Psikolog Imbau Hindari Membandingkan Hubungan dengan Standar Media Sosial
Jakarta — Seiring maraknya konten pasangan viral di platform seperti TikTok dan Instagram, seorang psikolog menyampaikan peringatan penting: membandingkan hubungan pribadi dengan standar yang muncul dari media sosial dapat memicu ekspektasi yang tidak realistis, ketidakpuasan dalam hubungan, bahkan konflik.
Ekspektasi yang Terbangun dari Konten Viral
Konten romantis, kejutan pasangan, hingga perjalanan “mewah” keduanya kini mudah ditemukan di linimasa. Namun menurut psikolog, apa yang dipamerkan di media sosial seringkali adalah “highlight reel” — momen terbaik yang dipilih secara selektif, bukan kisah sehari-hari yang utuh.
Saat seseorang menonton video atau unggahan yang menampilkan pasangan ideal — makan malam mewah, liburan luar negeri, atau gesture romantis secara terus-menerus — muncul kecenderungan untuk membandingkan diri. Psikolog menyebut tindakan ini bisa mengubah standar yang seharusnya subyektif menjadi tuntutan eksternal.
Dampak Negatif Terhadap Hubungan
Beberapa dampak yang umum muncul akibat pembandingan tersebut meliputi:
- Rasa tidak cukup: Seseorang bisa merasa bahwa hubungan mereka kurang romantis, atau mereka sendiri kurang perhatian dibanding pasangan “ideal” dalam konten.
- Terlalu banyak tuntutan: Menjadi terobsesi untuk menciptakan momen seperti dalam unggahan bisa memunculkan tekanan finansial atau emosional.
- Komunikasi yang memburuk: Fokus pada tampilan luar membuat pasangan mungkin enggan menunjukkan kelemahan, sehingga kejujuran dalam hubungan bisa menurun.
- Kecemburuan dan curiga: Ketika standar media sosial menampilkan “pasangan sempurna”, muncul kecemasan bahwa pasangan sendiri atau pasangan orang lain hidup lebih bahagia.
Psikolog menekankan bahwa faktor terkuat yang memengaruhi kepuasan hubungan adalah rasio positif : negatif dalam interaksi harian, bukan jumlah momen “wow” yang bisa dibagikan di media sosial.
Kenapa Standar Sosial Media Bisa Menyesatkan?
Media sosial mudah memberi ilusi bahwa semua orang menjalani kehidupan dan hubungan yang sempurna. Beberapa alasan kenapa standar ini menyesatkan:
- Konten dibuat untuk ditonton, disukai dan dibagikan — bukan dokumentasi realistis keseharian.
- Algoritma platform cenderung memprioritaskan video dan foto yang menimbulkan reaksi kuat, sehingga konten biasa-biasa saja jadi terpinggirkan.
- Tidak semua yang dibagikan merefleksikan realitas: ada proses penyuntingan, pemilihan sudut pandang, dan bahkan pemanfaatan “bonus momen”.
Ketika individu membandingkan kehidupan nyata mereka dengan versi yang sudah diedit dan dipromosikan ke publik, muncul jurang antara harapan dan kenyataan.
Saran Praktis untuk Pasangan
Psikolog memberikan sejumlah saran agar pembandingan tak merusak hubungan:
- Sadari bahwa media sosial bukan tolok ukur hubungan sehat — Bicarakan bersama pasangan bahwa setiap hubungan memiliki ritme dan tantangan tiap harinya.
- Tetapkan bersama nilai dan prioritas hubungan kalian — Fokus pada hal-hal yang benar-benar berarti bagi kalian pribadi, bukan hanya apa yang “akan diposting”.
- Kurangi konsumsi konten yang memicu pembandingan — Bila sering merasa buruk setelah melihat postingan orang lain, coba kurangi waktu menonton atau ikuti akun yang menimbulkan tekanan.
- Percaya pada proses, bukan hanya hasil estetis — Momen kecil seperti ngobrol santai, saling membantu, atau menjaga komunikasi adalah pondasi jangka panjang.
- Gunakan media sosial untuk memperkuat, bukan mendefinisikan hubungan — Posting bersama bisa menyenangkan, tetapi jangan sampai menjadi tolok ukur kebahagiaan.
Pikiran Akhir: Fokus ke Koneksi, Bukan Konten
Dalam era di mana segala momen mudah dibagikan — setiap makan malam, liburan, atau kejutan — psikolog mengingatkan agar kita tidak tertipu oleh aksen glamor semata. Hubungan yang sehat dibangun dari kejujuran, saling menghargai, dan pertumbuhan bersama dalam keseharian.
Membandingkan hubungan dengan standar media sosial bukan hanya tidak adil untuk diri sendiri, tetapi juga bisa merusak fondasi yang telah dibangun bersama pasangan. Dengan menata ulang harapan dan komunikasi, pasangan dapat menciptakan kebahagiaan yang tidak bergantung pada likes atau followers — melainkan pada dua orang yang benar-benar hadir untuk satu sama lain.

