šŸ„ Kesehatan

Pria Coba Diet Makan Sekali Sehari: Pengalaman One Meal A Day dan Tantangannya

Jakarta — Seorang pria asal Kanada, Will Tennyson, baru-baru ini membagikan pengalaman pribadinya mencoba menjalani metode diet yang dikenal dengan sebutan One Meal A Day (OMAD) — yaitu pola makan satu kali dalam sehari yang diklaim bisa membantu menurunkan berat badan serta meningkatkan komposisi tubuh. Kisah ini viral di media sosial sekaligus jadi perbincangan hangat di kalangan pegiat kebugaran.

Metode OMAD merupakan bentuk ekstrem dari intermittent fasting atau puasa berkala, di mana seseorang hanya mengonsumsi makanan dalam satu jendela makan harian, dan berpuasa dari kalori sepanjang sisa waktu lainnya. Pola ini masuk dalam spektrum praktik puasa harian yang juga dikenal luas di komunitas kesehatan.

Pola Makan Sekali Sehari: Bagaimana Prosesnya?

Tennyson memulai harinya dengan kegiatan seperti biasa, termasuk olahraga. Pada hari pertama, ia memilih untuk makan semangkuk besar burrito dari Chipotle sebagai satu-satunya asupan makanan padat dalam sehari. Ia kemudian berolahraga ringan di siang hari sebelum akhirnya tubuhnya berpuasa hingga sore.

Selama periode puasa, ia hanya diperbolehkan mengonsumsi minuman tanpa kalori, seperti air putih, kopi hitam, dan teh, untuk menjaga hidrasi dan sedikit membantu mengendalikan rasa lapar. Pola seperti ini mirip dengan bentuk fasting lain yang melarang asupan nutrisi selain cairan tanpa kalori.

Namun, setelah lewat tengah hari, Tennyson mengaku mulai merasakan efek besar dari jeda waktu antara aktivitas dan jendela makan yang panjang — termasuk kelelahan signifikan yang mempengaruhi kemampuan tubuhnya untuk berolahraga. Pada akhirnya, ia belum dapat menyelesaikan latihan sepenuhnya seperti biasanya karena mulai mengalami penurunan energi.

Dorongan Makan Berlebihan saat ā€˜Buka Puasa’

Tennyson biasanya baru makan pertamanya sekitar pukul 15.00 waktu setempat. Sesaat sebelum waktu makan itu datang, pikiran dan fokusnya banyak tertuju pada makanan, sehingga ketika waktu makan tiba, ia mengalami dorongan kuat untuk makan dalam porsi besar. Ini adalah fenomena yang sering dilaporkan oleh orang yang menjalani OMAD karena jeda waktu yang panjang antara sesi makan dan puasa.

Kebiasaan makan satu kali sehari seperti ini dapat memicu pola makannya untuk mengonsumsi kalori secara berlebihan saat waktu makan tiba, sehingga potensi konsumsi kalori harian bisa tetap tinggi meskipun hanya makan satu kali. Ini berlawanan dengan tujuan awal menurunkan berat badan jika tidak direncanakan dengan baik.

Kaitan dengan Intermittent Fasting Lainnya

OMAD adalah bentuk intermittent fasting yang paling ekstrem dibandingkan metode puasa lain seperti jendela makan 16:8 atau puasa berkala yang dilakukan beberapa hari dalam seminggu. Intermittent fasting umumnya membatasi kapan seseorang makan, bukan apa yang dimakan, dan dipercaya dapat membantu penurunan berat badan serta memperbaiki sensitivitas insulin bila dilakukan dengan baik.

Bentuk puasa seperti ini mencerminkan tren diet modern yang semakin populer namun kontroversial. Beberapa ahli menunjukkan bahwa puasa semacam ini memang bisa efektif bagi sebagian orang, namun tidak cocok untuk semua orang — terutama yang sedang memiliki kondisi medis tertentu atau kebutuhan kalori khusus. Tantangan dan Risiko Kesehatan

Kritikus diet ekstrem seperti OMAD menekankan beberapa risiko yang mungkin muncul, antara lain:

  • Penurunan energi dan konsentrasi — terutama saat tubuh harus menahan lapar dalam periode panjang.
  • Gangguan metabolik bila pola ini dilakukan tanpa pengawasan nutrisi yang tepat.
  • Potensi konsumsi makanan berlebihan pada satu waktu makan, yang justru mengungguli defisit kalori harian.

Selain itu, menjadikan tubuh terbiasa makan sekali sehari bisa memicu adaptasi metabolisme yang sulit bagi sebagian orang, termasuk gangguan hormonal, masalah mood, dan fluktuasi kadar gula darah bila tidak diimbangi nutrisi yang seimbang.

Saran Ahli dan Kesimpulan

Meskipun OMAD dan praktik puasa berkala bisa menjadi alat untuk mengatur asupan kalori, para ahli gizi umumnya menyarankan agar pola makan sehat tetap memperhatikan nutrisi lengkap dan keseimbangan makanan bila memang ingin menurunkan berat badan secara efektif dan aman.

Program diet apapun yang ekstrem sebaiknya dilakukan dengan pendampingan tenaga kesehatan profesional, terutama jika seseorang memiliki kondisi medis yang mendasari atau riwayat gangguan makan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *