Fakta vs Mitos: Benarkah Sering Begadang Kronis Secara Langsung Bisa Menyebabkan Gila?
Jakarta –
Begadang, atau tidur larut malam yang berulang, telah menjadi gaya hidup yang umum di era digital. Namun, kebiasaan ini sering dibayangi oleh mitos menakutkan: terlalu sering begadang dapat menyebabkan kegilaan. Istilah “gila” di sini merujuk pada gangguan mental serius seperti psikosis, skizofrenia, atau depresi berat.
Benarkah kurang tidur akut memiliki konsekuensi dramatis sejauh itu? Atau, apakah hubungan antara begadang dan kesehatan mental lebih kompleks, di mana begadang hanyalah pemicu yang memperburuk kondisi yang sudah ada? Melalui kacamata neurosains dan psikologi, kita akan membedah sejauh mana kurang tidur kronis memengaruhi fungsi otak dan kestabilan mental seseorang.
Mitos 1: Satu Malam Begadang Bisa Membuat Orang Langsung Gila
FAKTA: Kegilaan (gangguan psikotik) tidak disebabkan oleh satu malam begadang. Namun, kurang tidur akut (seperti begadang semalaman) dapat memicu gejala yang menyerupai gangguan mental, yang dalam jangka pendek, mungkin disalahartikan sebagai “gila.”
Poin Krusial: Setelah 24 hingga 48 jam tanpa tidur, fungsi kognitif seseorang akan menurun drastis. Gejala yang muncul antara lain:
- Halusinasi Ringan: Melihat bayangan di sudut mata, mendengar suara samar, atau merasakan sentuhan (tactile hallucinations).
- Paranoia dan Kecemasan: Peningkatan kecurigaan dan rasa cemas yang tidak rasional.
- Disorientasi dan Delusi Sementara: Kesulitan membedakan antara mimpi dan realitas, atau memiliki keyakinan yang salah.
Gejala-gejala ini disebabkan oleh kelelahan ekstrem pada korteks prefrontal (area otak yang bertanggung jawab atas logika dan pengambilan keputusan) dan peningkatan aktivitas di amigdala (pusat emosi). Namun, begitu orang tersebut mendapatkan tidur yang memadai, gejala ini umumnya hilang sepenuhnya. Kurang tidur akut dapat meniru gejala psikosis, tetapi tidak secara langsung menyebabkan penyakit psikotik yang kronis.
Mitos 2: Begadang Hanya Berdampak pada Fokus, Bukan Mood
FAKTA: Begadang kronis—yakni kurang tidur secara teratur (kurang dari 7 jam per malam)—memiliki dampak yang sangat signifikan dan terukur pada regulasi emosi dan mood.
Penelitian menunjukkan adanya hubungan dua arah (bidirectional) yang kuat antara gangguan tidur dan gangguan mood. Begadang kronis dapat:
- Memicu Depresi dan Kecemasan: Kurang tidur menurunkan toleransi stres dan membuat area otak yang memproses emosi negatif menjadi overaktif. Seseorang yang begadang kronis lebih rentan mengalami gejala depresi klinis dan Gangguan Kecemasan Umum (GAD).
- Memperburuk Kondisi Mental yang Sudah Ada: Bagi individu yang sudah memiliki kerentanan genetik atau riwayat gangguan mental (misalnya bipolar atau skizofrenia), begadang kronis seringkali berfungsi sebagai pemicu (trigger) utama kambuhnya episode manik atau psikotik. Dalam kasus ini, begadang bukanlah penyebab dasar “kegilaan,” melainkan faktor yang mempercepat dan memperparah manifestasi penyakit tersebut.
Dengan kata lain, begadang kronis merusak fondasi neurologis yang kita gunakan untuk mengelola stres dan emosi, sehingga meningkatkan risiko gangguan mental, meskipun ia bukanlah penyebab tunggal.
Fakta Ilmiah: Peran Tidur dalam Detoksifikasi Otak
Sains telah menemukan bahwa tidur bukan hanya waktu istirahat pasif, melainkan waktu kritis bagi otak untuk membersihkan dirinya. Selama tidur, sistem glimfatik otak menjadi lebih aktif, membersihkan produk limbah metabolik yang terakumulasi saat terjaga, termasuk protein Beta-Amyloid yang terkait dengan penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer.
Begadang, atau kurang tidur, mengganggu proses detoksifikasi ini. Akumulasi limbah metabolik dan gangguan dalam konektivitas neuron dapat berkontribusi pada defisit kognitif dan disfungsi emosional jangka panjang. Meskipun hubungan langsung antara kegagalan detoksifikasi ini dan “kegilaan” klinis masih diteliti, jelas bahwa tidur adalah maintenance wajib bagi kesehatan mental dan neurologis yang optimal.
Kesimpulan Ilmiah: Begadang tidak secara instan atau langsung membuat seseorang menjadi “gila” dalam arti klinis (psikosis atau skizofrenia). Namun, begadang kronis secara drastis meningkatkan kerentanan terhadap gangguan mood seperti depresi, kecemasan, dan—yang paling penting—dapat menjadi pemicu kritis bagi kambuhnya penyakit mental serius pada individu yang rentan. Tidur yang cukup adalah pilar utama kesehatan mental, sama pentingnya dengan nutrisi dan olahraga.
