Fakta vs Mitos: Benarkah Setiap Startup Teknologi Selalu Menghasilkan Keuntungan?
Di era disrupsi digital, narasi tentang startup teknologi seringkali dibalut euforia kesuksesan, valuasi fantastis, dan pertumbuhan eksponensial. Muncul anggapan umum bahwa perusahaan teknologi rintisan, terutama yang berhasil mengumpulkan pendanaan besar, adalah mesin penghasil uang yang pasti akan mencapai keuntungan atau profitabilitas. Namun, anggapan ini, yang terdistorsi oleh sorotan media terhadap segelintir kisah sukses, ternyata lebih dekat pada mitos daripada fakta ilmiah bisnis.
Sektor teknologi, khususnya startup yang didukung modal ventura (Venture Capital/VC), beroperasi di bawah logika ekonomi yang unik dan seringkali terbalik dari bisnis konvensional. Mereka tidak didirikan untuk langsung untung, melainkan untuk mendominasi pasar dengan cepat.
Mitos: Valuasi Tinggi Identik dengan Keuntungan
Valuasi adalah harga teoritis sebuah perusahaan di pasar modal, biasanya diukur dari putaran pendanaan terakhir. Valuasi yang mencapai miliaran Dolar AS—seperti pada status Unicorn, Decacorn, atau bahkan Hectocorn—sering disalahpahami sebagai bukti profitabilitas.
Fakta: Valuasi tinggi sebetulnya adalah refleksi dari potensi pasar di masa depan dan kecepatan pertumbuhan pengguna, bukan laporan laba rugi saat ini. Mayoritas startup dengan valuasi tertinggi di dunia, khususnya dalam bidang e-commerce, ride-hailing, dan fintech tahap awal, beroperasi dalam kerugian bersih selama bertahun-tahun.
Data menunjukkan bahwa dari seluruh startup yang menerima pendanaan VC, persentase yang berhasil exit (IPO atau akuisisi) dengan laba bersih positif relatif kecil. Fokus utama perusahaan-perusahaan ini adalah market share (pangsa pasar). Investor VC bersedia menerima kerugian dalam jangka pendek karena mereka mencari home run: satu atau dua investasi yang menghasilkan pengembalian 10x atau 100x lipat, yang kemudian akan menutupi kerugian dari lusinan startup yang gagal atau tidak pernah mencapai profit.
Realita “Bakar Uang” dan Unit Economics
Strategi “bakar uang” (burning cash) adalah praktik standar dalam ekosistem startup. Ini adalah dana yang digunakan untuk subsidi, diskon besar-besaran, dan biaya pemasaran agresif. Tujuan tunggalnya adalah akuisisi pengguna dan mengalahkan kompetitor sebelum pasar didominasi.
Selama fase bakar uang, fokus startup adalah meningkatkan Gross Merchandise Value (GMV) atau total nilai transaksi, bukan Net Profit (Laba Bersih). Bagi para pendiri dan investor, metrik yang krusial adalah Unit Economics—yaitu profitabilitas yang diukur per unit pengguna atau per transaksi.
Misalnya, jika sebuah layanan delivery makanan mengeluarkan biaya Rp 20.000 untuk mengakuisisi satu pelanggan (biaya pemasaran, diskon), sementara margin kotor dari pesanan pertama pelanggan itu hanya Rp 10.000, maka secara unit, startup tersebut rugi Rp 10.000. Kerugian ini baru dianggap berkelanjutan jika startup tersebut yakin bahwa Customer Lifetime Value (CLV)—total pendapatan yang dihasilkan dari pelanggan tersebut selama masa hidupnya—jauh lebih besar dari biaya akuisisi tersebut.
Jika Unit Economics menunjukkan kerugian permanen (unsustainable), maka model bisnis itu dipastikan tidak akan menghasilkan keuntungan, tidak peduli seberapa besar valuasi perusahaannya.
Hukum Alam dan Tingkat Kegagalan
Mitos bahwa “semua startup sukses” juga bertentangan dengan hukum statistik di dunia bisnis rintisan. Berbagai studi global, termasuk yang dilakukan oleh Harvard Business School dan CB Insights, konsisten menunjukkan tingkat kegagalan yang ekstrem.
- Tingkat Gagal Tinggi: Mayoritas sumber menyebutkan bahwa antara 70% hingga 90% dari semua startup yang baru berdiri akan gagal, tidak menghasilkan keuntungan, atau akan tutup dalam waktu 5 tahun.
- Fase ‘Lembah Kematian’: Bahkan startup yang berhasil mendapatkan pendanaan awal (Seed atau Series A) harus melewati apa yang disebut Valley of Death (Lembah Kematian), yaitu periode di mana mereka kehabisan modal sebelum berhasil membuktikan product-market fit dan mencapai titik impas (break-even point).
Keuntungan (profit) bukanlah status default bagi startup; ia adalah hasil dari strategi yang matang, manajemen kas yang disiplin, dan, yang terpenting, keberhasilan transisi dari fase “pertumbuhan cepat” ke fase “efisiensi operasional” dan monetisasi.
Oleh karena itu, pandangan bahwa setiap startup teknologi adalah jaminan keuntungan adalah narasi yang terlalu disederhanakan. Realitasnya adalah dunia penuh risiko, di mana valuasi seringkali berjalan mendahului laba, dan hanya segelintir kecil pemain yang berhasil membalikkan kerugian awal menjadi profitabilitas jangka panjang.
