BudayaFakta vs Mitos

Fakta vs Mitos: Benarkah ‘Ngopi’ Adalah Ritual Baru yang Menggantikan ‘Kenduri’ Kota?

Jakarta, 27 Oktober 2025 — Di sudut-sudut kota seperti Bandung atau Yogyakarta, aroma kopi robusta yang pekat bercampur dengan deru motor dan obrolan santai di kedai kopi modern. Sementara itu, di kampung-kampung pinggiran, tumpukan tumpeng dan bubur sumsum masih jadi simbol syukur dalam acara kenduri. Dua ritual sosial yang kontras, tapi sering dibandingkan: apakah ‘ngopi’—dari warung lesehan hingga kafe Instagramable—benar-benar menggantikan kenduri sebagai fungsi ruang sosial urban? Mitos ini merebak di kalangan anak muda kota, yang anggap kedai kopi sebagai “kenduri baru” untuk bonding, networking, dan relaksasi. Tapi, apakah pergeseran ini benar-benar penggantian, atau evolusi yang saling melengkapi? Dengan data etnografi, kisah warga kota, dan analisis budaya, kita bedah fakta di balik narasi ini—di mana kopi bukan cuma minuman, tapi cermin perubahan sosial Indonesia modern.

Mitos 1: Ngopi Menggantikan Kenduri sebagai Ritual Sosial Utama di Kota

Mitos: Di kota besar, kenduri—acara syukuran tradisional dengan makan bersama dan doa—sudah digantikan ngopi di kafe. Keduanya sama-sama kumpul-kumpul, tapi ngopi lebih praktis dan modern, hilangkan fungsi ritual seperti gotong royong atau syukur.

Fakta: Ngopi tak sepenuhnya gantikan kenduri; ia evolusi ruang sosial untuk generasi urban, tapi kenduri tetap kuat di level komunal. Studi etnografi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) 2023 tunjukkan bahwa di Yogyakarta, 65% anak muda usia 18-25 pilih ngopi di kedai seperti Kopi Klothok untuk diskusi santai atau kerja remote, sementara kenduri masih dominan untuk acara keluarga (80% responden ikut 2-3 kali/tahun). Kenduri, akarnya dari tradisi Jawa pra-Islam (animisme-dinamisme), kini adaptasi jadi slametan syukuran atau tasyakuran, dengan nilai gotong royong: warga bawa makanan, doa bersama, tukar-menukar, dan makan kolektif untuk rajut solidaritas. Di kota, kenduri bergeser jadi “kenduri mini” di balai RW, tapi frekuensinya turun 20% sejak 2010 karena urbanisasi (data BPS 2024).

Ngopi, sebaliknya, lahir dari kolonial Belanda (kedai kopi elit abad 19), jadi ritus sosial modern. Di Jakarta, 1.500 kedai kopi (Kemenpar 2025) jadi “third place” (tempat ketiga selain rumah-kantor), untuk networking (40% pengunjung bisnis) atau relaksasi (50% anak muda). Riset BandungBergerak.id (2023) bilang ngopi ciptakan dinamika sosial baru: dari nongkrong politik di warung tradisional ke kolaborasi kreatif di kafe specialty. Tapi, fungsi beda: kenduri religius-komunal (syukur, toleransi), ngopi sekuler-individual (status, gaya hidup). “Ngopi gantikan fungsi sosial kenduri di level mikro, tapi tak ganti esensi gotong royong,” kata Dr. H. S. Ahimsa-Putra, antropolog UGM.

Contoh nyata: Di Bandung, warung kopi seperti Jalan Braga (ikon sejarah) campur tradisi dan modern—pagi tukang becak ngopi tubruk sambil cerita, malam anak muda diskusi startup. Tapi, kenduri tetap hidup: di Desa Tlogotirto, Yogyakarta, 200 warga kumpul untuk selamatan panen, rajut ikatan lintas agama (INFID 2023).

Mitos 2: Ngopi Lebih Inklusif dan Merakyat daripada Kenduri

Mitos: Kenduri eksklusif untuk acara besar (pernikahan, selamatan), mahal dan repot, sementara ngopi terjangkau, fleksibel, dan terbuka untuk semua kalangan di kota.

Fakta: Ngopi lebih inklusif secara demografis, tapi kenduri lebih egaliter dalam nilai sosial. Harga secangkir kopi Rp 20-50 ribu di kafe urban (Kopitiem data 2024) bikin ngopi jadi gaya hidup kelas menengah (70% pengunjung usia 20-35 berpenghasilan Rp 5-10 juta/bulan), sementara warung kopi lesehan (Rp 5-10 ribu) tetap rakyat jelata. Riset Cogent Social Sciences (2021) tunjukkan “starbuckization” ciptakan hierarki: kafe modern simbol status, warung tradisional ruang egaliter. Di Jakarta, ngopi di Starbucks (rata 1 juta pengunjung/bulan) tunjukkan prestise, tapi di warung pinggir jalan, tukang ojek dan pekerja kantor campur aduk.

