Menggeser Jantung Ekonomi: Menunaikan Janji Hilirisasi sebagai Pilar Transformasi Industri
Jakarta, 14 Oktober 2025 —
Perkembangan sektor manufaktur Indonesia menunjukkan gejala positif: pada September 2025, aktivitas industri menyentuh level ekspansi di angka 50,4, sebuah sinyal bahwa industri semakin menggeliat setelah periode stagnasi.
Namun di balik angka tersebut, tersimpan tantangan struktural yang mengancam kekuatan industri nasional — menyusul penurunan kontribusi manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dalam dekade terakhir.
Untuk itu, pemerintah mengusung agenda ambisius: hilirisasi industri sebagai instrumen untuk “menggeser jantung ekonomi” — yakni memperkuat industri berdaya saing, meratakan pembangunan ke seluruh wilayah, serta memperkuat nilai tambah domestik
Menurut para ekonom, Indonesia tengah menghadapi risiko deindustrialisasi prematur — yaitu melemahnya sektor industri ketika negara belum memasuki tingkat kematangan ekonomi yang memadai.
Kontribusi manufaktur terhadap PDB, yang pada tahun 2001 sempat mencapai 27,4 persen, telah merosot menjadi 18,3 persen pada 2023.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa struktur ekonomi Indonesia terlalu mengandalkan komoditas mentah dan impor bahan baku industri, sehingga nilai tambah dalam negeri relatif rendah.
Sentralisme Pembangunan dan Ketergantungan Jawa
Menurut evaluasi atas implementasi UU Industri (UU No. 3 Tahun 2014), dua kelemahan utama sektor industri Indonesia adalah:
Polarisasi pembangunan — aktivitas industri dan investasi terkonsentrasi di Pulau Jawa, sementara wilayah sumber daya di luar Jawa tetap menjadi penyedia bahan mentah.
Ketergantungan impor bahan baku — maraknya industri petrokimia, logam, dan kimia hulu yang belum berkembang signifikan di dalam negeri.
Transformasi struktural melalui hilirisasi diharapkan bisa merekonstruksi peta ekonomi nasional: dari produsen bahan mentah menjadi produsen produk jadi dengan nilai tambah tinggi.
Apa Arti “Menggeser Jantung Ekonomi”?
“Jantung ekonomi” di sini merujuk pada pusat gravitasi industri Indonesia. Untuk menggesernya berarti penguatan sektor industri tidak lagi berpusat di Pulau Jawa semata, melainkan lebih tersebar ke wilayah-wilayah kaya sumber daya, dan sekaligus menunjang pemerataan ekonomi.
Realisasi Investasi & Kontribusi Hilirisasi
Hingga semester I 2025, realisasi investasi nasional mencapai Rp 942,9 triliun, di mana sektor hilirisasi menyumbang Rp 280,8 triliun atau sekitar 29,8 persen dari total investasi.
Angka ini menunjukkan lonjakan 55 persen dibanding periode sama tahun lalu.
Yang menarik, 67 persen dari proyek strategis hilirisasi direncanakan berada di luar Pulau Jawa, menegaskan komitmen penyebaran klaster industri ke wilayah sumber daya.
Contoh klaster yang dikembangkan: Morowali, Bantaeng, Konawe (untuk nikel dan logam), serta Sei Mangkei dan Kuala Tanjung (untuk agro dan aluminium).
Dalam sisi komoditas agraria, pemerintah memprioritaskan enam komoditas strategis yaitu kelapa, kopi, mete, tebu, kakao, dan lada, yang diyakini dapat menyerap 1,6 juta tenaga kerja baru melalui hilirisasi.
Tantangan yang Harus Dihadapi
Agar hilirisasi bukan sekadar janji, berbagai tantangan struktural dan implementatif harus diatasi.
Kelembagaan & Tata Kelola
Model pembangunan yang bersifat top-down dan kaku telah menghambat partisipasi daerah. Pemerintah harus mendorong desentralisasi asimetris, di mana tiap daerah bisa merancang Rencana Pembangunan Industri Daerah (RPI-D) berbasis potensi lokal dan terintegrasi.
Selain itu, regulasi perlu menjadi lebih adaptif. Salah satunya lewat regulatory sandbox, yaitu ruang pengujian kebijakan industri baru dalam kondisi terkendali — pendekatan yang sebelumnya telah diuji di sektor fintech oleh OJK.
Penguatan Sumber Daya Manusia & Rantai Nilai
Agar target TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) sebesar 40 persen di sektor seperti baterai dan kendaraan listrik bisa tercapai, kolaborasi antara dunia industri dan lembaga pendidikan vokasi sangat penting.
Program pelatihan, sertifikasi kompetensi, dan link-and-match antara SMK/politeknik dengan industri harus dipercepat.
Keseimbangan Antara Kapital & Tenaga Kerja
Proyek hilirisasi seringkali padat modal, sedangkan sebagian besar masyarakat Indonesia bekerja di sektor agraria dan padat karya. Agar tidak menciptakan ekonomi “elit”, pemerintah harus merancang sinergi antara investasi besar dan pengembangan industri padat karya yang mampu menyerap tenaga kerja.
Strategi Kunci untuk Menunaikan Janji Hilirisasi
Perluasan insentif fiskal berbasis kinerja
Daerah yang berhasil memenuhi target industri strategis mendapatkan insentif — misalnya pengurangan pajak atau dana alokasi khusus.
Kewajiban kolaborasi dengan UMKM
Perusahaan besar penerima insentif diwajibkan bermitra dengan UMKM lokal agar hilirisasi punya efek multiplikatif ke basis ekonomi rakyat.
Pendekatan spasial & spesialisasi regional (Smart Specialization)
Tiap wilayah diberdayakan berdasarkan keunggulan komparatifnya—misalnya daerah penghasil nikel berfokus pada smelter dan industri baterai, wilayah agraria memroses komoditas lokal.
Regulasi fleksibel & kebijakan adaptif
Dengan regulatory sandbox, inovasi industri baru dapat diuji tanpa terbentur regulasi lama yang kaku.
Kolaborasi quadruple helix
Jalin sinergi antara pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat sipil agar arah kebijakan industri tidak tunggal dan lebih responsif inovasi.

