Fakta vs Mitos🧠 Psikologi & Hubungan

Fakta vs Mitos: Benarkah Orientasi Seksual dan Identitas Gender (LGBT) adalah Penyakit yang Bisa Disembuhkan?

JAKARTA, 16 November 2025 — Pertanyaan mengenai apakah orientasi seksual dan identitas gender minoritas (sering disebut sebagai LGBT) adalah sebuah penyakit atau gangguan yang memerlukan penyembuhan masih sering muncul di tengah masyarakat. Perdebatan ini, yang sering dipicu oleh perbedaan pandangan agama, budaya, dan ilmiah, memerlukan jawaban yang tegas berdasarkan konsensus medis dan psikologis global.

Untuk memahami isu ini secara jernih, kita harus merujuk pada otoritas tertinggi dalam kesehatan global: Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan asosiasi psikologi terkemuka di dunia. Jawaban mereka telah secara konsisten menegaskan bahwa orientasi seksual dan identitas gender minoritas bukanlah patologi, melainkan variasi alami dari kondisi manusia.

Mitos 1: Homoseksualitas dan Biseksualitas Adalah Penyakit Mental

FAKTA: Homoseksualitas dan Biseksualitas bukanlah penyakit atau gangguan mental.

Poin Krusial: Deklarasi WHO (ICD).

Keputusan paling fundamental dalam sejarah kesehatan mental modern terjadi pada tahun 1990, ketika Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi menghapus homoseksualitas dari daftar klasifikasi penyakit mental internasional mereka (International Classification of Diseases/ICD). Keputusan ini didasarkan pada konsensus ilmiah dan psikologis global yang menyimpulkan bahwa orientasi seksual yang berbeda tidak berhubungan dengan masalah psikologis atau fungsi sosial yang terganggu.

Sebelumnya, pada tahun 1973, Asosiasi Psikiater Amerika (APA) juga telah menghapus homoseksualitas dari Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental (DSM).

Secara ilmiah, orientasi seksual (daya tarik romantis atau seksual seseorang terhadap jenis kelamin yang sama, berbeda, atau keduanya) diyakini terbentuk dari kombinasi faktor genetik, hormonal, dan lingkungan yang kompleks dan tidak dipengaruhi oleh pilihan sadar. Ini adalah bagian dari keragaman alami manusia.

Mitos 2: Identitas Transgender Adalah Bentuk Gangguan Jiwa

FAKTA: Identitas Transgender bukanlah gangguan jiwa.

Poin Krusial: Pembaruan ICD-11.

Pada Juni 2018, WHO menerbitkan ICD-11 (versi terbaru), yang secara resmi menghapus diskrepansi identitas gender (Transgender) dari bab “Gangguan Mental, Perilaku, atau Perkembangan Saraf.” Transgender kini diklasifikasikan dalam bab baru, yaitu “Kondisi Terkait Kesehatan Seksual” (Conditions Related to Sexual Health).

Perubahan ini sangat signifikan:

  • Depatologisasi: WHO menegaskan bahwa menjadi transgender bukanlah gangguan. Pengalaman ketidaksesuaian antara identitas gender dan jenis kelamin biologis saat lahir (gender incongruence) adalah kondisi yang sah dan alami.
  • Akses Kesehatan: Klasifikasi baru ini bertujuan untuk menghilangkan stigma sekaligus memastikan bahwa individu transgender yang membutuhkan intervensi medis (terapi hormon atau operasi penyesuaian gender) tetap dapat mengakses layanan kesehatan yang penting.

Mitos 3: Orientasi dan Identitas Gender Bisa Disembuhkan

FAKTA: Karena orientasi seksual dan identitas gender bukanlah penyakit, maka tidak ada yang perlu disembuhkan.

  • Terapi Konversi Ditolak WHO dan PBB: Praktik yang dikenal sebagai “terapi konversi” (upaya untuk mengubah orientasi atau identitas gender seseorang) telah ditolak dan dikutuk keras oleh WHO, PBB, dan asosiasi medis profesional di seluruh dunia. Praktik ini dinilai tidak efektif, tidak ilmiah, dan justru sangat berbahaya karena menyebabkan trauma psikologis serius, depresi, kecemasan, dan peningkatan risiko bunuh diri.
  • Fokus pada Penerimaan: Dalam konteks kesehatan mental, jika seseorang mengalami stres atau depresi terkait orientasi atau identitasnya, masalahnya bukan pada orientasinya, melainkan pada stigma, diskriminasi, dan penolakan sosial yang mereka hadapi. Perawatan yang tepat berfokus pada terapi untuk membantu individu tersebut mengatasi stigma dan mencapai penerimaan diri yang sehat.

Kesimpulan Ilmiah: Berdasarkan konsensus otoritas kesehatan global, orientasi seksual (Lesbian, Gay, Biseksual) dan identitas gender (Transgender) adalah variasi alami dari kondisi manusia dan bukanlah penyakit. Tidak ada dasar ilmiah untuk mengklaim bahwa hal tersebut bisa atau perlu disembuhkan. Upaya kesehatan mental harus difokuskan pada melawan stigma dan diskriminasi, bukan pada upaya mengubah siapa seseorang itu.

Related KeywordsLGBT penyakit, terapi konversi, WHO ICD, identitas transgender, orientasi seksual, kesehatan mental LGBT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *