Misteri Ular Purba Usia 37 Juta Tahun Ditemukan Tersimpan di Laci Museum Inggris
London, INGGRIS — Para ilmuwan paleontologi berhasil mengidentifikasi spesies ular purba yang “aneh” dan tak terduga setelah fosilnya ditemukan tersimpan lama dalam laci koleksi museum di Inggris. Penemuan ini membuka lembaran baru dalam pemahaman tentang evolusi ular kuno dan menyimpan banyak misteri ilmiah.
Temuan ini merupakan hasil riset terbaru yang dipublikasikan oleh para peneliti yang mempelajari fosil yang ditemukan lebih dari empat dekade lalu di pesisir selatan Inggris. Fosil tersebut kemudian diidentifikasi sebagai bagian dari spesies baru ular purba yang dinamai Paradoxophidion richardoweni — sebuah nama yang mencerminkan kombinasi ciri morfologi yang unik dan kompleks.
Penemuan di Laci Museum: Dari Terlupakan Jadi Ilmiah
Walaupun tulang belulang kecil yang kini teridentifikasi sebagai fosil ular itu ditemukan pada awal 1980‑an di Hordle Cliff, selatan Inggris, fosil tersebut sempat terlupakan di dalam koleksi museum selama bertahun‑tahun. Baru belakangan, ilmuwan yang meneliti kembali koleksi tersebut menyadari bahwa vertebra kecil itu memiliki ciri yang belum pernah dikenal sebelumnya.
Menurut catatan penelitian, serpihan fossil itu ditemukan di saat Inggris masih beriklim jauh lebih hangat dan mendukung kehidupan reptil yang beragam sekitar 37 juta tahun lalu, pada periode Eosen — masa ketika banyak kelompok ular awal mulai berkembang.
Para ilmuwan dari Institute of Systematics and Evolution of Animals (Polandia) yang memimpin riset ini menyatakan bahwa fosil tersebut termasuk ke dalam kelompok caenophidia awal, sebuah garis keturunan yang kemudian berkembang menjadi mayoritas ular modern. Keberadaan spesies ini memberikan wawasan baru tentang asal‑usul kelompok ular yang hingga kini masih dipelajari secara intens.
Karakteristik Unik Paradoxophidion richardoweni
Fosil ini memiliki ciri yang disebut oleh para peneliti sebagai “paradoks” karena menunjukkan kombinasi fitur yang biasanya terdapat pada ular‑ular modern yang berbeda. Struktur vertebra menunjukkan karakteristik yang menghubungkan berbagai cabang evolusi ular. Hal ini membuat penemuan tersebut sangat penting dalam memahami bagaimana beberapa fitur tubuh ular berkembang dan menyebar ke kelompok yang lebih luas di masa lalu.
Jumlah tulang belakang yang terungkap mencapai puluhan vertebra dari berbagai bagian tulang belakang, yang menjadi kunci bagi para peneliti mengidentifikasi spesies ini secara lengkap. Tidak hanya itu, fosil‑fosil ini kemudian dianalisis dengan teknologi pemindaian CT (computed tomography) untuk membuat rekonstruksi 3D, sehingga para ilmuwan bisa melihat struktur di dalam detail tanpa merusak fosil aslinya.
Studi juga menunjukkan bahwa P. richardoweni kemungkinan memiliki panjang tubuh kurang dari satu meter, meskipun banyak aspek lain tentang gaya hidup dan tingkah lakunya masih belum jelas karena fosil yang ditemukan sebagian besar berupa tulang belakang tanpa kerangka lengkap atau tengkorak.
Kontribusi terhadap Ilmu Evolusi
Penemuan ini memberikan data penting bagi paleontologi ular dan reptil, terutama karena beberapa garis keturunan ular awal sangat sulit dipahami akibat keterbatasan fosil yang ditemukan. Dengan ditemukannya Paradoxophidion, ilmuwan memperoleh petunjuk tentang evolusi awal ular dalam waktu beberapa puluh juta tahun lalu.
Dalam pernyataannya, salah satu peneliti yang memimpin studi menyebutkan bahwa menemukan spesies baru dari koleksi museum adalah “impian yang menjadi kenyataan” karena banyak spesimen lama sebenarnya menyimpan informasi yang tak ternilai, tetapi belum pernah diperiksa secara detail sebelumnya.
Pentingnya Koleksi Museum dalam Penelitian Ilmiah
Kasus ini juga menyoroti peran penting museum ilmiah dalam menyimpan koleksi fosil yang mungkin tidak langsung dikenali nilainya pada saat ditemukan. Banyak fosil yang tersimpan di rak dan laci museum telah dimasukkan dari penggalian puluhan atau bahkan ratusan tahun lalu, lalu terlupakan hingga kesempatan baru muncul ketika teknologi modern memungkinkan analisa lebih mendalam.
Hal ini membuka diskusi tentang potensi besar koleksi museum di seluruh dunia yang bisa menyimpan spesimen yang tak ternilai dan menjadi kunci sejarah kehidupan Bumi. Kerja lanjutan terhadap koleksi fossil lainnya juga diharapkan bisa membawa penemuan spesies baru lain yang lebih menambah wawasan evolusi reptil di planet ini.

