Diet Karnivora: Tren Viral yang Perlu Diwaspadai karena Risiko Ginjal
Jakarta, 18 Januari 2026 ā Tren diet karnivora menjadi populer di media sosial karena klaimnya membantu menurunkan berat badan dan meningkatkan energi. Meski demikian, dokter gizi dan ahli medis kini memperingatkan bahwa pola makan ekstrem ini berpotensi membahayakan kesehatan, terutama fungsi ginjal jika dijalani tanpa pengawasan ahli.
Diet karnivora merupakan pola makan yang hanya mengonsumsi produk hewani, seperti daging, telur, dan produk susu, sementara semua sumber nabati seperti buah, sayur, bijiābijian, dan serat ditiadakan. Akibatnya, tubuh menerima asupan protein hewani yang sangat tinggi dan hampir tidak mendapatkan nutrisi lain yang biasanya berasal dari tumbuhan.
Ahli Gizi: Manusia Tidak Dibentuk untuk Diet Karnivora
Dr. Tan Shot Yen, dokter gizi yang sering diminta opini medis oleh media Tanah Air, menilai diet karnivora tidak selaras dengan fitrah manusia sebagai makhluk omnivora ā yaitu makhluk yang secara alami mendapatkan nutrisi dari sumber hewani dan nabati. āManusia tidak punya gigi yang menyerupai karnivora sejati seperti kucing yang seluruhnya dilengkapi taring tajam,ā ujar dr. Tan.
Menurut dr. Tan, ketika seseorang hanya makan daging dan protein tinggi, tubuh mengalami ketidakseimbangan nutrisi. Kondisi ini menyebabkan organ seperti ginjal bekerja lebih keras untuk menyaring limbah protein dari darah. Akibatnya, organ ini bisa mengalami tekanan berlebih.
Kasus Nyata: Influencer Alami Masalah Ginjal
Sebuah kasus yang sempat viral di media sosial melibatkan influencer wanita bernama Eve Catherine (23) dari Dallas, AS. Ia menjalani diet karnivora selama beberapa waktu dan dalam kesehariannya hanya mengonsumsi telur, yogurt tinggi protein, dan steak daging sapi tanpa buah atau sayuran.
Setelah beberapa minggu, pemeriksaan kesehatan menunjukkan kadar protein tinggi dalam urine dan akhirnya Eve mengalami kencing berdarah akibat komplikasi ginjal. Ia bahkan harus dirawat di rumah sakit dan menjalani perawatan intensif termasuk pengeluaran batu ginjal yang terbentuk akibat pola makan tersebut.
Eve secara terbuka kemudian menyebut pilihannya mengikuti diet karnivora sebagai sebuah keputusan yang ābodohā karena berdampak serius pada kesehatannya. Kasus ini menjadi pengingat bahwa hasil instan dari tren diet di internet tidak selalu aman secara medis dan setiap diet ekstrem perlu konsultasi dengan ahli gizi.
Bagaimana Diet Ekstrem Mempengaruhi Ginjal?
Berbagai sumber kesehatan internasional menjelaskan mekanisme yang membuat diet karnivora berpotensi membahayakan fungsi ginjal. Konsumsi protein hewani dalam jumlah sangat tinggi dapat meningkatkan kerja ginjal dalam proses menyaring limbah nitrogen hasil metabolisme protein.
Selain itu, diet tanpa buah atau sayur juga membuat tubuh tidak mendapatkan serat dan alkali alami yang berperan menetralkan asam sisa metabolisme protein. Ketidakseimbangan ini bisa menyebabkan peningkatan beban asam pada tubuh dan ginjal, memicu kondisi yang disebut metabolic acidosis.
Studi juga menyebut bahwa pola makan ekstrem yang menghilangkan sumber nabati berpotensi meningkatkan risiko batu ginjal, karena kurangnya serat berkontribusi pada pembentukan kristal mineral di ginjal.
Risiko Lain dan Saran Ahli
Tidak hanya ginjal, pakar nutrisi internasional juga mengingatkan bahwa diet karnivora bisa menyebabkan kekurangan vitamin dan mineral penting, serta peningkatan kolesterol jahat yang berpotensi meningkatkan risiko penyakit jantung jika dijalani dalam jangka panjang.
Ahli gizi umumnya menyarankan pola makan yang seimbang, mencakup buah, sayur, bijiābijian, protein hewani dan nabati, agar tubuh mendapatkan semua makronutrien dan mikronutrien penting. Konsultasi dengan dokter atau ahli gizi sangat dianjurkan sebelum mencoba diet ekstrem apa pun.
Kesimpulan: Waspadai Diet Viral Tanpa Dasar Ilmiah
Diet karnivora yang viral mungkin menawarkan janji hasil cepat, tetapi potensi risiko kesehatan, terutama pada fungsi ginjal, membuat banyak ahli medis berhatiāhari memberi rekomendasi. Pola makan yang ekstrem dan tidak seimbang cenderung memberi beban berlebih pada organ internal dan dapat memicu komplikasi serius seperti batu ginjal atau kerusakan fungsi organ dalam jangka panjang.
Oleh sebab itu, sebelum mengikuti tren diet apa pun, pahami dulu dampaknya secara medis dan konsultasikan dengan tenaga kesehatan yang kompeten agar pola makan yang dipilih aman dan sesuai kebutuhan tubuh Anda.

