Bacang Jadi Menu Utama Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Depok, Penerima Menyambut Positif
Depok — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang selama ini dijalankan di Kota Depok kembali menjadi perbincangan setelah bacang dipilih sebagai salah satu menu utama makanan bergizi yang dibagikan kepada masyarakat penerima manfaat. Menu khas nusantara itu mendapatkan tanggapan positif dari para ibu, anak sekolah, dan masyarakat penerima MBG.
Bacang yang terbuat dari beras dengan isian daging atau telur kini diposisikan sebagai sumber karbohidrat alternatif dalam paket MBG. Pemilihan bacang bukan tanpa alasan. Pengelola program menyatakan, pilihan tersebut dibuat berdasarkan preferensi masyarakat target — terutama anak sekolah, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui — yang menjadi fokus utama penerima manfaat program.
Bacang Dinilai Lebih Disukai dan Bernutrisi
Sejumlah penerima MBG menyambut baik inovasi menu ini. Jumiati, kader PKK Kelurahan Grogol, Kecamatan Limo, menyatakan bahwa masyarakat merasa senang karena variasi makanan yang tersedia kini lebih beragam. Ia menilai bahwa bacang mampu menarik minat anak-anak dan orang dewasa yang selama ini mungkin bosan dengan menu yang monoton.
“Menu bacang membuat anak-anak saya lebih semangat makan. Mereka bilang isinya ayam suwir atau telur asin membuat makanan lebih menarik,” ujar Putri, salah satu orang tua penerima MBG, saat ditemui di lokasi distribusi.
Kandungan beras sebagai sumber tenaga dan daging atau telur sebagai protein dalam bacang dinilai mampu memenuhi sebagian kebutuhan gizi harian penerima. Menu ini pun dianggap sesuai dengan tujuan program MBG, yaitu menyediakan makanan yang bernutrisi dan disenangi oleh berbagai kelompok masyarakat.
Distribusi MBG Selama Ramadan Tetap Berjalan
Distribusi program MBG di Depok tetap berjalan normal selama bulan Ramadan, meskipun mayoritas masyarakat beragama Islam menjalankan ibadah puasa. Kepala pelaksana Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kota Depok, Rakha Pratama, menyampaikan bahwa berdasarkan Surat Edaran Nomor 3 Tahun 2026, pembagian makanan gratis akan dilakukan secara serempak mulai 23 Februari 2026.
Rakha memastikan jadwal distribusi tidak mengganggu proses kegiatan belajar mengajar bagi pelajar sekolah umum. Sementara itu, sekolah berasrama (boarding school) memfasilitasi pengolahan makanan pada siang hari agar bisa disajikan tepat pada saat berbuka puasa. Kebijakan ini dibuat untuk menghormati ritme ibadah sekaligus memastikan penerima MBG tetap mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan selama Ramadan.
Program MBG dan Target Nasional
Program MBG merupakan salah satu inisiatif pemerintah yang bertujuan mendorong peningkatan gizi masyarakat, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan ibu hamil. Pemerintah menargetkan program ini bisa menjangkau puluhan juta penerima manfaat di seluruh Indonesia. Menurut laporan sebelumnya, pemerintah menargetkan mencapai sekitar 82,9 juta penerima MBG pada Maret 2026.
Program ini juga menjadi fokus evaluasi berbagai pihak. DPR RI dan lembaga legislatif lain mendesak perbaikan tata kelola MBG agar kualitas makanan serta administrasi distribusi makin baik dan transparan. Komisi IX DPR secara khusus mengingatkan setiap dapur SPPG untuk menekankan mutu dan higienitas makanan demi menghindari risiko kesehatan penerima, seperti keracunan atau makanan tidak layak konsumsi.
Selain itu, Badan Gizi Nasional (BGN) meminta setiap SPPG memiliki kanal media sosial aktif untuk menampung masukan masyarakat dan menunjukkan menu harian program MBG. Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan program di lapangan.
Respons Masyarakat Terhadap Menu MBG
Meskipun banyak pihak mengapresiasi variasi menu seperti bacang, program MBG juga kerap mendapat sorotan terkait kualitas makanan di beberapa wilayah. Beberapa video viral di media sosial menunjukkan kasus menu yang diprotes oleh orang tua murid atau warga, seperti temuan belatung di makanan MBG di beberapa daerah. Hal ini memicu kekhawatiran dan dorongan agar pemerintah serta pengelola program lebih tegas mengawasi mutu dapur SPPG.
Permintaan ini didengar oleh Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, yang meminta pemerintah mendengarkan laporan masyarakat terkait pelaksanaan MBG di daerah mereka. Laporan-laporan ini mencakup unsur kualitas gizi, variasi menu, dan tingkat kepuasan penerima manfaat secara umum.
Menu Bacang Dipandang Sebagai Inovasi Positif
Dalam konteks tersebut, pemilihan bacang sebagai menu utama pada paket MBG di Depok dianggap sebagai respons inovatif terhadap preferensi masyarakat. Menu ini tidak hanya memenuhi kebutuhan nutrisi sehari-hari tetapi juga memberi variasi yang lebih menarik bagi penerima — sebuah pendekatan yang dianggap lebih manusiawi dan adaptif terhadap selera lokal.
Ke depan, program MBG diperkirakan akan terus beradaptasi sesuai masukan publik dan perkembangan kebutuhan gizi masyarakat luas. Dengan terus mengoptimalkan menu, pengawasan mutu, serta transparansi dalam pelaksanaannya, masyarakat berharap program ini dapat segera mencapai tujuan awalnya: mendorong kesehatan dan kesejahteraan bagi semua penerima manfaat di Indonesia.

