5 Tanda Seseorang Belum Benar-benar Move On Menurut Ilmu Psikologi
Jakarta — Mengakhiri sebuah hubungan emosional seringkali tidak semudah memutuskan kontak atau berhenti berkirim pesan dengan mantan pasangan. Menurut ilmu psikologi, move on adalah proses batin yang kompleks yang melibatkan pemaknaan kehilangan, pengaturan kembali emosi, serta pembangunan identitas baru — bukan hanya sekadar berhenti berkomunikasi.¹⁾
Seringkali seseorang mengira dirinya telah berhasil move on hanya karena telah “menutup jejak” secara sosial, padahal secara emosional mereka masih terikat. Berikut ini adalah lima tanda utama menurut psikolog yang menunjukkan bahwa seseorang belum benar-benar move on dari hubungan yang telah berakhir.¹⁾
1. Membandingkan Setiap Orang Baru dengan Mantan
Salah satu tanda paling jelas seseorang belum melepaskan masa lalunya adalah ketika mereka terus membandingkan orang baru yang masuk dalam hidupnya dengan mantan. Setiap pasangan baru seolah belum memenuhi standar yang ditetapkan oleh mantan, baik dalam hal sikap, penampilan, maupun cara berkomunikasi.¹⁾
Dalam psikologi, perilaku ini sering kali berkaitan dengan anchoring bias — yaitu kecenderungan otak menjadikan pengalaman masa lalu sebagai titik acuan utama dalam menilai realitas saat ini. Alih-alih membuka diri terhadap individu baru dengan pendekatan yang objektif, ingatan tentang mantan justru menjadi cermin yang selalu dibandingkan.¹⁾
Perbandingan terus-menerus seperti ini menunjukkan bahwa secara batin, ia masih belum siap menerima hubungan baru secara utuh karena masa lalu masih menjadi standar emosional utama.¹⁾
2. Sering ‘Stalking’ Media Sosial Mantan
Meski tidak berkomunikasi langsung, banyak orang tetap mencari tahu aktivitas mantan melalui media sosial. Menurut psikologi, kebiasaan ini bukan sekadar rasa penasaran biasa, tetapi sering kali menunjukkan kebutuhan untuk tetap terhubung secara emosional dengan mantan.¹⁾
Praktik ‘stalking’ semacam ini bisa memicu rasa cemburu, kesedihan, atau kekhawatiran yang dapat menghambat proses penyembuhan emosional. Penelitian dalam jurnal Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking menunjukkan bahwa semakin sering seseorang mengawasi mantannya secara digital, semakin sulit ia untuk benar-benar pulih setelah putus cinta.¹⁾
Beberapa orang memantau aktivitas mantan untuk mencari petunjuk bahwa mantan masih peduli — misalnya menyukai atau mengomentari foto lama. Namun rutinitas semacam ini sering memicu kembali kenangan emosional yang belum terselesaikan, sehingga proses move on semakin tertunda.¹⁾
3. Masih Menyimpan Rasa Benci yang Berlebihan
Menurut teori psikologi emosional, kemarahan atau kebencian yang berlebihan terhadap mantan justru merupakan tanda kuat bahwa keterikatan emosional masih berlangsung. Rasa benci yang mendalam bukanlah bukti bahwa seseorang telah lepas, tetapi justru menandakan bahwa emosinya masih hidup di masa lalu.¹⁾
Beberapa orang mengira bahwa benci memuncak berarti mereka sudah bisa memutuskan hubungan secara emosional. Padahal, kemarahan yang berkelanjutan sering kali merupakan cara batin mempertahankan kenangan terhadap mantan, meskipun dalam bentuk negatif. Robert Plutchik, psikolog terkenal yang mengembangkan teori emosi, menyatakan bahwa cinta dan kemarahan memiliki energi emosional yang serupa; alamat kuatnya satu emosi berarti masih tersisa keterikatan batin.¹⁾
Memproses emosi kemarahan sejati — bukan hanya mengekspresikannya — adalah langkah awal untuk melepaskan diri dari perasaan masa lalu dan membuka ruang bagi pertumbuhan emosional yang sehat.¹⁾
4. Terlalu Sibuk Membuktikan Diri Setelah Putus
Setelah putus, beberapa orang terburu-buru membangun kembali citra diri mereka. Mereka mengejar prestasi, penampilan fisik, atau pencapaian sosial sebagai upaya untuk “membuktikan sesuatu” kepada mantan. Dalam psikologi, pola ini dikenal sebagai external validation — bergantung pada pengakuan atau penilaian dari pihak lain untuk menilai kesejahteraan diri sendiri.¹⁾
Jika motivasi seseorang setelah putus cinta lebih banyak didorong oleh keinginan membuktikan kepada mantan bahwa mereka lebih baik dari sebelumnya, itu berarti mereka belum secara penuh move on secara batin. Fokusnya masih terikat pada masa lalu, bukan pada kehendak tulus untuk berkembang sebagai individu yang utuh.¹⁾
Menurut ahli psikologi, proses move on yang sehat seharusnya fokus pada pertumbuhan pribadi — bukan sekadar mengejar prestasi atau validasi dari luar. Ketika pencapaian hidup mulai dilihat sebagai hadiah untuk diri sendiri, bukan sebagai pembalasan atau pembuktian kepada mantan, maka tanda-tanda penyembuhan emosional yang sejati mulai tampak.¹⁾
5. Belum Bisa Memaafkan Termasuk Memaafkan Diri Sendiri
Tanda terakhir — dan sering dianggap sebagai yang paling sulit — adalah ketika seseorang belum bisa memaafkan mantan ataupun dirinya sendiri atas kenangan masa lalu. Dalam psikologi positif, terapi memaafkan menunjukkan bahwa melepaskan beban emosional bukan berarti melupakan atau membenarkan kesalahan, tetapi menerima dan mengatasi luka batin agar bisa melanjutkan hidup.¹⁾
Banyak orang merasa bersalah karena mereka pernah mencintai sepenuh hati, terlalu percaya, atau merasa “terlalu bodoh” dalam hubungan yang telah berakhir. Emosi semacam ini jika dibiarkan menumpuk dapat menjadi penghalang terbesar proses move on.¹⁾
Belum dapat memaafkan diri sendiri sering kali menjadi akar dari perasaan negatif yang terus berulang. Membuka diri untuk menerima pengalaman sebagai bagian dari perjalanan hidup, bukan sebagai beban permanen, adalah langkah penting untuk menyelesaikan proses menyedihkan tersebut.¹⁾
Penjelasan Ilmiah tentang Move On
Psikolog menjelaskan bahwa move on bukan hanya sekadar melupakan, tetapi juga mengintegrasikan pengalaman masa lalu ke dalam hidup baru dengan cara yang sehat dan sadar.¹⁾
Dalam konteks psikologi klinis, proses pemulihan emosional setelah putus cinta melibatkan beberapa tahapan, termasuk:
- Penerimaan realitas bahwa hubungan telah berakhir
- Pemeriksaan ulang ekspektasi dan pembelajaran dari pengalaman masa lalu
- Pembentukan identitas baru yang tidak lagi tergantung pada mantan
- Kemampuan untuk membuka diri terhadap hubungan baru tanpa bayangan emosional masa lalu
Jika seseorang gagal pada satu atau beberapa tahap ini, hal itu dapat membuat mereka terus terjebak dalam dinamika emosional masa lalu — tanda bahwa mereka belum benar-benar move on secara psikologis.¹⁾
Bagaimana Mengatasi Ketidakmampuan Move On
Menurut psikolog, mengenali tanda-tanda di atas adalah langkah pertama dalam menyembuhkan luka batin. Beberapa strategi yang dianjurkan meliputi:
- Membatasi atau menghentikan kontak digital dengan mantan, terutama melalui media sosial, untuk mengurangi keterikatan emosional yang masih tersisa.¹⁾
- Menulis jurnal perasaan atau berkonsultasi dengan konselor untuk memproses emosi yang belum terselesaikan.¹⁾
- Membina relasi sosial baru yang sehat sebagai cara untuk membangun kembali rasa percaya dan keterikatan secara positif.¹⁾
- Belajar memaknai hubungan masa lalu sebagai bagian dari pengalaman hidup, bukan sebagai beban permanen.¹⁾
Langkah-langkah ini membantu seseorang pindah dari sekadar “meninggalkan mantan” secara sosial ke proses penyembuhan emosional yang lebih mendalam dan bermakna.¹⁾
Kesimpulan
Move on adalah proses psikologis yang kompleks dan bukan sekadar berhenti berkomunikasi atau menjaga jarak. Lima tanda utama bahwa seseorang belum benar-benar move on adalah:
- Terus membandingkan orang baru dengan mantan.¹⁾
- Sering stalking media sosial mantan.¹⁾
- Masih menyimpan rasa benci berlebihan terhadap mantan.¹⁾
- Terlalu sibuk membuktikan diri setelah putus.¹⁾
- Belum mampu memaafkan mantan atau diri sendiri.¹⁾
Dengan memahami tanda-tanda ini dan mendekatinya secara sadar, seseorang dapat melangkah menuju pemulihan emosional yang sehat dan membuka ruang untuk hubungan baru yang lebih dewasa dan bermakna.¹⁾
Sumber Referensi Utama
• Beautynesia.id – 5 Tanda Seseorang Belum Benar-benar Move On Menurut Ilmu Psikologi (20 Okt 2025).

