Sains🏥 Kesehatan

Jejak Aroma dalam Emosi dan Ingatan: Apa Kata Sains?

Jakarta kilasjurnal.id — Pernahkah Anda mencium aroma tertentu—misalnya wangi bunga melati atau aroma tanah usai hujan—yang tiba-tiba membawa kenangan lama melintas di benak? Ternyata, hal ini bukan sekadar kebetulan. Menurut artikel di Tirto, indra penciuman mempunyai hubungan langsung dengan pusat emosi dan memori di otak sehingga aroma dapat menjadi “pintu” menuju kenangan dan rasa tenang.


Hubungan Antara Aroma, Emosi, dan Memori

Para ilmuwan menyebut bahwa ketika kita mencium suatu aroma, sinyal dari indera penciuman langsung menuju ke struktur otak seperti amigdala dan hipokampus—yang merupakan pusat emosi dan memori.
Contohnya, studi di Northumbria University (2017) menemukan bahwa siswa yang belajar di ruang beraroma rosemary memperoleh nilai 5-7 persen lebih baik dalam tes memori dibandingkan yang tidak.
Peneliti Dr. Mark Moss bahkan menegaskan bahwa aroma rosemary bisa membantu meningkatkan fokus dan daya ingat karena senyawa seperti 1,8-cineole dalam rosemary mampu berinteraksi dengan neurotransmitter dan melindungi asetilkolin—z it yang membantu proses mengingat.
Lebih lanjut, sebuah riset di University of California, Irvine (2023) menemukan bahwa lansia yang tidur di ruangan beraroma selama enam bulan secara signifikan mengalami peningkatan kemampuan memori hingga 226 persen dibanding mereka yang tidak.


Kenapa Aroma Bisa Begitu Kuat?

Beberapa penjelasan ilmiah untuk fenomena ini:

  • Penciuman berbeda dari indra lain karena sinyal aroma tidak harus melalui talamus terlebih dahulu, melainkan langsung ke area memori dan emosi.
  • Aroma dapat memicu respons emosional yang mendalam—kenangan, suasana hati, bahkan figur yang telah lama pergi bisa muncul kembali ketika kita mencium aroma tertentu. Artikel Tirto mengilustrasikan ini melalui pengalaman penulis yang tiba-tiba teringat sang nenek saat mencium bunga melati.
  • Tidak seluruh aroma punya efek sama. Riset dari Technical University of Dresden (2022) menunjukkan bahwa efek positif terhadap tidur atau memori bukan hanya bergantung jenis aroma, melainkan juga seberapa “nyaman” kita terhadap aroma tersebut—aroma yang kita sukai akhirnya memberikan efek yang lebih baik.

Implikasi Praktis bagi Kehidupan Sehari-Harian

Berdasarkan temuan ilmiah di atas, ada beberapa hal yang bisa kita terapkan:

  • Memanfaatkan aroma rosemary atau aroma “favorit” Anda saat belajar atau bekerja agar daya ingat dan fokus dapat meningkat.
  • Menggunakan diffuser atau aroma ruangan ringan saat tidur, terutama untuk lansia atau orang yang mengalami gangguan memori, bisa membantu kualitas tidur dan fungsi kognitif.
  • Memilih aroma yang kita sukai sebagai bagian rutinitas—karena kenyamanan terhadap aroma akan memperkuat efeknya.
  • Menciptakan rutinitas “pengait aroma-kenangan”: misalnya, memakai wangi tertentu di momen istimewa agar aroma itu kelak memicu kenangan positif dan membantu kesejahteraan emosional.
  • Menjadi sadar bahwa indera penciuman adalah alat kuat untuk kesehatan otak—tak hanya soal perawatan fisik, tetapi juga stimulasi otak lewat aroma bisa ikut mendukung.

Catatan & Batasan Ilmiah

  • Meskipun riset menunjukkan potensi besar, aroma bukan “obat ajaib” untuk semua masalah memori atau gangguan tidur. Efek bisa bervariasi antar individu.
  • Banyak penelitian masih dalam skala kecil atau fokus pada kelompok spesifik seperti lansia—sehingga belum bisa digeneralisasi untuk semua.
  • Kebersihan dan sensitivitas individu terhadap aroma juga harus diperhatikan—beberapa orang bisa mengalami alergi atau reaksi negatif terhadap aroma tertentu.
  • Menemukan aroma yang “tepat” bagi Anda mungkin memerlukan eksperimen pribadi—jenis aroma, intensitas, waktu penggunaan semuanya bisa berbeda bagi tiap orang.

Kesimpulan

Indra penciuman ternyata memiliki peran yang luar biasa dalam hubungan antara aroma, ingatan, dan emosi. Dari aroma rosemary yang meningkatkan memori hingga aroma yang membangkitkan kenangan masa kecil—semuanya menunjukkan bahwa aroma bukan sekadar pengalaman sensorik biasa, tetapi juga alat potensi kognitif dan emosional. Artikel Tirto menegaskan bahwa aroma bisa menjadi pintu ke masa lalu dan jembatan ke kesejahteraan mental.
Karenanya, jangan sepelekan wangi yang Anda cium hari ini—mungkin itu “kunci” kecil menuju memori, perasaan, atau kondisi mental yang lebih baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *