Relationship Goals di TikTok: Estetika Cinta atau Halusinasi yang Dikurasi?
Pernahkah Anda menggulir layar TikTok dan terjebak dalam video berdurasi 15 detik yang menampilkan pasangan sedang tertawa mesra di bawah lampu temaram, pemberian hadiah mewah tanpa alasan, atau kejutan romantis yang tampak begitu sempurna? Di bawah video tersebut, ribuan komentar bertuliskan “Relationship Goals” atau “Kapan giliran saya?” membanjiri kolom interaksi.
Di era digital, TikTok telah menjadi standar baru bagi banyak orang dalam mendefinisikan “hubungan ideal”. Namun, sebuah pertanyaan besar muncul dari para pakar psikologi kognitif: Apakah yang kita lihat itu adalah realita cinta yang sehat, ataukah sekadar halusinasi visual yang sengaja diciptakan untuk algoritma?
Paradoks Konten yang Dikurasi (Curated Reality)
Hal pertama yang harus dipahami secara logika adalah bahwa apa yang Anda lihat di TikTok adalah hasil kurasi, bukan dokumentasi utuh. Sebuah video romantis mungkin membutuhkan waktu berjam-jam untuk pengambilan gambar, puluhan kali pengulangan (take), dan pengeditan yang intens agar terlihat “spontan”.
Secara psikologis, ini menciptakan apa yang disebut sebagai Availability Bias. Otak kita cenderung menganggap bahwa contoh-contoh yang sering kita lihat di layar adalah representasi umum dari kenyataan. Padahal, video tersebut hanyalah 1% dari kehidupan pasangan tersebut. Kita tidak melihat 99% sisanya: argumen tentang siapa yang mencuci piring, perbedaan prinsip, hingga rasa bosan yang manusiawi. Menjadikan video singkat sebagai standar hubungan adalah tindakan yang secara logis cacat, karena kita membandingkan “proses” hidup kita yang berantakan dengan “hasil akhir” orang lain yang sudah dipoles.
Ancaman Perbandingan Sosial dan “Social Hunger”
Menurut Social Comparison Theory (Teori Perbandingan Sosial) oleh Leon Festinger, manusia memiliki dorongan untuk mengevaluasi diri dengan membandingkan diri dengan orang lain. Masalahnya, TikTok menyuguhkan perbandingan “ke atas” (upward social comparison) secara terus-menerus.
Ketika Anda melihat pasangan lain terus-menerus memamerkan kemesraan, otak Anda mulai mempertanyakan kualitas hubungan Anda sendiri. “Kenapa pasangan saya tidak seromantis itu?” atau “Kenapa hubungan kami terasa datar?”. Perasaan ini menciptakan rasa “lapar sosial” yang tidak realistis. Standar kebahagiaan Anda bergeser dari rasa syukur atas koneksi yang nyata menjadi pengejaran terhadap estetika yang bisa dipamerkan. Akibatnya, banyak pasangan merasa gagal, padahal hubungan mereka sebenarnya sehat dan berfungsi dengan baik.
Komodifikasi Cinta: Saat Hubungan Menjadi Konten
Dalam kacamata sosiologi digital, fenomena Relationship Goals sering kali terjebak dalam komodifikasi. Hubungan bukan lagi sekadar ikatan emosional pribadi, melainkan aset digital untuk mendapatkan pengikut (followers) dan engagement.
Ketika sebuah pasangan menyadari bahwa video “romantis” mereka mendatangkan banyak views, ada tekanan bawah sadar untuk terus menampilkan citra tersebut demi kepentingan performa akun. Inilah yang menciptakan “halusinasi” kolektif. Penonton merasa itu nyata, sementara sang kreator terjebak dalam tuntutan untuk selalu terlihat bahagia. Hal ini sangat berisiko bagi kesehatan mental pasangan tersebut, karena mereka kehilangan ruang untuk menjadi rentan (vulnerable) dan jujur satu sama lain di luar kamera.
Mendefinisikan Ulang “Goals” yang Sehat
Psikologi modern menekankan bahwa hubungan yang kuat justru sering kali terlihat “membosankan” di kamera. Hubungan yang sehat dibangun di atas:
- Komunikasi yang jujur (termasuk saat sedang berkonflik).
- Rasa aman (tanpa perlu validasi dari orang asing di media sosial).
- Penerimaan atas kekurangan (hal yang jarang laku dijadikan konten).
Relationship Goals yang sesungguhnya bukanlah tentang bagaimana dunia melihat pasangan Anda, tetapi bagaimana Anda dan pasangan saling melihat saat layar ponsel dimatikan. Jika sebuah konten membuat Anda merasa kurang atau tidak berharga, itu adalah tanda bahwa Anda sedang mengonsumsi halusinasi, bukan inspirasi.
Kesimpulannya, TikTok boleh menjadi tempat mencari ide kencan atau hiburan, namun jangan biarkan algoritma mendikte standar kebahagiaan Anda. Cinta sejati tidak butuh ring light dan filter; ia butuh kehadiran dan kesabaran yang seringkali tidak cukup estetik untuk diunggah.
