Anak Sekolah Dasar dan Vape: Potret Krisis Kesehatan Perkotaan Antara Rasa Manis, Daya Tarik Aroma, dan Kesehatan Mental
Munculnya Vape di Kalangan Anak Sekolah Dasar
Fenomena penggunaan rokok elektrik atau vape di kalangan anak sekolah dasar menjadi salah satu wajah baru dari krisis kesehatan perkotaan. Dalam sebuah laporan, semakin banyak anak usia SD yang mulai mencoba vape—dipicu oleh varian rasa manis, kemasan menarik, dan persepsi bahwa vape “lebih ringan” dibanding rokok konvensional.
Lingkungan perkotaan dengan ketersediaan produk mudah, kurangnya pengawasan, serta budaya daring (media sosial, influencer) turut mendorong penetrasi vape di usia muda. Kondisi ini menciptakan kekhawatiran serius bagi kesehatan fisik dan mental anak-anak.
Daya Tarik Aroma dan Varian Rasa
Salah satu titik awal yang memikat anak-anak adalah varian rasa dan aroma vape—rasa buah, gula-gula, atau zat aromatik lainnya yang “tidak seperti rokok biasa”.
Dampak psiko sosial: Anak-anak yang vape bisa menghadapi stigma, tekanan kelompok, maupun identitas “keren” yang menuntut terus-menerus menggunakan produk tersebut agar tetap “gaul”.
Kemudahan akses produk: Penjualan e-liquid, perangkat kecil, atau produk ilegal yang sulit dikontrol membuat anak-anak lebih mudah mendapatkannya.
Kultur daring dan media sosial: Anak-anak terpapar postingan influencer atau konten “vape lifestyle” yang mempresentasikan vape sebagai bagian dari gaya hidup urban.
Peraturan yang memperketat penjualan dan pemasaran vape: Termasuk larangan varian rasa yang menarik anak-anak, pembatasan akses ke anak-anak, dan pengawasan penjualan daring.
Semua langkah ini harus dilakukan secara bersinergi agar tidak hanya menekan angka penggunaan, tetapi juga memperkuat fondasi kesehatan dan kesejahteraan generasi muda di kota-kota.
Dampak Jangka Panjang bagi Generasi Muda
Jika fenomena penggunaan vape di kalangan anak sekolah dasar tidak segera ditangani, sejumlah dampak jangka panjang bisa muncul:
Peningkatan prevalensi perokok generasi baru — vape pada usia SD bisa menjadi pintu masuk ke rokok konvensional atau penggunaan zat adiktif lainnya.
Beban kesehatan masyarakat yang meningkat — perawatan penyakit terkait nikotin, gangguan pernapasan, maupun dampak mental bisa membebani sistem kesehatan kota.
Kesenjangan pendidikan — Anak yang terlibat penggunaan adiktif lebih rentan kecepatan belajar yang rendah, absen, atau putus sekolah.
Tantangan pembangunan kota berkelanjutan — Kota yang sehat tidak hanya soal infrastruktur fisik, tetapi juga kesehatan generasi muda.
Fenomena penggunaan vape di kalangan anak sekolah dasar adalah alarm bagi kota-kota di Indonesia bahwa krisis kesehatan tidak hanya dilihat dari penyakit kronis atau faktor fisik, tetapi juga dari perilaku, gaya hidup, dan kesehatan mental anak-anak.
Dengan demikian, mari kita tegakkan komitmen: melindungi anak-anak kita bukan hanya dari udara kotor atau makanan tidak sehat, tetapi juga dari perangkat yang menjanjikan sensasi cepat tetapi membawa kerentanan jangka panjang.

