Gaya HidupInsight Lokal🏥 Kesehatan📰 Kilasan Harian

Mau Jajal Intermittent Fasting di 2026? Wanti-wanti Dokter Gizi Sebelum Memulai

Jakarta Kilasjurnal.id — Memasuki awal 2026, banyak orang menaruh harapan besar pada resolusi gaya hidup sehat — salah satunya dengan mencoba metode diet populer seperti intermittent fasting (IF). Pola makan ini kian viral di kalangan pejuang berat badan dan mereka yang ingin meningkatkan kesehatan metabolik, tetapi perlu catatan khusus dari para ahli sebelum dijajal tanpa perhitungan matang.

Intermittent fasting bukan sekadar tren diet biasa, melainkan pola makan yang menekankan waktu makan dan puasa secara teratur untuk membantu mengatur asupan kalori. Dalam beberapa studi, IF dikaitkan dengan berbagai manfaat kesehatan jika dilakukan dengan benar, namun dokter gizi juga mengingatkan bahwa diet ini tidak otomatis cocok untuk semua orang, khususnya mereka dengan kondisi medis tertentu.


Apa Itu Intermittent Fasting dan Cara Kerjanya?

Metode intermittent fasting pada intinya mengatur jadwal waktu makan dan waktu puasa, bukan membatasi jenis makanan yang dikonsumsi. Ada berbagai pola yang umum diterapkan, termasuk:

  • Metode 16:8: Puasa selama 16 jam, makan dalam jendela 8 jam.
  • Metode 12:12: Puasa 12 jam dan makan dalam 12 jam — cocok untuk pemula.
  • Metode 5:2: Makan seperti biasa 5 hari dalam seminggu, sedangkan 2 hari sisanya hanya membatasi kalori sekitar 500–600 kkal.
  • Alternate-day fasting: Bergantian antara puasa dan makan normal setiap hari.

Prinsip dasar IF adalah memberi tubuh waktu panjang tanpa asupan kalori sehingga sistem metabolisme dapat bekerja lebih efisien — termasuk memanfaatkan cadangan lemak sebagai sumber energi. Metode ini membuat IF terasa lebih fleksibel ketimbang diet yang terlalu membatasi jenis makanan tertentu.


Pesan Dokter Gizi: Konsultasikan Kondisi Sebelum Mulai Diet

Dalam liputan Detik Health, dokter gizi klinis dari RS St Carolus Salemba, Dr dr Yohannessa Wulandari, MGizi, SpGK, memberi ingatannya terkait tren diet ini. Menurutnya, meski IF dikenal luas dan sering dipilih sebagai strategi penurunan berat badan, tidak semua orang cocok menjalankan pola puasa ini tanpa perhitungan medis yang tepat.

Terlalu lama durasi puasanya tentu tidak cocok buat yang diabetes, apalagi diabetesnya yang pakai insulin,” ujar dr Yohanessa, menekankan bahwa kondisi klinis tertentu bisa membuat IF justru berisiko bagi kesehatan jika dilakukan sendirian tanpa bimbingan profesional.

Dokter gizi ini juga menekankan pentingnya konsultasi langsung ke ahli yang kompeten, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit atau kondisi khusus seperti penyakit metabolik, gangguan hati, atau kebutuhan nutrisi spesifik lainnya.


Manfaat Intermittent Fasting Jika Dilakukan Benar

Banyak penelitian menunjukkan bahwa IF bukanlah diet fad belaka. Ketika dilakukan secara teratur dan disesuaikan dengan kebutuhan individu, puasa berkala ini dapat memberi manfaat berikut:

1. Memperbaiki Regulasi Gula Darah

Dengan memberikan jeda yang panjang antara waktu makan, IF dapat membantu tubuh menyusun ulang respons terhadap insulin — hormon yang penting dalam pengelolaan gula darah.

2. Mendukung Penurunan Berat Badan

Karena istilah asupan kalori lebih terkendali berdasarkan jadwal makan, beberapa orang melihat hasil penurunan berat badan lebih cepat dibandingkan pola makan biasa tanpa pembatasan waktu.

3. Meningkatkan Sensitivitas Metabolik

Bila pola makan harian diatur dengan teratur, tubuh akan beradaptasi pada penggunaan energi cadangan — membantu proses pembakaran lemak tanpa rasa lapar berkepanjangan.

Namun semua manfaat ini tidak otomatis terjadi pada semua orang dan tetap bergantung pada jenis makanan yang dikonsumsi saat jendela makan, serta kondisi kesehatan peserta diet itu sendiri.


Risiko Jika Dilakukan Tanpa Bimbingan Medis

Dokter gizi juga memperingatkan bahwa IF bukan strategi aman secara universal. Beberapa risiko yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Kadar gula darah tidak stabil, terutama pada penderita diabetes atau orang yang memakai insulin.
  • Penurunan energi berlebihan jika periode puasa terlalu panjang tanpa asupan yang memadai saat jendela makan.
  • Gangguan pencernaan bila jadwal makan tidak seimbang atau tidak memperhatikan kebutuhan nutrisi dasar.

Bahkan beberapa narasumber gizi menyebut bahwa diet ekstrem tanpa perhitungan medis bisa berdampak negatif pada kondisi hati, tekanan darah, dan metabolisme tubuh secara umum.


Gizi Seimbang Tetap yang Utama

Saran profesional tidak hanya berhenti pada durasi puasa, tetapi juga komposisi nutrisi makanan saat jendela makan. Menurut ahli, kunci diet sehat tetaplah pola makan seimbang yang mencakup:

  • Karbohidrat berkualitas, seperti biji-bijian utuh dan serat tinggi.
  • Sumber protein lengkap dari hewani maupun nabati.
  • Lemak sehat seperti minyak zaitun, alpukat, dan kacang-kacangan.
  • Sayuran dan buah untuk kebutuhan vitamin, mineral, serta antioksidan.

Dokter gizi sering menegaskan bahwa balanced diet akan selalu lebih aman dan efektif ketimbang sekadar mengikuti tren diet yang sedang populer jika tidak ditunjang pemahaman gizi yang kuat.


Peran Profesional Gizi dalam Diet

Bagi banyak orang, menjalani diet tanpa panduan profesional dapat membuat prosesnya kurang efektif bahkan berbahaya. Konsultasi dengan dokter gizi atau ahli diet resmi penting untuk:

  • Menilai kebutuhan kalori berdasarkan usia, berat badan, dan aktivitas.
  • Menentukan jadwal makan puasa yang aman sesuai kondisi kesehatan.
  • Menyusun menu nutrisi seimbang untuk mendukung tujuan diet.

Beberapa pengalaman komunitas digital bahkan menyebut bahwa tanpa bimbingan nutrisionis, diet seperti IF bisa berujung pada gangguan hormon, kelelahan kronis, atau bahkan trauma pencernaan bagi sebagian orang.


Kesimpulan: IF Bisa Jadi Strategi, Asal Bijak dan Aman

Intermittent fasting bisa menjadi salah satu strategi diet yang efektif dan populer di tahun 2026 — terutama bagi mereka yang ingin mengatur pola makan tanpa pembatasan jenis makanan. Namun, pesan utama dari dokter gizi tetaplah: pahami dulu kondisi tubuhmu, jangan meniru tren tanpa konsultasi, dan utamakan gizi seimbang.

Pada akhirnya, diet yang aman bukan hanya tentang durasi puasa, tetapi bagaimana kamu menyusun pola makan yang sehat, realistis, dan berkelanjutan bersama petunjuk ahli — agar resolusi sehat di tahun 2026 benar-benar membawa manfaat maksimal bagi tubuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *