menjadi versi mahal dari multivitamin, sementara konsumsi buah dan sayur segar jauh lebih efektif dan ekonomis.

Para ahli sepakat bahwa pendekatan terbaik untuk menjaga kesehatan tetap berasal dari pola makan seimbang, bukan dari konsumsi suplemen berlebihan. Suplemen sebaiknya digunakan hanya bila benar-benar diperlukan dan setelah berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *