đź§  Psikologi & Hubungan

Mantan Diblokir: Strategi “Self-Preservation” atau Sekadar Pelarian?

Di era di mana jejak digital lebih awet daripada kenangan fisik, menekan tombol block atau unfollow pada akun mantan kekasih sering kali memicu perdebatan. Sebagian menganggapnya sebagai tindakan dewasa untuk menjaga ketenangan, sementara yang lain menilainya sebagai bukti bahwa seseorang belum benar-benar “selesai” dengan masa lalunya.

Namun, benarkah memblokir mantan adalah indikator kelemahan mental? Secara psikologis, tindakan ini lebih tepat dilihat sebagai bentuk Self-Preservation atau perlindungan diri. Dalam proses pemulihan pasca-putus, otak manusia bekerja mirip dengan orang yang sedang mengalami sakau zat adiktif. Melihat foto atau aktivitas mantan di media sosial memicu lonjakan dopamin yang menciptakan ilusi kedekatan, yang justru menghambat proses penyembuhan luka emosional.

Fakta Psikologis: Mengapa Memblokir Itu Efektif?

Logika sains menjelaskan bahwa penyembuhan emosional membutuhkan jarak. Dalam psikologi, terdapat konsep yang disebut No Contact Rule. Memutus komunikasi—termasuk memantau kehidupan digital mantan—bukan berarti Anda membencinya, melainkan sedang memberikan ruang bagi sirkuit saraf otak untuk kembali tenang.

  1. Menghentikan Ruminasi: Terus melihat update hidup mantan memicu ruminasi, yaitu proses memikirkan kejadian masa lalu secara berulang dan destruktif. Memblokir memutus suplai data yang memicu pikiran-pikiran tersebut.
  2. Mencegah Komparasi Sosial: Saat melihat mantan tampak “bahagia” lebih cepat, otak kita secara otomatis melakukan perbandingan yang tidak adil terhadap proses diri sendiri. Ini bisa menurunkan harga diri (self-esteem) secara drastis.
  3. Menghapus Intermittent Reinforcement: Terkadang, mantan memberikan respons kecil (seperti menyukai postingan atau melihat story). Secara psikologis, ini adalah “imbalan intermiten” yang membuat Anda tetap terikat dan berharap, padahal hubungan sudah berakhir.

Masih Sakit? Ya, dan Itu Tidak Apa-apa

Banyak orang ragu memblokir karena takut dianggap “masih sakit hati”. Faktanya, memblokir memang sering kali dilakukan saat seseorang masih merasa sakit. Namun, mengakui rasa sakit dan mengambil langkah nyata untuk meminimalisir pemicunya adalah tanda kedewasaan emosional, bukan kelemahan.

Memblokir justru merupakan pengakuan yang jujur: “Aku belum cukup kuat untuk melihatmu setiap hari tanpa merasa terluka, jadi aku memilih untuk tidak melihatmu sementara waktu.” Tindakan ini jauh lebih sehat daripada tetap berteman secara digital namun diam-diam melakukan stalking yang menyiksa batin.

Mitos “Dewasa Itu Tidak Perlu Blokir”

Stigma bahwa orang dewasa harus tetap berteman atau setidaknya tetap saling mengikuti di media sosial adalah jebakan norma sosial yang tidak sehat. Kedewasaan tidak diukur dari jumlah mantan yang ada di daftar pengikut Anda, melainkan dari kemampuan Anda menetapkan batasan (boundaries) demi kedamaian pikiran sendiri.

Jika membiarkan akses komunikasi tetap terbuka justru membuat Anda cemas, tidak fokus bekerja, atau terus-menerus menunggu notifikasi, maka mempertahankan pertemanan digital tersebut adalah tindakan yang tidak logis bagi kesehatan mental Anda.

Kapan Blokir Dianggap Berhasil?

Blokir dikatakan sebagai bagian dari proses move on yang berhasil ketika motifnya bukan lagi untuk “menghukum” atau mencari perhatian mantan agar ia merasa kehilangan, melainkan untuk memberi ruang bagi diri sendiri.

Tanda Anda benar-benar move on bukan terletak pada apakah Anda memblokirnya atau tidak, melainkan pada saat Anda tidak lagi memiliki dorongan emosional untuk memeriksa profilnya, baik akun tersebut diblokir maupun tidak. Blokir hanyalah “alat bantu” jalan, mirip kruk bagi orang yang kakinya sedang patah. Anda memakainya agar bisa berjalan tanpa rasa sakit yang berlebih, hingga suatu saat Anda cukup kuat untuk berjalan sendiri tanpa bantuan alat tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *