Mitos yang Terlalu Mudah Dipercaya
KilasJurnal.id — Dalam banyak percakapan, baik di warung kopi maupun media sosial, sering terdengar keluhan:
“Anak muda sekarang cuek sama politik.”
Pernyataan itu seolah sudah jadi kebenaran umum.
Namun, apakah benar generasi muda hari ini tidak peduli urusan politik dan negara?
Faktanya, anggapan itu tidak sepenuhnya benar — dan sebagian besar hanyalah mitos sosial yang muncul karena cara anak muda mengekspresikan kepeduliannya kini berubah total.
Fakta: Anak Muda Lebih Kritis, Bukan Apatis
Survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada Maret 2024 menunjukkan bahwa 71% pemilih berusia 17–30 tahun mengaku tertarik dengan isu politik, meski tidak selalu aktif dalam kegiatan partai.
Menariknya, hanya 18% dari mereka yang percaya bahwa politik bisa “mengubah hidup secara langsung,” tapi lebih dari 60% justru terlibat dalam aksi sosial dan isu publik di media digital.
“Anak muda sekarang berpolitik lewat cara berbeda — lewat media sosial, aktivisme lingkungan, atau kampanye digital,” ujar Dr. Devie Rahmawati, pakar komunikasi Universitas Indonesia.
“Mereka tidak apatis, mereka hanya tidak mau terjebak dalam politik yang kotor.”
Dengan kata lain, politik bagi generasi Z bukan sekadar pemilu dan partai.
Bagi mereka, politik adalah bentuk ekspresi nilai: keadilan, kebebasan, dan solidaritas.
Mitos: Generasi Z Tidak Mengerti Politik
Salah satu stigma yang sering muncul adalah bahwa anak muda tidak paham urusan kenegaraan.
Padahal, data dari KPU dan Kompas Research menunjukkan peningkatan pengetahuan politik di kalangan pemilih muda.
- Pada Pemilu 2019, hanya 48% pemilih muda yang memahami sistem politik dasar.
- Sementara menjelang Pemilu 2024, angkanya naik menjadi 68%, didorong oleh akses informasi digital dan konten edukatif di media sosial.
Platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube kini menjadi ruang baru pendidikan politik — meski sering kali bercampur dengan hiburan.
“Generasi muda belajar politik bukan dari debat TV, tapi dari video 60 detik,” ujar Rangga, 22 tahun, mahasiswa asal Bandung.
“Kami tahu siapa yang bicara jujur, siapa yang cuma pencitraan.”
Fakta: Partisipasi Politik Anak Muda Terus Naik
Dalam Pemilu 2024, lebih dari 56% pemilih Indonesia adalah kelompok usia di bawah 40 tahun.
Kelompok ini menjadi penentu hasil pemilu, baik di tingkat nasional maupun daerah.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa tingkat partisipasi pemilih muda mencapai 81,3%, tertinggi sepanjang dua dekade terakhir.
Sebagian besar dari mereka mengaku memilih berdasarkan isu, bukan figur.
“Dulu orang memilih karena tokoh. Sekarang anak muda memilih karena visi dan dampak,” kata Yusran, peneliti CSIS.
Namun, bentuk partisipasi ini juga berkembang. Banyak yang tidak bergabung dalam partai, tapi ikut dalam gerakan sosial nonpartisan seperti kampanye lingkungan, advokasi HAM, hingga edukasi pemilu.
Mitos: Media Sosial Membuat Anak Muda Dangkal
Sebagian kalangan menilai media sosial justru membuat politik menjadi dangkal — penuh gimmick dan narasi dangkal.
Namun penelitian Kementerian Kominfo (2024) menunjukkan bahwa media sosial justru meningkatkan literasi politik di kalangan muda sebesar 27% dibanding satu dekade lalu.
Anak muda menggunakan media sosial untuk:
- Menganalisis kebijakan publik,
- Menyebarkan informasi politik secara cepat,
- Mengawasi pejabat publik,
- Dan mendorong transparansi pemerintahan.
Gerakan seperti #ReformasiDikorupsi (2019), #SuaraKita (2023), hingga kampanye #BijakMemilih (2024) adalah bukti bahwa ruang digital kini menjadi arena politik baru.
“Media sosial bukan membuat mereka dangkal, tapi memperluas ruang partisipasi,” tulis Centre for Digital Democracy Asia dalam laporannya tahun 2025.
Fakta: Politik Anak Muda Itu Emosional dan Rasional Sekaligus
Generasi muda memandang politik bukan hanya soal kebijakan, tapi juga soal emosi dan moralitas.
Mereka lebih peka terhadap isu keadilan sosial, hak minoritas, perubahan iklim, dan kesetaraan gender.
Bagi mereka, politik harus punya nilai kemanusiaan.
Sosiolog dari Universitas Gadjah Mada, Dr. Hermawan Sulistyo, menyebut pola ini sebagai “emosional rationality” — logika politik yang digerakkan oleh empati dan nilai personal.
“Mereka mungkin tidak ikut kampanye, tapi mereka protes lewat musik, seni, atau donasi. Itu juga politik,” ujarnya.
Dengan kata lain, anak muda tidak menolak politik — mereka menolak bentuk politik lama yang elitis dan transaksional.
Mitos: “Anak Muda Cuma Ribut di Medsos”
Banyak yang menuduh generasi digital hanya bisa bersuara di media sosial tanpa aksi nyata.
Namun, faktanya, beberapa gerakan besar di Indonesia lima tahun terakhir berawal dari ruang digital dan berujung ke jalanan.
Contohnya:
- #SaveKPK yang mendorong ribuan mahasiswa turun ke jalan.
- #PapuaLivesMatter yang mengangkat kesadaran tentang diskriminasi.
- #ClimateStrikeIndonesia yang dipimpin siswa SMA di Jakarta dan Bali.
Menurut laporan UNDP Indonesia (2025), setiap 1 dari 3 anak muda Indonesia pernah terlibat dalam aksi sosial yang berhubungan dengan kebijakan publik.
Kesimpulan: Politik Anak Muda Itu Berbeda, Bukan Hilang
Jadi, apakah benar anak muda sekarang tidak peduli politik?
Jawabannya jelas: mitos.
Mereka tidak diam — mereka hanya berbicara dengan bahasa baru.
Mereka tidak apatis — mereka memilih jalur partisipasi yang lebih cair, digital, dan berorientasi nilai.
Dan jika kita ingin memahami generasi ini, kita harus berhenti menilai mereka dari ukuran lama.
“Anak muda tidak meninggalkan politik,” tulis peneliti UNDP, Riza Santosa.
“Mereka sedang menulis ulang cara berpolitik di abad digital.”