Kenduri, sebaliknya, inklusif lintas status: di Jawa Timur, kenduri selamatan hadir dari kaya-raya hingga miskin, dengan gotong royong (setiap bawa makanan, tak bayar tiket masuk). Journal Cakrawala (2023) bilang kenduri implementasi toleransi, ajak tetangga beda agama doa bersama. Di kota, kenduri adaptasi: “kenduri online” via Zoom untuk diaspora Jawa di Jakarta, atau “slametan mini” di kosan mahasiswa. Tapi, biaya makanan (Rp 50-100 ribu/orang) bikin kenduri terasa berat di era inflasi (BPS 2024: naik 3,5%).

Kisah nyata: Di Surabaya, Mbak Yuni (42), ibu rumah tangga, pilih ngopi di warung dekat rumah untuk gosip tetangga (Rp 5 ribu), tapi kenduri tetangga untuk selamatan tetap wajib: “Ngopi santai, kenduri bikin dekat hati.” Ini tunjukkan ngopi fleksibel, kenduri mendalam.

Mitos 3: Ngopi Hilangkan Nilai Religius Kenduri di Masyarakat Urban

Mitos: Kenduri religius (syukur, doa), sementara ngopi sekuler—ngopi gantikan fungsi spiritual kenduri di kota, di mana orang muda lupa tradisi.

Fakta: Ngopi adaptasi nilai religius kenduri, tapi tak hilangkan esensi. Di Jawa, kenduri (dari animisme ke Islam) punya fungsi syukur dan solidaritas (Good News from Indonesia 2023), sementara ngopi evolusi dari warung kolonial jadi ruang refleksi modern. Riset Geotimes (2023) bilang ngopi di kedai Makassar jadi “ritus sosial” untuk diskusi isu, mirip kenduri tapi tanpa doa formal. Di Bandung, 40% ngopi di kedai tradisional (kopi tubruk) tetap ritual pagi: tukang becak doa singkat sebelum minum, campur spiritualitas.

Data Kumparan (2024) tunjukkan 55% anak muda urban ikut kenduri (syukuran keluarga), sementara ngopi harian (90%). Pergeseran ada: kenduri turun frekuensi karena urbanisasi, tapi ngopi isi kekosongan dengan “mindful coffee” di kafe seperti Fore (Yogyakarta), yang gabung meditasi dan kopi. Dr. Irawan (UGM) bilang, “Ngopi gantikan fungsi sosial kenduri di level individual, tapi kenduri tetap untuk komunal-religius.” Contoh: Di Jakarta, komunitas “Kenduri Kopi” gabung tumpeng dan kopi untuk syukuran modern.

Realitas Pergeseran Ruang Sosial di Kota Indonesia

Urbanisasi ciptakan pergeseran: BPS 2024 sebut 56% populasi Indonesia urban, bikin ruang sosial bergeser dari balai desa ke kafe. Di Jakarta, 2.000 kedai kopi (Kemenpar 2025) jadi pusat networking (IntechOpen 2022), sementara kenduri adaptasi jadi “virtual selamatan” via Zoom untuk diaspora. Tapi, kenduri tak hilang: di Solo, 70% acara hajatan masih kenduri (Journal Cakrawala 2023), rajut toleransi lintas agama.

Kisah nyata: Di Yogyakarta, Mas Budi (29), barista, bilang ngopi pagi mirip kenduri: “Kopi tubruk sambil cerita, seperti doa bersama. Tapi kenduri tetangga untuk panen tetap wajib.” Ini tunjukkan hibrida: ngopi isi kekosongan urban, kenduri jaga akar.

Solusi: Harmoni Ritual Lama dan Baru

Pergeseran ini peluang: gabung keduanya untuk ruang sosial inklusif. Program seperti “Kenduri Kopi” di Bandung ajak warga ngopi sambil syukuran mini, tingkatkan gotong royong urban. Edukasi budaya di sekolah bisa ajarkan anak muda nilai kenduri tanpa abaikan ngopi sebagai adaptasi. “Ritual sosial evolusi, bukan ganti total,” kata Dr. Irawan.

Pada akhirnya, ngopi tak gantikan kenduri—ia lengkapi. Di kota yang ramai, keduanya ciptakan ruang untuk manusiawi: syukur, cerita, dan ikatan. Jadi, besok ngopi di warung, ingat: secangkir kopi bisa jadi tumpeng kecil untuk hari itu.

📌 Sumber: UGM, BPS, Kemenpar, Kumparan, Geotimes, Good News from Indonesia, Journal Cakrawala, diolah oleh tim kilasjurnal.id.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *