Korelasi Antara Kepunahan Dinosaurus dan Siklus Reproduksi Mereka: Fakta Ilmiah yang Mengejutkan
Para ilmuwan dari University of Zurich dan Zoological Society of London menyatakan bahwa satu dari penyebab utama kepunahan massal dinosaurus mungkin bukan sekadar dampak eksternal seperti asteroid, melainkan berasal dari siklus reproduksi internal mereka. Menurut riset yang dipaparkan di Harapan Rakyat, reproduksi dinosaurus melalui telur dan pola pertumbuhan lambat ternyata memiliki konsekuensi panjang, terutama ketika menghadapi perubahan lingkungan drastis.
Siklus Reproduksi: Masalah Fundamental
Dinosaurus besar memiliki karakteristik reproduksi yang unik: induknya bisa memiliki bobot hingga 2.500 kali lipat dari bayi yang baru menetas. Hal ini berbeda jauh bila dibandingkan dengan mamalia besar modern, yang umumnya memiliki anak yang lebih besar relatif terhadap ukuran induknya. Karena ukuran telur terbatas dan cangkang telur harus cukup tebal untuk menyuplai oksigen ke embrio, pertumbuhan ukuran telur dinosaurus tidak bisa besar tanpa batas.
Akibatnya, bayi dinosaurus baru menetas memiliki ukuran yang sangat kecil jika dibandingkan dengan ukuran induknya. Ini kemudian berpengaruh pada kemampuan mereka bertahan hidup, terutama dalam situasi krisis lingkungan.
Ketergantungan pada Relung Ekologis yang Sempit
Para peneliti juga menyoroti bagaimana dinosaurus menempati relung ekologi yang sangat spesifik dan “tertutup” dalam hidupnya — artinya, baik induk maupun anak dinosaurus menempati tempat ekologis yang sama. Dinosaurus besar umumnya tidak berbagi relung ekologis dengan banyak spesies lain, sehingga persaingan intraspesies sangat tinggi. Anak-anak dinosaurus harus bersaing langsung dengan induk dan kerabatnya untuk mendapatkan sumber daya dan ruang hidup.
Sementara itu, mamalia lebih fleksibel. Mereka berkembang dalam berbagai ukuran dan spesies yang menempati berbagai relung ekologis. Ini memberi mereka keunggulan dari segi reproduksi dan pemulihan populasi, terutama saat menghadapi bencana besar.
Simulasi Komputer dan Analisis Ukuran Spesies
Dalam studi mereka, Marcus Clauss dan Daryl Cordon menggunakan simulasi komputer untuk mengeksplorasi bagaimana siklus reproduksi dinosaurus berinteraksi dengan ukuran tubuh mereka. Hasil simulasi menunjukkan kekurangan spesies dinosaurus berukuran kecil hingga sedang — yakni, dinosaurus dengan bobot antara 2 hingga 60 kg cenderung sedikit jumlahnya dibandingkan mamalia ukuran sebanding.
Kurangnya keragaman ini berpotensi mempercepat kepunahan. Anak dinosaurus dalam kisaran ukuran tersebut harus menghadapi tekanan kuat dari saudara-saudaranya yang lebih besar dan dari relung ekologis yang padat. Dalam jangka panjang, ini menyulitkan munculnya spesies baru yang mampu mengisi relung yang hilang, apalagi saat terjadi bencana besar.
Kasus Dinosaurus Kecil yang “Terbang” dan Kepunahan
Menariknya, penyelidikan menunjukkan bahwa beberapa dinosaurus kecil mungkin pernah “terbang”, mirip dengan burung purba. Namun, meski awalnya memiliki adaptasi seperti itu, generasi setelahnya gagal bertahan. Para ilmuwan percaya bahwa persaingan ukuran dan reproduksi membuat spesies kecil tidak bisa bertahan dalam jangka panjang.
Tekanan dari dinosaurus besar, ditambah mekanisme reproduksi yang lambat, akhirnya melemahkan populasi. Saat bencana besar, seperti dampak asteroid, populasi yang lambat beregenerasi tidak bisa cepat pulih. Inilah salah satu korelasi internal penting antara siklus reproduksi dinosaurus dan kepunahannya.
Implikasi untuk Evolusi dan Kepunahan Massal
Temuan ini memberi perspektif baru bahwa dinosaurus tidak hanya menjadi korban bencana eksternal, tetapi juga memiliki rentan biologis yang disebabkan oleh cara hidup dan siklus reproduksinya. Siklus bertelur, pertumbuhan yang lambat, dan ukuran tubuh yang sangat besar membuat mereka sangat rentan ketika kondisi lingkungan mendadak berubah.
Sebaliknya, mamalia purba yang lebih gesit dan cepat bereproduksi memiliki keunggulan evolusioner yang besar. Mereka bisa melahirkan lebih cepat dan menempati relung ekologis yang lebih beragam, memungkinkan adaptasi lebih fleksibel dan pemulihan populasi setelah krisis besar.
Penelitian seperti ini penting karena memberi pemahaman lebih dalam tentang mengapa beberapa kelompok hewan punah sementara kelompok lain selamat — bukan hanya karena faktor eksternal, tetapi juga karena faktor biologis internal yang kompleks.

