Fakta vs Mitosđź§  Psikologi & Hubungan

Fakta vs Mitos: Benarkah Orang Overthinking Itu Lemah Mental?

Dalam pergaulan sosial, mereka yang sering terjebak dalam labirin pikirannya sendiri sering kali mendapat label negatif. Ungkapan seperti “jangan terlalu sensitif” atau “kamu kurang bertenaga secara mental” menjadi makanan sehari-hari bagi para overthinker. Ada stigma yang mengakar kuat di masyarakat bahwa kebiasaan memikirkan sesuatu secara berlebihan adalah indikator dari mental yang rapuh atau lemah.

Namun, benarkah demikian? Jika kita menilik dari kacamata psikologi kognitif dan neurosains, label “lemah mental” bagi orang yang overthinking adalah sebuah simplifikasi yang keliru, bahkan bisa disebut sebagai mitos yang menyesatkan. Overthinking, atau dalam istilah klinis disebut sebagai ruminasi dan kekhawatiran berlebih, sebenarnya adalah manifestasi dari mekanisme kerja otak yang sangat kompleks, bukan tanda bahwa seseorang kekurangan kekuatan mental.

Mesin yang Terlalu Panas, Bukan Mesin yang Rusak

Untuk memahami overthinking, kita perlu membayangkan otak manusia sebagai sebuah mesin. Seorang overthinker memiliki mesin yang bekerja dengan kecepatan tinggi dan tingkat ketelitian yang luar biasa. Masalahnya bukan terletak pada kerusakan mesin tersebut, melainkan pada ketidakmampuan untuk mematikan “mode pencarian masalah” meskipun solusi sudah ditemukan atau masalah tersebut sebenarnya tidak ada.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Trends in Cognitive Sciences menunjukkan bahwa overthinking sering kali berkorelasi dengan aktivitas yang tinggi di area otak yang bertanggung jawab atas pemrosesan ancaman dan perencanaan masa depan. Secara evolusioner, kemampuan untuk memikirkan berbagai skenario terburuk adalah mekanisme pertahanan hidup yang membantu nenek moyang manusia menghindari predator. Dalam dunia modern, mekanisme ini tetap ada, namun sasarannya berubah menjadi masalah pekerjaan, hubungan sosial, hingga kegagalan di masa lalu.

Jadi, alih-alih menunjukkan kelemahan, overthinking justru menandakan bahwa sistem deteksi ancaman di otak seseorang bekerja dengan sangat aktif. Ini adalah tanda dari otak yang berusaha keras untuk melindungi pemiliknya, meskipun sering kali berakhir dengan cara yang melelahkan secara emosional.

Kaitan Antara Kecerdasan Analitis dan Pikiran Berlebih

Fakta menarik yang sering luput dari perhatian adalah kaitan antara overthinking dengan kapasitas intelektual tertentu. Sebuah studi dari Case Western Reserve University menemukan bahwa individu yang cenderung memikirkan sesuatu secara mendalam sering kali memiliki kemampuan analitis yang di atas rata-rata. Mereka mampu melihat pola, mendeteksi inkonsistensi, dan mempertimbangkan sudut pandang yang mungkin diabaikan oleh orang lain.

Kelemahan mental biasanya diasosiasikan dengan ketidakmampuan untuk memproses informasi atau kepasrahan total tanpa perlawanan berpikir. Sebaliknya, seorang overthinker justru melakukan “perlawanan” kognitif yang sangat intens. Mereka membedah informasi hingga ke tingkat atomik. Masalahnya muncul ketika proses analitis ini tidak memiliki “pintu keluar” atau kesimpulan, sehingga energi mental terkuras habis hanya untuk memutar skenario yang sama berulang-ulang.

Dunia sains psikologi lebih melihat fenomena ini sebagai ketidakseimbangan fungsi eksekutif otak, yaitu kemampuan untuk mengalihkan perhatian dari satu objek ke objek lain. Jadi, ini bukan soal kekuatan atau kelemahan karakter, melainkan soal efisiensi kontrol perhatian di dalam sirkuit saraf.

Paradoks Empati dan Kepekaan Sosial

Selain faktor analitis, overthinking juga sering ditemukan pada individu dengan tingkat empati yang tinggi. Mereka yang peduli pada perasaan orang lain cenderung memikirkan kembali setiap kata yang mereka ucapkan atau setiap tindakan yang mereka ambil, karena takut menyinggung atau merugikan pihak lain. Dalam konteks sosial, ini adalah bentuk kecerdasan emosional, meskipun jika berlebihan akan menjadi beban bagi diri sendiri.

Masyarakat sering salah mengartikan kepekaan ini sebagai kelemahan. Padahal, kapasitas untuk memikirkan dampak tindakan kita terhadap orang lain adalah salah satu fondasi dari kohesi sosial yang sehat. Seorang overthinker sering kali menjadi penengah yang baik atau perencana yang detail justru karena mereka telah memikirkan segala kemungkinan risiko sebelum orang lain menyadarinya.

Kelelahan yang dialami overthinker bukan disebabkan oleh mental yang lembek, melainkan oleh beban kognitif yang mereka pikul sendiri. Menuntut seorang overthinker untuk “berhenti berpikir” sama sulitnya dengan menyuruh atlet lari maraton untuk tidak berkeringat saat berlari. Itu adalah konsekuensi logis dari aktivitas yang sedang berlangsung.

Mengatur Ritme, Bukan Membunuh Pikiran

Jika overthinking bukan tanda lemah mental, lalu bagaimana cara mengelolanya? Kuncinya bukan dengan membenci pikiran tersebut atau mencoba menghilangkannya secara paksa—yang justru akan memicu pikiran baru tentang “mengapa saya tidak bisa berhenti berpikir”.

Pendekatan ilmiah yang lebih efektif adalah dengan memberikan batas waktu pada pikiran tersebut atau mengalihkannya ke aktivitas fisik yang menuntut fokus penuh. Mengubah ruminasi yang pasif menjadi tindakan yang aktif adalah strategi kognitif yang teruji. Misalnya, daripada memikirkan “bagaimana jika saya gagal presentasi besok?”, seorang overthinker bisa diarahkan untuk menuliskan tiga langkah konkret untuk memperbaiki materi presentasi tersebut.

Kesadaran bahwa overthinking adalah sebuah proses biologis dan kognitif—bukan cacat kepribadian—adalah langkah awal yang krusial. Ketika stigma “lemah mental” dilepaskan, seorang overthinker bisa mulai melihat diri mereka sebagai individu dengan alat analisis yang kuat, namun memerlukan manajemen daya yang lebih baik.

Pada akhirnya, kehebatan mental seseorang tidak diukur dari seberapa sedikit mereka berpikir, melainkan dari seberapa baik mereka mampu mengarahkan pikiran-pikiran tersebut untuk mencapai tujuan yang produktif. Menjadi seorang overthinker berarti memiliki kapasitas berpikir yang luas; tantangannya hanya satu, yaitu belajar cara untuk menjinakkan badai di dalam kepala agar menjadi tenaga yang menggerakkan, bukan gelombang yang menenggelamkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *