Fakta vs Mitosđź§  Psikologi & Hubungan

IDAI Soroti Banner Film Viral, Dinilai Berisiko terhadap Kesehatan Mental Remaja

Kontroversi banner promosi film berjudul “Aku Harus Mati” yang viral di ruang publik memicu perhatian serius dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Organisasi tersebut menilai penggunaan diksi ekstrem dalam materi promosi berpotensi memberikan dampak negatif terhadap kesehatan mental, khususnya pada anak dan remaja.

Isu ini menjadi sorotan luas setelah baliho besar dengan tulisan tersebut terpampang di sejumlah titik strategis di Jakarta dan menuai reaksi masyarakat.


Diksi Sensitif Dinilai Berbahaya

Ketua Umum IDAI, Piprim Basarah Yanuarso, menyampaikan kekhawatiran bahwa penggunaan kalimat seperti “aku harus mati” dapat memberikan pengaruh serius bagi individu yang sedang mengalami gangguan mental.

Menurutnya, bagi orang dengan kondisi depresi—terutama yang sudah memiliki pikiran negatif sebelumnya—paparan kalimat tersebut bisa menjadi bentuk “afirmasi” terhadap dorongan berbahaya.

Artinya, pesan visual yang tampak sederhana bagi sebagian orang, bisa memiliki makna yang jauh lebih dalam dan berisiko bagi kelompok rentan.


Remaja Jadi Kelompok Paling Rentan

IDAI mengungkapkan bahwa sekitar 10 persen remaja di Indonesia mengalami gangguan kesehatan mental.

Dengan angka yang cukup besar tersebut, paparan konten dengan diksi ekstrem di ruang publik dinilai sangat berisiko.

Remaja cenderung:

  • Lebih mudah terpengaruh secara emosional
  • Menafsirkan pesan secara literal
  • Belum memiliki kontrol emosi yang stabil

Hal inilah yang membuat mereka menjadi kelompok paling rentan terhadap dampak konten negatif.


Bisa Picu Efek “Copycat”

Para ahli juga menyoroti potensi munculnya fenomena copycat effect, yaitu ketika seseorang meniru tindakan berbahaya setelah terpapar konten tertentu.

Dalam konteks ini, kalimat ekstrem yang terus terlihat di ruang publik bisa:

  • Memicu pikiran negatif
  • Memperkuat ide berbahaya
  • Mendorong tindakan impulsif

Karena itu, penggunaan kata-kata sensitif dalam ruang publik perlu dipertimbangkan secara matang.


Orang Tua Ikut Kebingungan

Selain berdampak pada remaja, banner tersebut juga menimbulkan kebingungan bagi orang tua.

Banyak orang tua kesulitan menjelaskan makna kalimat tersebut kepada anak-anak, terutama karena bertentangan dengan nilai yang diajarkan sehari-hari seperti semangat hidup dan optimisme.

Situasi ini menunjukkan bahwa konten publik tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada lingkungan keluarga.


Pemprov DKI Ambil Tindakan Cepat

Menanggapi polemik yang berkembang, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta langsung mengambil langkah tegas dengan menurunkan banner tersebut dari sejumlah lokasi.

Kebijakan ini diambil setelah banyaknya keluhan dari masyarakat yang merasa terganggu dengan pesan yang ditampilkan.

Langkah ini juga menjadi sinyal bahwa konten di ruang publik harus mempertimbangkan dampak psikologis, bukan hanya aspek pemasaran.


Pentingnya Konsultasi dengan Ahli

IDAI menekankan bahwa pembuatan konten promosi, terutama yang menggunakan tema sensitif, seharusnya melibatkan berbagai pihak.

Beberapa pihak yang perlu dilibatkan antara lain:

  • Psikolog
  • Psikiater
  • Ahli kesehatan anak

Tujuannya agar konten tetap menarik secara komersial, tetapi tidak membahayakan masyarakat.


Antara Kreativitas dan Tanggung Jawab

Kasus ini membuka diskusi penting tentang batas antara kreativitas dan tanggung jawab.

Di satu sisi, industri film membutuhkan strategi promosi yang menarik perhatian. Namun di sisi lain, ada tanggung jawab sosial yang harus dijaga, terutama ketika konten tersebut hadir di ruang publik.

Konten yang provokatif memang efektif secara marketing, tetapi bisa memiliki konsekuensi serius jika tidak dipertimbangkan dengan baik.


Ruang Publik Harus Aman Secara Psikologis

Para ahli menegaskan bahwa ruang publik seharusnya menjadi tempat yang aman bagi semua kalangan, termasuk anak-anak.

Artinya, setiap pesan yang ditampilkan harus:

  • Tidak memicu kecemasan
  • Tidak mengandung diksi berbahaya
  • Ramah untuk semua usia

Hal ini menjadi penting di tengah meningkatnya kesadaran terhadap kesehatan mental.


Momentum Evaluasi Industri Kreatif

Kasus viral ini juga menjadi momentum bagi industri kreatif untuk melakukan evaluasi.

Ke depan, diharapkan:

  • Konten promosi lebih sensitif terhadap isu mental health
  • Ada regulasi yang lebih jelas
  • Kolaborasi lintas bidang semakin diperkuat

Dengan demikian, industri tetap bisa berkembang tanpa mengorbankan kesehatan masyarakat.


Kesimpulan

Sorotan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia terhadap banner film viral ini menegaskan pentingnya kehati-hatian dalam penggunaan diksi di ruang publik.

Apa yang terlihat sebagai strategi promosi biasa, ternyata bisa berdampak besar terhadap kesehatan mental, terutama bagi remaja yang rentan.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa setiap konten publik memiliki konsekuensi, dan tanggung jawab sosial harus menjadi prioritas utama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *