Insight LokalSosial🧠 Psikologi & Hubungan

Kenapa Orang Bisa Jadi Lebih Galak Saat Ditagih Utang? Ini Penjelasan Psikiater IPB

Jakarta — Pernah melihat atau mengalaminya sendiri? Ketika seseorang ditagih utang, sering kali respons yang muncul justru adalah kemarahan, sikap defensif, atau bahkan agresif, meskipun penagihan dilakukan secara santun. Fenomena ini bukan sekadar stereotip sosial semata — menurut pakar psikologi dan neurosains, respons tersebut sesungguhnya memiliki penjelasan biologis dan psikologis yang bisa dipahami.

Menurut dr Riati Sri Hartini, SpKj, MSc — dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi sekaligus psikiater di IPB University — reaksi emosi yang “galak” saat ditagih utang ternyata bukan sesuatu yang disengaja atau hanya karena orang tersebut “suka marah”. Sebaliknya, hal itu merupakan respons stres akut yang dipicu oleh tekanan finansial dan ancaman terhadap harga diri seseorang.


Biologi Otak: Defensif dan “Fight-or-Flight”

Secara biologis, ketika seseorang dihadapkan pada situasi yang mengancam — seperti ditagih utang — otak dapat secara otomatis memicu respons fight or flight (bertarung atau menghindar).

Bagian otak yang disebut amigdala, yang berperan sebagai pusat deteksi ancaman, akan aktif saat seseorang merasa terpojok. Ketika amigdala aktif, bagian lain dari otak yang bertugas mengendalikan emosi dan berpikir rasional — yakni prefrontal cortex — bisa mengalami penurunan efektivitas.

Akibatnya, bukan hanya emosi yang meningkat, tetapi juga kemampuan seseorang untuk merespons dengan tenang dan rasional menurun. Ini menyebabkan individu bisa tampak lebih defensif atau bahkan “galak” ketika dihadapkan pada konfrontasi seperti penagihan utang.


Stres Finansial dan Harga Diri: Kombinasi yang Meningkatkan Emosi

Menurut dr Riati, tekanan yang datang dari kondisi finansial yang sulit — seperti memiliki utang yang belum terbayar — secara langsung menimbulkan stres akut. Ini bukan hanya sekadar stres biasa, tetapi stres yang memengaruhi fungsi emosional dan kognitif seseorang secara signifikan.

Ketika seseorang merasa terancam secara finansial dan sosial, ada perasaan malu, takut kehilangan harga diri, atau kekhawatiran soal status sosial. Ketika emosi ini terpicu, reaksi yang muncul mungkin termasuk kemarahan, defensif, atau bahkan agresif meskipun tidak direncanakan.

Respons semacam ini sendiri bukan merupakan gangguan jiwa, melainkan sebuah reaksi stres akut yang normal. Ketika situasi stres mereda, biasanya respons emosional yang intens ini juga akan menurun.


Stress Akut: Reaksi Tubuh yang Membantu Bertahan

Dr Riati menjelaskan bahwa respons marah ketika ditagih utang termasuk dalam istilah acute stress response — reaksi tubuh yang normal ketika menerima ancaman secara tiba-tiba.

Respons ini bisa mirip dengan reaksi saat seseorang menghadapi situasi lain yang memicu kecemasan, seperti kegagalan, konflik interpersonal, tekanan pekerjaan, atau bahkan kelelahan akibat kurang tidur. Dalam konteks psikologi, ketika tubuh menganggap sesuatu sebagai ancaman, respon defensif seringkali lebih dominan daripada respon reflektif atau rasional.


Siapa yang Menagih Berpengaruh pada Respons Emosi

Menariknya, bukan hanya masalah utang itu sendiri yang menentukan reaksinya, tetapi juga siapa yang melakukan penagihan.

