Kenapa Paspor Timor Leste Lebih Kuat daripada Paspor Indonesia
Meski ukurannya jauh lebih kecil, Timor Leste berhasil menorehkan pencapaian tak terduga: paspornya kini dianggap lebih “kuat” daripada paspor Indonesia dari segi mobilitas internasional. Saat Indonesia berada di peringkat ke-66 dunia, paspor Timor Leste menembus peringkat ke-53 dengan akses bebas visa atau visa-on-arrival ke sekitar 96 negara. Fenomena ini kemudian jadi sorotan karena menimbulkan pertanyaan: apa faktor yang memungkinkan negara kecil tersebut unggul dalam “kekuatan paspor” dibandingkan negara besar seperti Indonesia?
Apa Itu “Kekuatan Paspor”?
“Kekuatan paspor” atau passport power biasanya diukur berdasarkan jumlah negara yang bisa dimasuki pemegang paspor tanpa visa terlebih dahulu (visa-free) atau dengan visa saat kedatangan (visa-on-arrival). Menurut versi terkini Henley & Partners Passport Index, Timor Leste menempati posisi yang lebih baik dibanding Indonesia karena jumlah negara mitra visa-bebas yang lebih banyak.
Sebaliknya, paspor Indonesia—meski dimiliki oleh lebih dari 270 juta warganya—masih terkendala akses bebas visa yang relatif lebih sedikit dibanding negara-kecil seperti Timor Leste.
Namun, peringkat ini bukan hanya soal angka saja: ia juga mencerminkan hubungan diplomatik, stabilitas politik, reputasi negara, dan kebijakan yang memudahkan mobilitas warga negara di luar negeri.
Faktor-Faktor yang Membuat Timor Leste Unggul
Berikut beberapa faktor penting yang membuat paspor Timor Leste mendapatkan posisi lebih baik:
1. Akses Bebas Visa yang Relatif Lebih Banyak
Data menunjukkan bahwa pemegang paspor Timor Leste bisa memasuki sekitar 96 negara tanpa visa atau dengan visa saat kedatangan. Sementara itu, paspor Indonesia memungkinkan akses tanpa visa ke sekitar 74 negara saja dalam pengukuran tertentu.
Jumlah yang lebih besar inilah yang menjadi ‘keunggulan numerik’ bagi Timor Leste.
2. Hubungan Diplomatik yang Efisien
Timor Leste tampaknya berhasil menjalin sejumlah perjanjian bebas visa atau visa-relaksasi dengan negara-negara tertentu, yang mempercepat perolehan akses bebas visa bagi warganya.
Sedangkan Indonesia, dengan dinamika geopolitik dan komitmen diplomatik yang kompleks, mungkin menghadapi kendala yang lebih besar dalam membuka akses bebas visa secara luas.
3. Ukuran Negara yang Lebih Kecil dan Mobilitas yang Terukur
Negara kecil seringkali lebih fleksibel dalam negosiasi visa dan lebih cepat menyesuaikan kebijakan luar negeri yang memfokuskan pada mobilitas dan diplomasi. Itu bisa menjadi keuntungan bagi Timor Leste.
Di sisi lain, negara dengan populasi besar seperti Indonesia mungkin menghadapi tantangan berbeda—misalnya isyu keamanan, imigrasi, atau persepsi dari negara mitra—yang mempengaruhi kesepakatan visa.
Mengapa Indonesia Ketinggalan?
Meskipun Indonesia memiliki ekonomi terbesar di ASEAN dan reputasi regional yang kuat, beberapa faktor mungkin membuat paspornya tidak sekuat yang diharapkan:
- Negosiasi bebas visa yang belum optimal: Meskipun sudah banyak negara yang bersahabat, Indonesia tampaknya belum membuka kesempatan bebas visa secara luas bagi warganya ketika dibandingkan dengan beberapa negara kecil.
- Persepsi risiko oleh negara mitra: Negara mitra kadang menilai bahwa warganegara Indonesia punya risiko migrasi ilegal atau overstay yang lebih tinggi, yang bisa membuat negara mitra enggan memberikan bebas visa dengan mudah.
- Non-keamanan diplomatik dan politik mobilitas: Meskipun Indonesia aktif dalam diplomasi, fokus terhadap mobilitas warganya ke luar negeri mungkin belum seprioritas negara-lain yang mengejar akses bebas visa sebagai bagian dari strategi soft power.
Dampak bagi Warga Negara dan Mobilitas Global
Keunggulan paspor Timor Leste memperlihatkan bahwa mobilitas global menjadi aspek penting dalam konteks globalisasi saat ini. Bagi warga Timor Leste, akses yang lebih luas ke banyak negara artinya peluang pendidikan, usaha, dan wisata yang lebih mudah.
Sebaliknya, bagi warga Indonesia, rangking yang lebih rendah berarti bahwa perjalanan ke luar negeri mungkin memerlukan visa terlebih dulu atau menghadapi pembatasan yang lebih ketat. Hal ini dapat membatasi peluang di bidang pendidikan, karier dan jaringan global.
Apa yang Bisa Dilakukan Indonesia?
Untuk meningkatkan “kekuatan paspor”, Indonesia bisa mempertimbangkan beberapa langkah:
- Memperkuat diplomasi visa-free: Negosiasi untuk memperluas jumlah negara yang memberikan bebas visa atau visa-on-arrival bagi warganegara RI.
- Meningkatkan citra nasional: Inisiatif untuk memperkuat regulasi imigrasi, memperkuat pengawasan keimigrasian dan memperbaiki persepsi negara mitra terkait warganegara Indonesia.
- Memprioritaskan mobilitas warga negara sebagai bagian dari kebijakan luar negeri: Bukan hanya agenda ekonomi dan keamanan, tetapi juga akses pendidikan dan pariwisata.
- Meningkatkan transparansi dan kerjasama dengan negara mitra: Memastikan bahwa data migrasi, keimigrasian dan kerjasama bilateral dikelola dengan baik untuk membuka peluang bebas visa.
Kesimpulan
Keunggulan paspor Timor Leste atas paspor Indonesia mungkin mengejutkan bagi sebagian orang, namun ia menunjukkan bahwa “kuat tidaknya paspor” bukan hanya soal ukuran negara atau ekonomi besar. Faktor seperti akses bebas visa, diplomasi, dan mobilitas warga negara justru bisa menentukan ranking tersebut.
Bagi Indonesia, rangking lebih rendah menjadi tantangan sekaligus kesempatan untuk menata kembali kebijakan mobilitas warganya ke luar negeri. Karena pada akhirnya, paspor bukan hanya dokumen perjalanan—ia juga simbol dari keterhubungan global dan peluang warganegara dalam era globalisasi.

