Ekonomi

Rupiah Melemah ke Rp16.786 per Dolar AS di Akhir Perdagangan Jumat

Jakarta, 30 Januari 2026 — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami pelemahan pada akhir perdagangan Jumat (30/1/2026), setelah tekanan pasar global dan kekhawatiran investor bertambah di akhir pekan. Rupiah ditutup di level Rp16.786 per dolar AS, turun dibandingkan penutupan hari sebelumnya.

Berdasarkan data pasar spot dan kurs referensi Bank Indonesia, rupiah melemah sekitar 0,18–0,19 persen dari posisi sebelumnya di Rp16.755 per dolar AS. Kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) juga menunjukkan pelemahan rupiah ke kisaran Rp16.796 per dolar AS.

Pelemahan ini sejalan dengan tren pelemahan banyak mata uang Asia terhadap dolar AS pada hari perdagangan yang sama, di mana mayoritas mata uang regional juga mengalami tekanan.

Tekanan dari Sentimen Global dan Kebijakan Moneter AS

Analis pasar menilai bahwa pelemahan rupiah pada penutupan perdagangan tidak lepas dari penguatan dolar AS yang didorong oleh sentimen global. Penguatan mata uang Negeri Paman Sam itu antara lain dipicu oleh ketidakpastian kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed) dan prospek kenaikan suku bunga acuan.

Pengamat ekonomi dan mata uang juga mencatat bahwa pasar bersikap hati-hati menjelang pengumuman calon Ketua Federal Reserve oleh Presiden AS, yang dapat memengaruhi keputusan suku bunga di masa mendatang. Kekhawatiran tersebut membuat investor lebih memilih dolar AS sebagai aset aman, sehingga menekan permintaan terhadap rupiah.

Selain itu, sentimen negatif dari pasar saham domestik turut menjadi faktor pelemahan rupiah. Arus modal keluar (outflow) asing dan aksi jual di pasar saham memberikan tekanan tersendiri bagi mata uang Garuda. Hal ini tercermin dalam data pasar yang menunjukkan pergerakan rupiah dalam rentang fluktuatif sepanjang hari.

Pergerakan Rupiah Sepanjang Hari

Pada sesi pagi perdagangan Jumat, rupiah juga sempat menunjukkan pelemahan, dengan nilai tukar mencapai sekitar Rp16.807 per dolar AS sebelum bergerak turun ke posisi penutupan. Pergerakan ini menggambarkan volatilitas tinggi di pasar valuta asing sepanjang hari.

Namun meskipun berakhir melemah, analis pasar uang masih melihat adanya momentum fluktuatif yang bisa dimanfaatkan pelaku pasar pada perdagangan pekan berikutnya. Fluktuasi ini dipengaruhi oleh sentimen global negatif dan ekspektasi kebijakan moneter yang belum jelas.

Kondisi Pasar Asia dan Dampak Regional

Pelemahan rupiah juga tercerminkan dalam pergerakan mata uang negara Asia lainnya. Banyak mata uang regional mengalami koreksi terhadap dolar AS pada Jumat sore, mencerminkan kondisi pasar global yang sedang dalam fase risk-off. Investor diperkirakan memindahkan asetnya ke instrumen yang dianggap lebih aman seperti dolar AS.

Kondisi serupa juga terlihat pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang meskipun menunjukkan penguatan pada perdagangan Jumat pagi, tetap berada di bawah tekanan investor yang lebih memilih instrumen likuid dan aman.

Prediksi Pergerakan Rupiah ke Depan

Sejumlah analis memperkirakan rupiah akan tetap bergerak fluktuatif pada pekan-pekan awal Februari 2026. Pergerakan mata uang Garuda diprediksi berada dalam kisaran Rp16.750 hingga Rp16.810 per dolar AS tergantung dinamika pasar global dan data ekonomi terbaru.

Pasar cenderung mengamati perkembangan geopolitik di Timur Tengah dan keputusan kebijakan moneter Amerika Serikat, yang selama ini menjadi katalis utama pergerakan mata uang negara berkembang termasuk rupiah.

Kesimpulan

Pada akhir perdagangan Jumat, rupiah menutup hari dengan pelemahan terhadap dolar AS di level Rp16.786. Pelemahan ini terjadi akibat kombinasi dari penguatan dolar AS, ketidakpastian arah kebijakan moneter global, serta sentimen pasar negatif yang masih dominan di akhir pekan. Pemantauan terhadap faktor eksternal seperti geopolitik dan kebijakan ekonomi AS akan menjadi penentu arah pergerakan rupiah di pekan berikutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *