Makan Banyak Nasi Saat Sahur: Mitos atau Fakta? Ulasan Lengkap Nutrisi dan Panduan Puasa Sehat
Jakarta — Menjelang bulan Ramadan, salah satu pertanyaan yang kerap muncul di kalangan umat Muslim adalah apakah makan banyak nasi saat sahur benar-benar membuat tubuh “lebih kuat” menjalani puasa hingga maghrib? Tradisi sahur merupakan bagian penting dari ibadah puasa Ramadan — waktu makan dini hari sebelum imsak yang dipercaya memberi tenaga sepanjang hari.
Namun, di tengah kebiasaan tersebut berkembang juga anggapan populer bahwa konsumsi nasi dalam jumlah besar saat sahur akan membuat seseorang lebih tahan lapar dan haus sepanjang hari puasa. Anggapan ini begitu luas diyakini hingga menjadi semacam “tips tradisional” untuk persiapan puasa.
Pertanyaannya kemudian menjadi: apakah keyakinan ini sekadar mitos atau berdasarkan fakta ilmiah yang benar? Artikel ini akan mengupas secara mendalam dari perspektif gizi, respon tubuh terhadap makanan karbohidrat, serta strategi sahur yang sehat agar puasa tetap optimal.
Apa Itu Sahur dan Tujuannya dalam Puasa Ramadan
Sahur adalah makanan yang dikonsumsi sebelum fajar sebagai persiapan menjalankan puasa Ramadan. Dalam praktik Islam, sahur tidak hanya dilihat sebagai pemenuhan kebutuhan kalori, tetapi juga sebagai waktu penting untuk meminimalkan gejala lapar dan dehidrasi di siang hari. Tradisi ini juga mendapat dukungan dari ajaran hadits yang menyarankan umat Muslim untuk tidak meninggalkan sahur karena “ada berkah di dalamnya”.
Selain aspek spiritual, sahur memiliki tujuan fisiologis: memberi tubuh energi yang cukup, menjaga kestabilan gula darah, dan mendukung fungsi metabolisme agar tubuh tetap stabil dalam kondisi tanpa asupan makanan dan minuman selama waktu puasa yang panjang.
Nasi: Sumber Karbohidrat Utama dalam Pola Makan Indonesia
Di Indonesia, nasi telah menjadi makanan pokok utama dan merupakan sumber karbohidrat paling dominan dalam menu sahur. Karbohidrat berfungsi sebagai sumber energi utama bagi tubuh, terutama saat aktivitas di siang hari tanpa asupan makanan. Namun, tidak semua karbohidrat memiliki efek yang sama terhadap ketahanan energi.
Nasi pada umumnya memiliki Indeks Glikemik (IG) moderat hingga tinggi, yang artinya dapat meningkatkan gula darah dengan cepat setelah dikonsumsi, tetapi juga akan turun lebih cepat seiring waktu. Hal ini berdampak pada rasa lapar dan energi yang dirasakan oleh tubuh.
Mitos: Konsumsi Banyak Nasi Membuat “Lebih Kuat” Puasa
Salah satu kepercayaan paling umum adalah bahwa makan nasi dalam jumlah besar saat sahur akan membuat seseorang lebih kuat menjalankan puasa, karena tubuh seolah “menumpuk energi” yang disimpan untuk sepanjang hari. Namun, pandangan ini termasuk mitos yang perlu diluruskan.
Faktanya, makan nasi berlebihan saat sahur tidak membuat tubuh lebih tahan lapar atau haus sepanjang hari. Sebaliknya, konsumsi nasi yang berlebihan dapat membuat gula darah naik cepat, yang kemudian diikuti oleh penurunan drastis sehingga tubuh justru menjadi lebih cepat merasa lapar dan lemas.
Dalam istilah nutrisi, tubuh membutuhkan keseimbangan karbohidrat kompleks, protein, lemak sehat, serta serat agar pelepasan energi lebih lambat dan berlangsung lebih lama — bukan sekadar jumlah nasi yang dikonsumsi. Porsi nasi besar tanpa pendamping nutrisi lainnya justru membuat tubuh kehilangan kesetimbangan dalam pemberian energi tahan lama.
Bagaimana Tubuh Memproses Karbohidrat Saat Sahur?
Ketika kita makan nasi saat sahur, tubuh mencerna karbohidrat menjadi glukosa untuk dijadikan bahan bakar. Peningkatan kadar glukosa dalam darah memberi energi awal, tetapi jika tidak dikombinasikan dengan nutrisi lain, energi ini mudah habis karena tubuh cenderung menggunakan glukosa sebagai sumber utama.
Selain itu, tanpa adanya sumber protein dan lemak sehat, tubuh lebih cepat menurun kadar energinya, sehingga tanda lapar atau lemas bisa muncul lebih cepat meskipun jumlah nasi yang dikonsumsi banyak.
Pendekatan Nutrisi yang Lebih Tepat untuk Sahur
Alih-alih memperbanyak nasi, para ahli gizi menyarankan pola sahur yang lebih seimbang, yaitu kombinasi antara:
- Karbohidrat kompleks seperti nasi merah, oatmeal, ubi, atau roti gandum — yang dicerna tubuh lebih lambat sehingga memberi energi lebih stabil.
- Protein seperti telur, ayam tanpa lemak, atau tahu/tempe — membantu perbaikan dan pembangunan sel serta memberikan rasa kenyang lebih lama.
- Lemak sehat seperti alpukat, kacang-kacangan, dan biji-bijian — memberikan energi bertahan lama.
- Serat dari sayur dan buah — membantu pencernaan dan kenyang lebih lama tanpa lonjakan gula darah drastis.
Strategi ini membantu tubuh memaksimalkan pemakaian energi selama puasa tanpa bergantung pada jumlah nasi yang besar.
Dampak Konsumsi Makanan Berlebihan Saat Sahur
Makan terlalu banyak nasi atau makanan berat saat sahur berpotensi membawa dampak negatif, terutama jika porsinya tidak seimbang dengan nutrisi lain:
- Lonjakan Gula Darah – konsumsi karbohidrat sederhana dalam jumlah besar dapat menyebabkan lonjakan gula darah yang tidak stabil.
- Rasa Lelah dan Mengantuk – makanan berat yang tinggi karbohidrat tanpa protein/serat membuat tubuh mengalihkan energi untuk mencerna, sehingga menyebabkan kantuk.
- Peningkatan Rasa Lapar Lebih Cepat – setelah naiknya gula darah cepat, tubuh mengalami penurunan energi dan rasa lapar kembali lebih cepat daripada jika makanan bernutrisi seimbang dimakan.
Studi Nutrisi Puasa: Apa Kata Ahli?
Beberapa studi mengenai pola makan saat puasa menunjukkan bahwa pola makan yang seimbang jauh lebih efektif dalam mempertahankan energi dibandingkan sekadar jumlah makanan yang dikonsumsi. Nutrisi yang lengkap membantu tubuh memperlambat proses pelepasan energi — yang sangat penting saat menjalankan puasa sepanjang hari.
Sebagai contoh, kombinasi karbohidrat kompleks dengan protein dan lemak sehat akan menjaga tingkat gula darah lebih stabil dan memberi rasa kenyang lebih lama dibandingkan nasi putih saja. Pendekatan ini juga dianjurkan oleh pakar gizi untuk mendukung kesehatan jantung, pencernaan, dan kinerja metabolik secara keseluruhan.
Manfaat Sahur dengan Pola Seimbang
Dengan memahami cara tubuh memproses makanan dan gula darah, kita bisa merumuskan strategi sahur yang lebih efektif:
- Meningkatkan daya tahan tubuh – energi dilepaskan lebih stabil sepanjang hari.
- Menjaga fokus dan produktivitas – mengurangi rasa lapar atau lemas di siang hari.
- Mengurangi risiko gangguan pencernaan – makan makanan berat atau terlalu banyak dapat memberi beban pada sistem pencernaan.
- Mengatur suasana hati dan stamina – kadar gula stabil membantu suasana hati tetap nyaman dan tidak mudah lelah.
Kesimpulan: Mitok atau Fakta?
Kesimpulan utamanya adalah:
✅ Fakta: Tubuh membutuhkan energi dari sahur untuk membantu menjalankan puasa, tetapi bukan sekadar jumlah nasi yang menentukan “kekuatan” puasa.
❌ Mitos: Makan banyak nasi saat sahur membuat tubuh lebih kuat berpuasa sepanjang hari. Malah, makan berlebihan justru bisa membuat gula darah naik cepat dan kemudian menjadi kenyang lebih cepat hilang.
Kunci utama puasa yang sehat dan stamina yang optimal adalah memilih makanan dengan nutrisi yang seimbang, bukan sekadar porsi nasi yang banyak. Sahur yang tepat akan memberi tubuh bekal energi yang stabil, mendukung fokus, dan menjaga kesehatan secara keseluruhan selama Ramadan.

