Kisah Devin Bocah Bogor Idap Leukemia, Orang Tua Soroti Pola Makan Ultraproses
Seorang bocah asal Bogor bernama Devin menjadi perhatian publik setelah kisah perjuangannya melawan leukemia atau kanker darah viral di media sosial. Orang tuanya mengungkapkan bahwa gejala awal penyakit tersebut muncul secara tiba-tiba, dimulai dari demam tinggi hingga muncul memar pada tubuh. Selain itu, sang ayah juga menyinggung kemungkinan kaitan pola makan tinggi makanan ultraproses (ultra processed food/UPF) dengan kondisi kesehatan anaknya.
Menurut laporan media kesehatan dari jaringan detikcom, Devin pertama kali mengalami demam tinggi pada pertengahan 2024. Awalnya keluarga mengira kondisi tersebut merupakan penyakit biasa. Namun, dalam beberapa hari, gejala tambahan mulai muncul, termasuk memar di tubuh serta pembengkakan kelenjar getah bening.
Keluarga segera membawa Devin ke fasilitas kesehatan. Pemeriksaan awal menunjukkan hasil tes darah yang sangat jauh dari nilai normal. Kadar hemoglobin Devin sangat rendah, sementara jumlah leukosit dan trombositnya juga berada pada level mengkhawatirkan. Kondisi tersebut membuat tenaga medis merujuk Devin ke rumah sakit untuk pemeriksaan lanjutan.
Setelah menjalani pemeriksaan sumsum tulang, dokter akhirnya mendiagnosis Devin mengidap leukemia akut. Diagnosis tersebut menjadi pukulan berat bagi keluarga, mengingat usianya yang masih sangat muda. Devin kemudian harus menjalani serangkaian kemoterapi sebagai bagian dari proses pengobatan.
Hingga kini, Devin dijadwalkan menjalani total 127 kali kemoterapi. Namun, proses tersebut tidak selalu berjalan lancar. Kondisi tubuh Devin terkadang tidak stabil, sehingga beberapa sesi pengobatan harus ditunda. Efek samping kemoterapi juga cukup berat, mulai dari rambut rontok, mual, hingga gangguan kesehatan lain seperti dehidrasi dan perdarahan.
Kisah Devin kemudian menyebar luas di media sosial. Dalam sejumlah unggahan, orang tua Devin mengingatkan masyarakat untuk lebih memperhatikan pola makan anak-anak, terutama terkait konsumsi makanan instan atau tinggi bahan pengawet dan pewarna. Mereka menilai kebiasaan tersebut perlu dibatasi demi menjaga kesehatan jangka panjang anak.
Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa penyebab leukemia tidak dapat disimpulkan hanya dari satu faktor saja. Kanker darah umumnya terjadi akibat perubahan atau mutasi DNA pada sel darah. Hingga saat ini, penyebab pasti mutasi tersebut belum sepenuhnya diketahui.
Penelitian menunjukkan beberapa faktor dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami kanker darah, seperti usia, jenis kelamin, riwayat keluarga, serta paparan radiasi atau bahan kimia tertentu. Faktor lingkungan memang bisa berperan, tetapi biasanya dalam tingkat paparan yang tinggi.
Sementara itu, faktor gaya hidup seperti pola makan atau aktivitas fisik dinilai memiliki pengaruh relatif kecil terhadap risiko leukemia dibandingkan jenis kanker lain. Walau begitu, para tenaga kesehatan tetap menyarankan masyarakat menerapkan gaya hidup sehat, termasuk mengonsumsi makanan bergizi seimbang dan rutin berolahraga. Kebiasaan tersebut membantu menurunkan risiko berbagai penyakit dan meningkatkan daya tahan tubuh.
Kasus Devin menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk lebih peka terhadap perubahan kondisi kesehatan anak. Gejala seperti demam berkepanjangan, memar tanpa sebab jelas, atau kelelahan ekstrem sebaiknya segera diperiksakan ke dokter agar diagnosis bisa dilakukan lebih cepat.
Di sisi lain, kisah ini juga menunjukkan pentingnya dukungan keluarga dan lingkungan dalam proses pengobatan pasien kanker anak. Perjuangan panjang yang harus dijalani Devin menggambarkan betapa beratnya perjalanan terapi kanker, sekaligus menumbuhkan empati publik terhadap pasien dan keluarga yang menghadapi kondisi serupa.
Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat tentang gejala awal kanker darah serta pentingnya pemeriksaan medis sejak dini, diharapkan lebih banyak kasus dapat terdeteksi lebih cepat sehingga peluang kesembuhan menjadi lebih besar.

