Fakta vs Mitos: Semua Hujan Deras Pasti Membawa Banjir
Setiap kali hujan deras mengguyur kota besar, kekhawatiran masyarakat langsung meningkat. Jalanan mulai dipantau, media sosial penuh dengan laporan genangan, dan sebagian orang berasumsi: “Kalau hujan deras, pasti banjir.”
Namun, apakah benar semua hujan deras otomatis menimbulkan banjir? Faktanya, tidak sesederhana itu.
Hujan lebat memang menjadi salah satu pemicu utama banjir, tetapi bukan satu-satunya penyebab. Ada faktor lain yang sering kali lebih menentukan, mulai dari tata ruang yang buruk hingga hilangnya area resapan air.
Mitos: Hujan Deras = Banjir
Secara umum, masyarakat menilai curah hujan tinggi langsung identik dengan banjir. Dalam pandangan awam, semakin lama hujan turun, semakin besar pula kemungkinan air meluap.
Namun kenyataannya, intensitas hujan bukan penentu tunggal banjir.
Contohnya, hujan deras selama tiga jam di kawasan pedesaan yang memiliki tanah gembur dan banyak pepohonan mungkin tidak menimbulkan masalah apa pun. Tapi hujan ringan selama dua jam di kota padat yang drainasenya tersumbat bisa menciptakan genangan dalam hitungan menit.
Artinya, banjir lebih sering terjadi karena interaksi antara curah hujan dan kondisi permukaan tanah serta infrastruktur air.
Fakta: Banjir Terjadi karena Ketidakseimbangan Alam dan Tata Kelola Air
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), curah hujan ekstrem memang meningkatkan risiko banjir, tetapi dampak akhirnya bergantung pada daya dukung lingkungan.
Ketika tanah tidak mampu lagi menyerap air — akibat tertutup aspal, beton, atau pemadatan tanah — maka air hujan kehilangan jalur alaminya untuk meresap.
Ahli hidrologi dari ITB, Dr. Henny Yuliani, menjelaskan bahwa banjir urban umumnya lebih disebabkan oleh sistem drainase yang tidak memadai.
“Bukan hujannya yang salah, tapi bagaimana air itu dikelola. Kalau sungai dangkal dan saluran tersumbat, hujan ringan pun bisa jadi bencana,” katanya dalam wawancara di Bandung (2025).
Selain itu, perubahan tata guna lahan yang tidak terkendali — seperti alih fungsi lahan hijau menjadi perumahan atau kawasan industri — membuat air tidak punya tempat untuk mengalir.
Faktor-Faktor yang Menentukan Timbulnya Banjir
- Kepadatan Permukaan Tanah
Tanah alami mampu menyerap hingga 60 persen air hujan. Namun, di kota besar seperti Jakarta, permukaan tanah yang tertutup beton hanya mampu menyerap kurang dari 10 persen. - Kapasitas Drainase
Saluran air yang sempit, tersumbat sampah, atau tidak terhubung dengan baik ke sungai utama menjadi penyebab utama genangan cepat. - Ketinggian dan Kemiringan Wilayah
Daerah cekung atau dataran rendah cenderung menampung air lebih lama dibanding wilayah tinggi. Karena itu, banjir lebih sering terjadi di kawasan dengan topografi landai. - Kebijakan Tata Ruang dan Konservasi
Ketika pembangunan dilakukan tanpa memperhatikan daya dukung lingkungan, air hujan kehilangan jalur resapan alami. Hal ini kerap diperparah oleh lemahnya pengawasan izin pembangunan.
Hujan Lebat Tanpa Banjir, Bukan Hal Mustahil
Beberapa kota di dunia membuktikan bahwa hujan ekstrem tidak selalu berujung bencana.
Kota Singapore, misalnya, mampu mengelola curah hujan lebih dari 200 milimeter per hari tanpa banjir besar. Rahasianya ada pada sistem Deep Tunnel Sewerage System (DTSS) — saluran air bawah tanah yang menyalurkan limpasan hujan langsung ke laut atau waduk penampungan.
Sementara itu, di Jepang, pemerintah Tokyo membangun Metropolitan Area Outer Underground Discharge Channel, jaringan terowongan raksasa sepanjang 6,3 kilometer untuk menampung air hujan.
Kedua kota ini menunjukkan bahwa teknologi dan perencanaan matang mampu mengubah hujan deras menjadi sumber daya, bukan bencana.
Di Indonesia, beberapa daerah mulai mengadopsi sistem serupa dalam skala kecil. Bandung dan Surabaya, misalnya, mulai membangun taman resapan dan waduk mini yang berfungsi menyerap air hujan langsung ke tanah.
Peran Hutan dan Ruang Terbuka Hijau
Hujan deras akan lebih mudah menyebabkan banjir di wilayah yang kehilangan penutup vegetasi.
Hutan dan pepohonan berfungsi sebagai spons alami: menyerap air, menahan aliran permukaan, serta menstabilkan tanah. Ketika pohon ditebang secara masif, air hujan mengalir cepat ke sungai tanpa sempat diserap, meningkatkan risiko luapan.
Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan bahwa wilayah dengan tutupan hutan di atas 50 persen memiliki tingkat banjir 40 persen lebih rendah dibanding daerah dengan hutan di bawah 20 persen.
Dengan kata lain, menanam pohon sering kali lebih efektif mencegah banjir daripada membangun beton di mana-mana.
Perubahan Iklim dan Pola Hujan yang Semakin Tak Terduga
Dalam beberapa tahun terakhir, pola cuaca di Indonesia menjadi semakin tidak stabil. BMKG mencatat adanya peningkatan frekuensi hujan ekstrem singkat, terutama di wilayah barat Indonesia.
Fenomena ini terkait dengan perubahan iklim global yang memicu peningkatan suhu laut dan mempercepat pembentukan awan cumulonimbus.
Namun, meski hujan ekstrem meningkat, banjir tidak selalu terjadi secara langsung. Banyak wilayah pedesaan dengan sistem irigasi tradisional seperti subak di Bali atau empang di Jawa Barat yang justru mampu menampung curah hujan besar dengan baik.
“Adaptasi adalah kunci,” ujar Dr. Nurhayati, peneliti iklim dari BRIN. “Bukan cuacanya yang harus kita ubah, tapi cara kita hidup berdampingan dengan hujan.”
Kesimpulan
Mitos: Semua hujan deras pasti membawa banjir.
Fakta: Tidak semua hujan deras menyebabkan banjir. Banjir terjadi ketika curah hujan tinggi tidak diimbangi dengan tata kelola air, kondisi tanah, dan sistem drainase yang baik.
Hujan deras hanyalah pemicu alami — yang menentukan apakah ia menjadi berkah atau bencana adalah cara manusia mengelola lingkungan sekitarnya.
Dengan perencanaan tata ruang yang bijak, sistem drainase efisien, dan hutan kota yang cukup, hujan deras seharusnya bukan ancaman, melainkan sumber kehidupan yang lestari.
