Luka Yang Di Terima Akibat KDRT Tidak Bisa Di Sepelekan
(Jakarta)29/09/2025 – Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) bukan sekadar benturan fisik yang meninggalkan bekas di tubuh. Banyak dari luka yang ditimbulkan tidak tampak — psikologis, emosi, trauma jangka panjang. Meskipun kerap disamarkan di balik “konflik keluarga biasa”, kenyataan menunjukkan bahwa KDRT meninggalkan dampak serius bagi korban, keluarga, dan masyarakat luas.
Bentuk Kekerasan dalam Rumah Tangga
KDRT bisa muncul dalam berbagai bentuk — tidak semua berupa pukulan atau tendangan. Berikut ini beberapa jenis yang sering terjadi:
Kekerasan fisik
Benturan, tamparan, dorongan, atau penggunaan benda terhadap tubuh korban.
Kekerasan psikologis / emosional
Merendahkan, mengejek, mengintimidasi, isolasi sosial, memanipulasi perasaan.
Kekerasan seksual
Pemaksaan seksual di dalam rumah tangga, tekanan atau pemaksaan dalam hubungan intim.
Kekerasan ekonomi / finansial
Menahan akses terhadap uang, melarang korban bekerja, membatasi kontrol finansial.
Kekerasan digital / teknologi
Penguntitan online, pengawasan media sosial erat, penyalahgunaan pesan atau teknologi sebagai kontrol.
Mengapa KDRT Masih Sering Terjadi ?
Banyak Faktor yang masih menjadi pemicunya kdrt yang kerap terjadi di sekitar lingkungan kita.budaya patriarki dan normal sosial yang memandang setiap konflik rumah tangga sebagai hal tertutup ” urusan dalam rumah tangga masing-masing ” dan juga keterbatasan ekonomi yang secara finansial bergantung pada pelaku KDRT sehingga merasa sulit lepas dari situasi tersebut.Kurangnya layanan bantuan pada wilayah terpencil atau masyarakat dengan akses terbatas, korban sulit mendapatkan perlindungan hukum, layanan psikologis, atau dukungan sosial.
Dampak KDRT itu sendiri pada anak dan keluarga, Anak yang menyaksikan kekerasan mungkin meniru pola agresi atau mengalami gangguan psikologis. Keluarga terpecah, ikatan emosional rusak.
Migrasi sosial dan ekonomi
Korban bisa terpaksa pindah tempat tinggal, kehilangan pekerjaan, atau terisolasi.
Kisah Nyata: Menyembunyikan Luka
Bayangkan seorang wanita bernama “Maya”. Di depan orang, rumahtangganya tampak normal. Namun malam hari ia terusik insomnia karena ejekan dan tekanan dari pasangannya. Meski tak pernah dipukul, Maya merasa “kehilangan dirinya sendiri”: takut berbicara, menghindar bertemu teman, hilang kepercayaan diri.
Suatu ketika, Maya mencoba mencari bantuan. Tapi kecanggungan sosial dan ketakutan terhadap stigma membuatnya ragu. Lukanya tidak tampak di mata, namun setiap kata “kamu salah sendiri” atau pemaksaan kecil pada keinginannya mencengkeram dalam jiwa.
Kisah seperti Maya bukan langka. Banyak korban KDRT tidak berbicara karena takut dianggap lemah atau “membesar-besarkan masalah rumah tangga”.

