Insight Lokal

Ingin Kesehatan Mental Anak Terjaga? Terapkan Fondasi di Lima Tahun Pertamanya

Jakarta, 10 Oktober 2025 — Membesarkan anak di era digital bukan perkara mudah. Selain asupan gizi dan stimulasi fisik, hal yang tak kalah penting adalah kesehatan mental mereka. Menurut banyak ahli, fondasi mental anak harus dibangun sejak usia 0–5 tahun agar mereka tumbuh menjadi manusia yang kuat secara emosional. Untuk itu, orang tua perlu menerapkan langkah­-langkah kunci agar anak dapat menghadapi perkembangan zaman dengan stabilitas batin yang baik.


Tantangan Zaman Digital & Dampaknya pada Anak

Perkembangan teknologi membawa banyak manfaat: akses informasi, hiburan edukatif, komunikasi jarak jauh. Namun, paparan gadget dan konten digital berlebih juga membawa risiko. Anak bisa terkena stres, gangguan tidur, kecemasan, hingga menurunnya rasa percaya diri. Saat mereka lebih sering terpaku pada layar, interaksi langsung — aspek krusial dalam perkembangan emosi — justru berkurang.

Karena itu, membatasi screen time (waktu layar), memperkuat interaksi tatap muka, dan menjaga hubungan emosional antara anak dan orang tua menjadi sangat penting. Artikel Kumparan menyebut bahwa masa awal kehidupan anak menjadi waktu krusial dalam membentuk kerangka mental untuk fase selanjutnya.


Fondasi Kesehatan Mental Anak Usia 0–5 Tahun

Berikut beberapa strategi yang direkomendasikan untuk orang tua dalam mendukung kesehatan mental anak sejak dini:

1. Waktu Berkualitas & Ikatan Emosional yang Kuat

Kegiatan sederhana seperti menggendong, menyusui, bercengkerama, menyanyi atau bercerita dapat memperkuat ikatan antara orang tua dan anak. Saat anak merasa aman emosional, mereka lebih mudah belajar mengelola stres dan emosi. UNICEF menekankan bahwa kehadiran orang tua yang hangat dan responsif membantu melepaskan hormon positif yang mendukung kesehatan mental.

2. Dorong Eksplorasi & Rasa Ingin Tahu

Ketika anak mulai bergerak dan penasaran terhadap dunia sekitar, orang tua bisa menyediakan lingkungan yang aman dan mendukung. Bermain kreatif, menyentuh objek alam, eksplorasi sensorik — semua itu memicu stimulasi otak dan kepercayaan diri anak terhadap kemampuan diri sendiri.

3. Interaksi Sosial & Belajar Bekerjasama

Pada usia prasekolah, anak mulai mencari kawan dan belajar aturan sosial. Aktivitas bersama teman sebaya, bermain kelompok kecil, dan kesempatan berbagi membantu anak memahami empati, berbagi, dan konflik ringan. Memfasilitasi interaksi sosial di luar rumah sangat penting.

4. Kelola Emosi & Ajarkan Ekspresi Positif

Anak sering kali belum mampu merumuskan perasaan mereka dengan kata-kata. Saat mereka menangis, frustrasi, atau marah, orang tua bisa membantu dengan memberi nama emosi, memvalidasi perasaan, dan menunjukkan pengendalian diri. Hindari mengecilkan atau mengabaikan tangisannya; sebaliknya, jadikan momen itu sebagai ajang belajar emosi.

5. Batasi Screen Time & Pilih Konten yang Edukatif

Menetapkan batas penggunaan gadget, memilih konten sesuai usia, dan memastikan gadget tidak menggantikan interaksi nyata adalah langkah penting. Gunakan gadget secara bergantian dengan aktivitas fisik, bermain bebas, dan waktu bersama keluarga.


Kesalahan yang Harus Dihindari Saat Anak Butuh Perhatian

Adakalanya anak menunjukkan tanda-tanda stres atau “nge-drop” dalam kesehatan mentalnya — tantrum berlebihan, menarik diri, mudah marah, atau susah tidur. Dalam situasi tersebut, hindari beberapa pola berikut:

  • Mengabaikan atau menolak tangisan — bisa mengirim pesan bahwa emosi mereka tidak dihargai.
  • Memberi gadget sebagai pelipur lara — ini malah bisa memperlemah kemampuan mengatasi emosi.
  • Marah atau memukul saat anak “meledak” emosi — ini memberikan contoh negatif bagi anak.
  • Membandingkan dengan anak lain — bisa melemahkan rasa percaya diri anak sendiri.

Orang tua harus menjadi “pelabuhan aman” bagi anak — tempat mereka bisa kembali saat emosi tak terkendali. Jika orang tua sendiri merasa kewalahan, penting juga untuk menjaga kesejahteraan diri — tidur cukup, waktu istirahat, dan dukungan sosial.


Peran Orang Tua dalam Menjaga Kesehatan Mentalnya Sendiri

Anak meniru apa yang mereka lihat. Jika orang tua stres kronis, mudah marah, atau menekan emosi, anak bisa merefleksikan pola itu. Oleh karena itu:

  • Luangkan waktu untuk diri sendiri (me-time)
  • Kelola stres melalui olahraga, hobi, meditasi
  • Bangun jaringan dukungan (keluarga, teman, komunitas)
  • Jika perlu, cari bantuan profesional psikolog/terapi

Dengan orang tua mengelola emosinya dengan sehat, anak akan melihat contoh konkret cara menyeimbangkan dunia batin mereka kelak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *