🏥 Kesehatan🧠 Psikologi & Hubungan

Mengapa Sebagian Orang Memutuskan Berhenti dari Media Sosial: 5 Kepribadian yang Jadi Kunci di Balik Keputusan itu

Fenomena berhenti dari media sosial bukan sekadar tren — ini mencerminkan cara pandang dan tipe kepribadian tertentu terhadap kehidupan digital dan identitas pribadi.

PHNOM PENH Kilasjurnal.id — Di era digital yang serba terhubung ini, media sosial tampak seperti kebutuhan hampir setiap orang. Namun belakangan fenomena “keluar dari media sosial” mulai tumbuh, terutama di kalangan mereka yang punya kesadaran diri lebih tinggi tentang dampak platform digital terhadap hidup. Tidak sedikit orang yang memilih untuk menonaktifkan, mengurangi, atau bahkan menghapus akun media sosial mereka sama sekali.

Keputusan tersebut sering dianggap aneh oleh sebagian orang. Padahal, keputusan ini sering kali berakar kuat dari karakter kepribadian yang mendasar. Berikut ini adalah lima tipe kepribadian yang cenderung memilih menjauh dari dunia media sosial, lengkap dengan alasan psikologis dan sosial yang mendasarinya.


1. Individu yang Mandiri Secara Emosional

Salah satu kelompok yang paling sering membuat keputusan untuk meninggalkan media sosial adalah mereka yang kuat secara emosional. Individu semacam ini memiliki kualitas self-validation yang kuat — mereka tidak lagi membutuhkan likes, komentar, atau jumlah pengikut untuk merasa diterima atau berharga.

Orang dengan kepribadian ini biasanya sudah menemukan sumber harga diri dari dalam diri sendiri. Mereka mampu memisahkan nilai diri mereka dari pujian atau respons digital publik. Ketika seiring waktu mereka mulai merasa bahwa pujian digital kurang berarti, tekanan untuk tampil di media sosial pun berkurang drastis.

Keputusan untuk mondok dari dunia maya sering dilatarbelakangi oleh keinginan untuk memperoleh kedamaian batin, mengurangi ketergantungan terhadap opini eksternal, dan mengembalikan fokus pada pemenuhan kebutuhan secara internal—bukan sekadar memenuhi ekspektasi orang lain.


2. Pemikir Analitis yang Sadar Akan Biaya Media Sosial

Kelompok kedua adalah mereka yang berpikir secara analitis dan kritis mengenai peran media sosial dalam hidup mereka. Orang-orang ini bukan sekadar “bosan” dengan media sosial, tetapi mereka mengakui secara sadar bagaimana media sosial mendesain perilaku kita melalui scroll-bait, notifikasi, dan konten tanpa ujung yang dirancang untuk mempertahankan perhatian kita.

Bagi pemikir analitis, waktu dan perhatian bukan hal yang bisa dibuang begitu saja. Mereka melihat media sosial sebagai sesuatu yang mengambil lebih banyak daripada yang diberikannya. Seiring waktu, mereka mulai menyadari bahwa media sosial sering menjadi alat yang menguras fokus, menyebabkan kecemasan, dan mengganggu produktivitas kehidupan nyata.

Saat mereka mulai menghitung “biaya” dari keterlibatan digital — seperti waktu yang hilang, produktivitas yang berkurang, hingga terganggunya hubungan nyata — keputusan untuk berhenti atau menekan penggunaan media sosial menjadi langkah logis menuju hidup yang lebih bermakna.


3. Individu yang Menjunjung Tinggi Privasi

Tidak semua orang merasa nyaman membagikan kehidupan mereka secara luas. Sebagian orang memiliki dorongan kuat untuk mempertahankan privasi sebagai bagian dari identitas dan kebebasan mereka. Bagi tipe ini, eksposur publik di media sosial sering kali justru terasa melemahkan, tidak aman, dan berlebihan.

Mereka khawatir bahwa data pribadi mereka dieksploitasi, digunakan untuk iklan, atau bahkan mengancam keamanan digital mereka. Privasi bukan sekadar hal teknis, tetapi suatu prinsip hidup yang mereka junjung tinggi.

Tipe kepribadian yang menghargai privasi ini biasanya menghindari media sosial karena tidak mau hidup mereka menjadi konsumsi publik. Mereka lebih memilih komunikasi langsung dengan orang dekat atau menggunakan saluran yang lebih privat untuk berbagi berita penting dalam hidupnya.


4. Mereka yang Selektif dalam Bersosialisasi

Media sosial sering digambarkan sebagai tempat di mana semua orang bisa terhubung, berbagi cerita, atau memperluas jaringan. Namun pembalikan dari itu adalah bahwa koneksi yang terlalu meluas justru kurang berkualitas. Beberapa orang merasa bahwa jumlah teman atau pengikut yang banyak tidak selalu sebanding dengan kedalaman hubungan yang sesungguhnya.

Ini terutama berlaku bagi individu yang selektif dan lebih menghargai hubungan autentik yang intens daripada sekadar angka statistik online. Mereka lebih suka meluangkan waktu berkualitas dengan beberapa teman dekat daripada terlibat dalam interaksi dangkal dengan ratusan orang yang tidak benar-benar mereka kenal.

Keputusan mereka untuk berhenti dari media sosial sering dilandasi oleh kesadaran bahwa hubungan bermakna tidak selalu bersifat publik atau bisa diukur dengan jumlah likes. Ini adalah bentuk social minimalism—memilih hubungan nyata dan langsung di atas hubungan digital yang dangkal.


5. Mereka yang Rentan terhadap Perbandingan Sosial

Kepribadian yang kelima adalah mereka yang memiliki kecenderungan kuat terhadap social comparison — yaitu membandingkan hidup mereka dengan orang lain. Media sosial, di satu sisi, menjadi panggung untuk menampilkan versi terbaik dari kehidupan seseorang. Namun bagi banyak orang, paparan konten yang sempurna dari orang lain dapat memicu rasa tidak cukup baik, inferior, dan tidak berharga.

Perasaan ini bisa berkembang menjadi rasa tidak nyaman, cemas, atau bahkan depresi ketika terus-menerus mengevaluasi diri terhadap standar yang dibentuk oleh unggahan orang lain. Ketika tekanan itu meningkat, keputusan untuk menjauh dari platform digital bisa menjadi cara efektif untuk menyelamatkan harga diri dan kesehatan mental.

Ketika seseorang berhenti melihat hidup orang lain melalui lensa yang disaring dan dipoles, mereka mulai fokus mengembangkan diri tanpa tekanan perbandingan sosial yang berlebihan.


Fenomena yang Lebih Besar dari Sekadar Tren

Keputusan seseorang untuk berhenti dari media sosial sebenarnya mencerminkan perubahan nilai dan prioritas hidup yang lebih luas. Tidak hanya tentang “bosan” atau “tak sempat”, tetapi tentang bagaimana seseorang menempatkan nilai, kesehatan mental, privasi, dan hubungan nyata dalam konteks kehidupan digital.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang intens dapat meningkatkan kecemasan, perasaan tidak cukup baik, bahkan tekanan sosial yang tak terlihat sebelumnya. Ketika pengalaman negatif ini lebih besar daripada manfaatnya, tak jarang seseorang memilih untuk berhenti aktif di media sosial dan fokus pada kehidupan nyata mereka. IDN Times NTB


Apa Maknanya bagi Masa Depan Digital Kita?

Fenomena berhenti media sosial membuka diskusi penting tentang hubungan kita dengan teknologi. Dunia digital bukan lagi sekadar alat untuk terhubung, tetapi juga panggung di mana identitas sosial kita diuji setiap hari. Keputusan untuk berhenti menggunakan media sosial bisa dilihat sebagai bentuk self-care digital, yaitu kesadaran individu untuk menjaga keseimbangan antara dunia maya dan kehidupan nyata.

Individu dengan kepribadian tertentu — seperti mandiri secara emosional, pemikir analitis, atau yang menjunjung tinggi privasi — menunjukkan bahwa kebutuhan psikologis dan nilai hidup bisa sangat berbeda antara satu orang dengan lainnya.

Dan ketika kebutuhan itu tidak lagi dipenuhi oleh media sosial, keputusan untuk berhenti menjadi langkah yang rasional — bukan bentuk ketidakpedulian atau penolakan terhadap teknologi.


Kesimpulan: Lebih dari Sekadar “Hiatus”

Keputusan untuk berhenti dari media sosial bukan sekadar tren. Ini merupakan refleksi kepribadian, prioritas hidup, dan nilai psikologis yang mendalam. Setiap orang punya alasan uniknya sendiri, tetapi ada pola umum yang bisa diidentifikasi:

âś… Keinginan untuk kekuatan emosional yang otentik
âś… Kesadaran akan biaya waktu dan fokus
âś… Perlindungan terhadap privasi pribadi
âś… Keinginan akan kualitas hubungan sosial
âś… Menghindari dampak negatif perbandingan sosial

Kelima kepribadian ini menunjukkan bahwa berhenti dari media sosial bisa menjadi bentuk pembebasan dari tekanan digital — bukan sekadar aksi impulsif, tetapi keputusan sadar untuk menjalani hidup yang lebih sehat secara mental dan emosional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *