Walet Kelapa: Burung Luar Biasa dengan Otot Sayap Tangguh dan Terbang Nonstop hingga 10 Bulan
Jakarta, 23 Januari 2026 — Penelitian ilmiah terbaru mengungkapkan bahwa burung walet kelapa (Apus apus atau common swift) menunjukkan kemampuan terbang yang sangat luar biasa. Burung kecil ini mampu menghabiskan sebagian besar hidupnya di udara, bahkan beberapa individu tercatat terbang terus tanpa mendarat sampai hampir 10 bulan, sebuah pencapaian yang menempatkannya sebagai salah satu unggas paling ekstrem dalam kemampuan terbang jarak jauh.
Temuan ini bukan sekadar cerita lama: tim peneliti dari Lund University, Swedia memanfaatkan alat pencatat data yang sangat kecil yang dilengkapi akselerometer dan sensor cahaya untuk melacak perilaku terbang burung walet kelapa saat migrasi dari Eropa Utara ke Afrika dan kembali lagi. Berdasarkan data yang direkam, para peneliti menyimpulkan bahwa burung walet hampir seluruh waktunya dihabiskan di udara, kecuali periode singkat saat musim berkembang biak.
Tubuh Dirancang untuk Efisiensi Terbang Tinggi
Struktur tubuh walet kelapa sangat efisien untuk aktivitas terbang terus menerus. Tubuhnya ramping dengan sayap panjang dan sempit, yang membantu menghasilkan daya angkat maksimal sekaligus menghemat energi saat mereka melayang di udara selama berbulan-bulan. Bentuk tubuh ini memungkinkan walet kelapa memaksimalkan efisiensi aerodinamisnya dari pagi hingga malam tanpa perlu mendarat untuk beristirahat.
Berat tubuh walet kelapa relatif ringan, sekitar 40 gram, namun kekuatan otot sayapnya sangat tangguh, seolah didesain untuk aktivitas nonstop di langit. Pergerakan sayap yang terus-menerus ini menjadi salah satu faktor utama yang memungkinkan burung mempertahankan terbang panjangnya tanpa henti.
Strategi Hidup di Udara: Makan, Minum, dan Tidur
Selama terbang, walet kelapa menjalankan hampir semua aktivitas pentingnya di udara. Mereka menangkap serangga terbang sebagai sumber makanannya dan memanfaatkan tetesan hujan atau permukaan air untuk minum tanpa harus mendarat. Adaptasi perilaku ini menunjukkan bahwa burung tersebut telah berevolusi untuk hidup di udara dengan sangat efisien.
Salah satu misteri terbesar yang masih menyelimuti ilmuwan adalah bagaimana dan kapan walet kelapa tidur saat mereka berada di udara untuk jangka waktu sangat panjang. Para peneliti menduga bahwa walet kelapa mungkin tidur sambil melayang layaknya burung fregat, yang diketahui bisa tidur singkat saat meluncur di udara. Dugaan ini masih menjadi fokus studi lanjutan.
Berbeda dengan Burung Lainnya
Kemampuan terbang nonstop walet kelapa bahkan lebih mengagumkan dibandingkan dengan burung laut seperti albatros yang mampu terbang sekitar dua bulan tanpa mendarat. Bahkan swift lain, seperti alpine swift, hanya mampu terbang nonstop sekitar enam setengah bulan, jauh di bawah 10 bulan yang dicatat pada beberapa individu walet kelapa. Hal ini menjadikan walet kelapa satu rekor terbang terrestrial paling ekstrem di antara unggas yang diketahui saat ini.
Kemampuan Navigasi dan Adaptasi Unik
Burung walet termasuk dalam kelompok swift atau layang-layang (family Apodidae) yang dikenal sebagai burung yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di udara. Beberapa kerabat walet, seperti swiftlet, bahkan menggunakan echolocation (navigasi suara) untuk bernavigasi di gua gelap tempat mereka bersarang — sebuah kemampuan yang jarang ditemukan pada jenis burung lain.
Swiftlet dalam genus Aerodramus membangun sarang dari lapisan liur mereka sendiri di dinding gua, dan sering terbang tinggi serta cepat untuk mencari serangga di udara. Struktur tubuh yang ringan, kemampuan sensorik tinggi, dan adaptasi perilaku menjadikan mereka kelompok burung yang sangat efisien di udara.
Signifikansi Penelitian dan Wawasan Baru
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Current Biology ini tidak hanya menambah wawasan tentang dunia burung, tetapi juga menunjukkan betapa hebatnya adaptasi alam dalam menciptakan kemampuan ekstrem pada spesies tertentu. Studi ini membuka peluang baru bagi biologi evolusi dan pemahaman tentang strategi hidup makhluk di udara.
Para ilmuwan berharap bahwa penelitian lanjutan dapat menemukan lebih banyak tentang bagaimana burung walet kelapa mengelola tidur, metabolisme, dan navigasinya selama terbang panjang, serta bagaimana adaptasi ini menciptakan keunggulan evolusioner di lingkungan yang luas dan dinamis.