  • Jika yang menagih adalah orang dekat, seperti teman atau keluarga, seseorang sering merasa malu atau tersinggung, karena penagih tersebut dianggap tahu tentang kelemahan finansial mereka. Ini dapat memperburuk respons emosional.
  • Jika yang menagih adalah pihak ketiga — misalnya debt collector profesional — perasaan yang muncul bisa berupa rasa terancam yang lebih besar, karena orang merasa dikontrol atau “dikejar”. Ini juga sering memicu amigdala otak menjadi semakin aktif sehingga emosinya semakin tinggi.

Meskipun reaksi tampak serupa secara luar (marah, galak), motif emosi tersebut bisa berasal dari latar yang berbeda tergantung pada situasi dan hubungan antarindividu.


Batas Antara Respons Normal dan Masalah Emosional

Walaupun respons defensif atau galak saat ditagih utang dapat terjadi pada banyak orang, dr Riati menekankan bahwa respons ini bersifat normal secara psikologis.

Namun, ada batasan. Jika kemarahan tidak hanya muncul pada saat ditagih utang, tetapi terus berlanjut, semakin tak terkendali, atau disertai gangguan tidur, perasaan putus asa, atau perilaku berisiko, ini bisa menjadi tanda bahwa seseorang mengalami masalah emosional yang lebih kompleks yang perlu ditangani secara profesional.


Mengapa Respons Itu Tidak Sama dengan Gangguan Mental

Dr Riati juga menegaskan bahwa reaksi marah yang muncul saat ditagih utang tidak sama dengan gangguan mental.

Sangat penting untuk membedakan antara emosi normal sebagai respons terhadap situasi yang menekan dan gejala gangguan mental yang memerlukan penanganan profesional. Marah saat ditagih utang adalah ekspresi dari reaktivitas stres, bukan tanda gangguan psikologis.


Cara Meredam Emosi saat Menagih atau Ditagih

Menghadapi orang yang galak saat ditagih utang membutuhkan pendekatan yang hati-hati dan strategis. Menurut dr Riati, cara yang tepat dapat menurunkan respons emosional dan mendorong percakapan yang konstruktif.

Berikut beberapa pendekatan yang disarankan:

  • Tetap tenang: Jangan menambah tekanan dengan nada agresif atau mempermalukan orang yang ditagih.
  • Gunakan nada bicara pelan: Nada yang tenang dapat membantu menenangkan suasana.
  • Hindari menyudutkan: Fokus pada solusi bersama, bukan menyalahkan secara emosional.
  • Ajak diskusi solusi bersama: Alih-alih konfrontasi, ajak bicara tentang bagaimana menyelesaikan utang dengan rencana yang realistis.

Pendekatan yang santun dan rasional cenderung membantu menenangkan emosi yang sedang memuncak dan membuka peluang dialog yang lebih produktif.


Utang dan Kesehatan Mental (Konteks Tambahan)

Fakta menunjukkan bahwa utang dan masalah keuangan dapat berdampak luas terhadap kesehatan mental seseorang. Stres finansial sering kali menimbulkan kecemasan, gangguan tidur, depresi, bahkan hubungan interpersonal memburuk.

Menurut penelitian yang dikutip oleh Money and Mental Health Policy Institute, hampir setengah responden yang mengalami masalah utang juga melaporkan adanya masalah kesehatan mental terkait.

Selain itu, faktor stres ini terkait dengan kecemasan, perubahan perilaku, dan efek emosional yang mendalam, sehingga membantu orang memahami bahwa respons emosional saat ditagih utang adalah bagian dari realitas psikologis yang kompleks.


Kesimpulan

  • Respons “galak” dan defensif saat ditagih utang merupakan reaksi stres akut yang dipicu oleh tekanan finansial dan ancaman terhadap harga diri.
  • Otak secara biologis memicu mekanisme fight or flight sehingga kemampuan mengendalikan emosi menurun saat menghadapi situasi yang menekan.
  • Sikap tersebut bukan tanda gangguan mental, tetapi merupakan respons normal yang bisa dirasakan oleh banyak orang.
  • Pendekatan komunikasi yang tenang dan solutif cenderung lebih efektif dalam menghadapi situasi penagihan utang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *