Benarkah Melihat Gerhana Bikin Mata Rusak? Membedah Fakta Ilmiah dan Mitos Kebutaan Total
JAKARTA, kilasjurnal.id – Setiap kali fenomena Gerhana Matahari terjadi, selalu muncul peringatan masif dari berbagai pihak, bahkan mitos turun-temurun, yang melarang keras melihat peristiwa tersebut secara langsung. Kekhawatiran utama adalah risiko kebutaan permanen. Pertanyaannya, seberapa besar kebenaran ilmiah di balik peringatan ini? Apakah melihat gerhana, terutama pada fase parsial, benar-benar dapat menyebabkan kerusakan mata seketika?
Untuk menjawabnya, kita perlu memahami mekanisme bahaya sinar matahari dan apa yang sesungguhnya terjadi pada mata saat ia terpapar cahaya intens.
☀️ Mitos 1: Gerhana Memiliki Sinar yang Lebih Berbahaya daripada Matahari Normal
Mitos: Pada saat gerhana, sinar matahari mengeluarkan radiasi atau gelombang cahaya khusus yang lebih berbahaya atau beracun daripada sinar matahari biasa, sehingga dapat merusak mata secara langsung.
Fakta: Secara ilmiah, radiasi sinar matahari (termasuk sinar Ultraviolet/UV dan Infrared/IR) yang dipancarkan saat gerhana sama intens dan berbahayanya dengan radiasi pada hari normal. Gerhana tidak menciptakan sinar baru yang ‘beracun’.
Fakta bahayanya terletak pada mekanisme refleks tubuh kita yang hilang. Pada hari biasa, intensitas cahaya Matahari sangat tinggi sehingga secara otomatis kita akan menyipitkan mata, mengalihkan pandangan, atau mencari tempat teduh (refleks aversive). Refleks ini melindungi mata dari paparan berlebihan.
Saat gerhana parsial, bulan menutupi sebagian besar Matahari, membuat cahaya yang sampai ke bumi terasa redup. Karena terasa redup, refleks alami kita untuk menghindar menjadi tumpul atau hilang sama sekali. Kita cenderung menatapnya dalam waktu lama, dan saat itulah radiasi UV dan IR yang tersisa—yang tetap intens—masuk tanpa filter ke retina.
🔬 Fakta Ilmiah: Bahaya Retinopati Surya
Kerusakan mata permanen yang disebabkan oleh paparan langsung sinar Matahari disebut Retinopati Surya (Solar Retinopathy). Ini adalah fakta medis yang tak terbantahkan.
Mekanisme kerusakannya adalah sebagai berikut:
- Fokus pada Makula: Mata kita, seperti lensa kamera, memfokuskan cahaya intens ke satu titik di bagian belakang retina yang disebut makula. Makula bertanggung jawab atas penglihatan detail dan warna.
- Kerusakan Termal dan Fotokimia: Radiasi UV dan IR yang tidak terhalang (karena kita tidak menyipitkan mata saat gerhana parsial) memicu reaksi fotokimia dan termal (panas) di sel-sel fotoreseptor makula.
- Luka Bakar: Paparan yang berkelanjutan secara efektif dapat “membakar” atau merusak sel-sel di makula. Karena sel-sel fotoreseptor ini tidak memiliki kemampuan beregenerasi, kerusakan yang terjadi bisa permanen.
- Dampak Visual: Korban retinopati surya tidak akan menjadi buta total, melainkan mengalami skotoma—adanya bintik hitam permanen di tengah bidang pandang, distorsi penglihatan, atau penurunan ketajaman visual sentral.
👓 Mitos 2: Kacamata Hitam Biasa Cukup Aman untuk Melihat Gerhana
Mitos: Kacamata hitam (sunglasses) biasa, terutama yang memiliki label UV-protection, sudah cukup aman untuk melindungi mata saat melihat gerhana.
Fakta: Ini adalah mitos yang sangat berbahaya. Kacamata hitam biasa, meskipun memiliki perlindungan UV, tidak cukup kuat untuk memblokir seluruh spektrum radiasi IR dan UV yang difokuskan oleh lensa mata ke retina.
Filter pada kacamata hitam biasa hanya mengurangi intensitas cahaya tampak (agar tidak silau), tetapi tidak memberikan perlindungan filter optik dan termal yang memadai. Untuk melihat Gerhana Matahari secara langsung, harus digunakan Kacamata Gerhana Khusus (Solar Viewers) yang memenuhi standar keamanan internasional, seperti ISO 12312-2. Filter ini mampu mereduksi intensitas cahaya hingga ribuan kali, dan secara efektif memblokir hampir $100\%$ radiasi UV dan IR berbahaya.
🌑 Fakta Kunci: Zona Aman Totalitas
Satu-satunya momen di mana aman secara visual untuk melihat Gerhana Matahari tanpa kacamata pelindung adalah selama fase Gerhana Matahari Total (Totalitas), yaitu ketika Bulan menutupi piringan Matahari secara sempurna dan hanya menyisakan Korona yang indah. Namun, bahkan di zona totalitas, kacamata harus segera dipakai kembali begitu piringan Matahari muncul sedikit saja di tepi Bulan.
Kesimpulannya, bahaya melihat gerhana adalah fakta ilmiah yang disebabkan oleh efek akumulasi paparan radiasi pada retina yang tidak terlindungi, bukan karena sifat ‘beracun’ sinarnya. Perlindungan dengan filter bersertifikasi adalah sebuah keharusan, bukan pilihan.
