Psikolog Sebut Generasi Ini Lebih Rentan Depresi: Siapa Mereka dan Kenapa?
Jakarta kilasjurnal.id — Banyak psikolog menyatakan bahwa generasi muda saat ini menghadapi tekanan mental yang lebih besar dibanding generasi sebelumnya, dan ini berpotensi meningkatkan risiko depresi. Istilah yang kerap muncul dalam diskusi kesehatan mental adalah Generasi Z sebagai salah satu kelompok paling rentan. Beberapa ahli bahkan mengaitkan fenomena ini dengan perkembangan digital dan perubahan sosial yang cepat.
Siapa Generasi yang Dimaksud?
Istilah “generasi ini” dalam banyak analisis merujuk pada Generasi Z (Gen Z), yaitu mereka yang lahir kira-kira antara tahun 1997 hingga 2012. (. (/) Undip dan sejumlah pakar menyebut bahwa Gen Z tumbuh di era internet dan media sosial yang sangat dominan, kondisi yang berbeda secara drastis dari generasi sebelumnya.
Sementara itu, beberapa psikolog juga menyebut Generasi Alpha sebagai kelompok baru yang tak kalah rentan. Generasi Alpha adalah anak-anak lahir kira-kira sejak 2010 hingga pertengahan 2020-an, yang sejak kecil sudah sangat akrab dengan dunia digital penuh layar.
Apa Alasan Psikolog Mengatakan Mereka Lebih Rentan Depresi?
Beberapa faktor utama yang sering dikemukakan pakar:
- Tekanan Media Sosial
Gen Z tumbuh di era media sosial yang sangat intens. Menurut pakar, paparan konten media sosial bisa mendorong perbandingan sosial, rasa tidak cukup, dan tekanan untuk “terlihat sempurna.” - Kecanduan Teknologi dan Informasi Berlebihan
Generasi muda saat ini sangat terpapar informasi cepat dan tak henti. Untuk Gen Alpha, yang lahir dalam dunia digital, tekanan dari akses teknologi sejak dini bisa menyebabkan kelelahan emosional (emotional burnout). - Regulasi Emosi yang Belum Matang
Studi psikologi menemukan bahwa Gen Z masih dalam tahap mengembangkan mekanisme pengaturan emosi (regulasi emosi). Mereka belum memiliki strategi coping yang matang untuk menghadapi stres yang intens. - Tingkat Ketidakpastian Hidup Lebih Tinggi
Banyak Gen Z menghadapi tantangan ekonomi dan sosial yang lebih rumit: kompetisi kerja tinggi, tekanan karir, serta ketidakpastian masa depan menjadi beban psikologis tersendiri. - Literasi Kesehatan Mental yang Masih Rendah
Meski generasi muda lebih terbuka membicarakan masalah mental, banyak orang tua dan lingkungan pendidikan belum dilengkapi pemahaman yang cukup untuk mendeteksi dan mendukung depresi atau kecemasan sejak awal.
Dampak terhadap Kesehatan Mental
Karena faktor-faktor tersebut, Gen Z dan Gen Alpha menghadapi risiko kesehatan mental yang lebih besar. Berikut dampak yang sering diamati:
- Frekuensi Konsultasi Psikolog atau Konselor: Banyak Gen Z yang mencari bantuan profesional karena tekanan mental yang tak tertangani.
- Gejala Depresi: Termasuk mood rendah berkepanjangan, kehilangan minat, kelelahan emosional, hingga pikiran putus asa.
- Tanda Awal Stres Mental: Psikolog mengingatkan masyarakat untuk tidak mengabaikan perubahan kecil, seperti mood yang konsisten murung, kelemahan energi, dan isolasi.
- Potensi Burnout: Untuk generasi Alpha, kelelahan emosional sejak dini bisa menjadi pola yang sulit diatasi tanpa intervensi kesehatan mental yang baik.
Pandangan Ahli & Organisasi
- Psikolog dari Universitas Diponegoro (UNDIP) menyatakan bahwa meski Gen Z rentan, bukan berarti mereka lemah. Mereka perlu bimbingan dan pemahaman dari keluarga serta lembaga pendidikan agar bisa mengatur tekanan digital dengan sehat.
- Dari lembaga pendidikan dan kebijakan, beberapa pihak mendesak agar sekolah memperkuat pendidikan kesehatan mental serta menyiapkan guru sebagai konselor agar bisa lebih cepat mendeteksi masalah.
- Sementara itu, survei dan penelitian dari berbagai institusi menunjukkan bahwa dukungan sosial jangka panjang dan literasi emosi bisa sangat membantu mengurangi risiko depresi di kalangan generasi muda.
Langkah yang Bisa Dilakukan untuk Mengurangi Risiko
Berdasarkan pandangan psikolog dan pakar kesehatan mental, berikut beberapa langkah yang bisa diterapkan oleh individu, keluarga, dan institusi:
- Pendidikan Literasi Emosi di Sekolah
Sekolah perlu memasukkan kurikulum atau program tentang kesehatan mental agar siswa memahami dan mengenali stres serta kecemasan sejak dini. - Pelatihan Orang Tua
Orang tua perlu diberi pelatihan atau edukasi cara mengenali tanda depresi dan menciptakan lingkungan emosional yang aman bagi anak, terutama di era digital. - Ketersediaan Konseling dan Psikolog
Menyediakan akses mudah ke konselor atau psikolog di sekolah dan komunitas lokal agar bisa menangani masalah mental sebelum berkembang menjadi lebih berat. - Pengelolaan Paparan Teknologi
Mendorong generasi muda untuk menetapkan “batas teknologi”: misalnya waktu tanpa gadget, digital detox, dan pembatasan konten yang dikonsumsi di media sosial. - Kampanye Kesehatan Mental
Pemerintah dan lembaga non-pemerintah bisa merangkul generasi muda melalui kampanye kesehatan mental agar stigma depresi dapat dikurangi.
Catatan Penting
- Meskipun banyak faktor menunjukkan bahwa Gen Z dan Gen Alpha rentan depresi, tidak semua individu dalam generasi ini akan mengalami depresi. Risiko bersifat probabilistik, bukan kepastian.
- Penanganan depresi harus dilakukan individu ke individu — tidak selalu solusi satu ukuran cocok untuk semua.
- Deteksi dini sangat krusial: mengenali tanda awal stres berat atau perubahan mood sangat penting untuk mencegah depresi yang lebih parah.
- Isu kesehatan mental pada generasi muda juga merupakan isu sosial dan kebijakan; perlu kolaborasi antara pemerintah, sekolah, keluarga, dan lembaga kesehatan mental.
Kesimpulan
Psikolog menyebut bahwa generasi muda saat ini — terutama Generasi Z dan bahkan Generasi Alpha — lebih rentan terhadap depresi dibanding generasi sebelumnya karena tekanan digital, perbandingan media sosial, regulasi emosi yang belum matang, dan ketidakpastian hidup.
Meski demikian, risiko itu bisa dikelola dengan pendidikan kesehatan mental, dukungan keluarga, dan kebijakan publik yang tepat. Memahami dan merespons tantangan mental generasi ini bukan hanya soal kesehatan individu, tetapi tanggung jawab sosial besar untuk masa depan yang lebih seimbang secara emosional.

