Kehilangan Figur Ayah Bisa Ganggu Kesehatan Mental Anak, Ini Wanti-wanti Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Jakarta — Menjelang peringatan Hari Ayah Nasional, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyoroti fenomena semakin banyaknya anak yang tumbuh tanpa kehadiran figur ayah (fatherless) dan peringatan keras bahwa kondisi tersebut berpotensi mengganggu kesehatan mental dan perilaku sosial anak.
Pentingnya Kehadiran Ayah
Menurut Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, dr. Imran Pambudi, MPHM, kehadiran ayah dalam keluarga bukan sekadar keberadaan fisik, melainkan juga dukungan emosional dan komunikasi rutin:
“Ayah itu figurnya harus terus ada. Kalau bisa setiap hari ada komunikasi dengan anak, sekecil apapun bentuknya… Jangan ditumpuk di akhir pekan.”
Hadiah perhatian sederhana seperti berbicara setelah makan malam, atau mendampingi anak sebelum tidur, sudah terbukti membantu memperkuat kelekatan emosional anak-ayah serta menumbuhkan rasa aman dan percaya diri.
Dampak Kehilangan Figur Ayah
Kemenkes menegaskan sejumlah dampak negatif yang dapat muncul jika anak tumbuh tanpa figur ayah yang konsisten:
- Untuk anak perempuan: sejak kecil dapat timbul kebingungan identitas gender, merasa harus memikul tanggung jawab lebih besar sendiri apabila ayah tidak hadir.
- Untuk anak laki-laki: ketiadaan figur ayah bisa menimbulkan jarak emosional, kesulitan penyesuaian saat remaja, bahkan penolakan saat ayah kembali muncul setelah absen.
- Anak yang “fatherless” juga berisiko tinggi mencari sosok pengganti di lingkungan luar rumah. Jika lingkungan tersebut negatif, bisa membuka pintu ke perilaku berisiko seperti merokok, narkoba atau kenakalan remaja.
- Meskipun bukti kuantitatif langsung terhadap penyakit fisik masih terbatas, efek psikologis seperti stres, kontrol emosi rendah, dan kebutuhan pengakuan dari luar sangat nyata.
Upaya Kemenkes dan Program Parenting
Menjawab kondisi tersebut, Kemenkes mendorong beberapa langkah strategis:
- Mengajak ayah untuk aktif dalam program pengasuhan positif, yang membahas pembagian peran, komunikasi, dan kehadiran ayah di semua fase tumbuh kembang anak.
- Kelas ibu hamil yang wajib dihadiri oleh suami minimal satu sesi, dengan tujuan agar ayah memahami kebutuhan ibu dan bayi sejak masa kehamilan sampai pasca melahirkan.
- Menegaskan bahwa keterlibatan ayah tidak boleh berhenti di masa bayi, melainkan harus berlanjut hingga anak memasuki semua tahap perkembangan — agar kehadiran ayah menjadi bagian kontinyu dalam hidup anak.
Tantangan yang Dihadapi
Meskipun program sudah disiapkan, sejumlah kendala muncul:
- Tantangan bagi keluarga dengan ayah yang bekerja di luar rumah, berpindah lokasi atau menjadi migran, sehingga fisik ayah tak selalu hadir.
- Ketidaktahuan atau minimnya literasi orang tua akan pentingnya kelekatan emosional anak dengan ayah dapat membuat implementasi sulit.
- Lingkungan sosial yang tidak mendukung figur ayah aktif (misalnya adat, normatif budaya) bisa memperlemah peran pria dalam pengasuhan.
- Ketiadaan data nasional khusus mengenai jumlah anak “fatherless” dan dampak jangka panjangnya membuat evaluasi program masih terbatas.
Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua dan Masyarakat?
Bagi orang tua dan masyarakat, sejumlah langkah praktis berikut direkomendasikan:
- Ayah dan ibu perlu mengevaluasi dan memastikan waktu komunikasi rutin — minimal 10–15 menit sehari untuk berdialog dengan anak.
- Lingkungan sekolah, komunitas dan organisasi masyarakat bisa menyediakan ruang bagi anak tanpa figur ayah untuk mendapatkan mentor laki-laki positif, seperti guru, kakak asuh atau relawan.
- Orang tua bersama anak bisa membangun ritual sederhana: misalnya makan malam bersama, cerita sebelum tidur, aktivitas akhir pekan yang melibatkan ayah, untuk memperkuat ikatan keluarga.
- Jika ayah sering absen karena pekerjaan atau lokasi jauh, manfaatkan teknologi (video call, pesan suara) agar anak tetap merasakan kehadiran emosional ayah.
- Pendidikan literasi parenting dan kesadaran sosial perlu diperkuat agar masyarakat memahami bahwa figur ayah bukan sekadar “penghasil uang” tetapi pendukung emosional, teladan perilaku dan bagian penting dari tumbuh kembang anak.
Kesimpulan
Kehadiran ayah dalam hidup anak lebih dari sekadar rumah tangga lengkap — ia berkaitan langsung dengan kesehatan mental, stabilitas emosional dan arah perkembangan anak. Kemenkes telah mengingatkan bahwa kehilangan figur ayah bukan sekadar persoalan personal, tetapi punya dampak sosial luas yang perlu ditangani bersama.
Bagi keluarga, sekolah, dan masyarakat, langkah-langkah kecil dalam kehadiran, komunikasi dan keterlibatan aktif ayah bisa menjadi investasi besar bagi masa depan anak-anak kita.

