Harga Pangan Hari Ini: Cabai Rawit, Bawang Merah & Beras Kompak Turun
Jakarta, 12 Oktober 2025 — Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat tren penurunan harga pangan pokok di pasar eceran tingkat nasional. Beberapa komoditas utama seperti cabai rawit merah, bawang merah, dan berbagai jenis beras menunjukkan koreksi harga yang cukup nyata dibanding hari sebelumnya. Meski demikian, sebagian komoditas lain seperti daging dan minyak goreng masih bergerak beragam.
Data Panel Harga Bapanas, yang dikutip oleh MetroTV, menunjukkan bahwa cabai rawit merah turun ke Rp 44.652 per kg dari sekitar Rp 45.745 per kg. Sementara itu, bawang merah tercatat seharga Rp 38.408 per kg, sedikit melemah dari sebelumnya sekitar Rp 38.539 per kg.
Pergerakan Harga Beras & Komoditas Strategis Lainnya
Penurunan tidak hanya terjadi pada bumbu dapur, tetapi juga beberapa jenis beras dan bahan pangan strategis lainnya:
| Komoditas | Harga Hari Ini | Harga Sebelumnya | Keterangan |
|---|---|---|---|
| Beras premium | Rp 15.923 / kg | Rp 15.924 / kg | Turun tipis |
| Beras medium | Rp 13.712 / kg | Rp 13.809 / kg | Penurunan moderat |
| Beras SPHP (Stabilisasi Pasokan & Harga Pangan) | Rp 12.495 / kg | Rp 12.527 / kg | Turun sedikit |
| Jagung peternak | Rp 6.681 / kg | Rp 6.685 / kg | Hampir stabil, sedikit turun |
| Kedelai biji kering (impor) | Rp 10.603 / kg | Rp 10.697 / kg | Koreksi kecil |
| Bawang putih bonggol | Rp 36.689 / kg | Rp 37.060 / kg | Penurunan moderat |
| Cabai merah keriting | Rp 55.662 / kg | Rp 58.660 / kg | Penurunan signifikan |
| Cabai merah besar | Rp 49.347 / kg | Rp 51.160 / kg | Turun cukup jelas |
Penurunan harga pada kelompok komoditas tersebut menunjukkan bahwa mekanisme pasar dan pasokan semakin berperan dalam menurunkan tekanan harga bagi masyarakat.
Komoditas yang Tidak Menunjukkan Penurunan
Meski banyak bahan pangan tumbuh lebih murah, beberapa komoditas tetap mengalami kenaikan atau stabil:
- Daging sapi murni naik tipis menjadi sekitar Rp 134.996 per kg (sedikit naik dari sebelumnya)
- Daging ayam ras juga naik: tercatat Rp 38.217 per kg, dari sebelumnya Rp 37.841 per kg
- Minyak goreng kemasan naik sedikit menjadi Rp 20.893 per liter dari Rp 20.892
- Minyak goreng curah juga naik ke Rp 17.531 per liter dari Rp 17.495
Kenaikan pada komoditas seperti daging dan minyak menunjukkan bahwa tekanan biaya produksi atau distribusi mungkin masih tinggi.
Faktor Penyebab Penurunan Harga Pangan
Penurunan harga pangan ini bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor:
- Pasokan meningkat dari sentra produksi
Beberapa daerah penghasil seperti Jawa Tengah, Sumatera Barat, dan Sulawesi mungkin memproduksi surplus, mendorong penawaran lebih tinggi sehingga menekan harga. - Pelonggaran distribusi & logistik
Kemudahan akses transportasi dan penurunan biaya logistik membantu menyalurkan produk dari sentra ke pasar konsumen dengan efisiensi. - Intervensi & stabilisasi pasar dari pemerintah
Pemerintah melalui Bapanas atau Bulog bisa melakukan operasi pasar atau distribusi stok pangan untuk menahan lonjakan harga. - Efek musiman & cuaca
Musim panen bawang, cabai, atau produksi lokal tanaman pangan lainnya bisa menurunkan harga jika kondisi cuaca mendukung. - Permintaan konsumen melemah
Jika daya beli masyarakat melemah, permintaan turun, maka harga pun ikut turun sebagai respons pasar.
Dampak Bagi Masyarakat & Konsumen
Penurunan harga pangan memberi efek langsung bagi konsumen:
- Mengurangi beban pengeluaran
Masyarakat bisa membeli kebutuhan pokok dengan biaya lebih ringan, terutama bagi rumah tangga berpendapatan rendah. - Menahan laju inflasi pangan
Karena bahan pokok turun, tekanan inflasi khusus sektor pangan bisa mereda. - Meningkatkan kesejahteraan ekonomi mikro
Pedagang kecil dan pasar tradisional bisa menarik lebih banyak pembeli karena harga lebih bersaing.
Namun meskipun harga bahan pokok turun, komoditas seperti daging dan minyak tetap mahal — komponen penting dalam konsumsi masyarakat — sehingga keseimbangan biaya hidup belum sepenuhnya ringan.
Tantangan Ke Depan & Catatan Pengamat
Meski kabar penurunan harga cukup positif, masih banyak tantangan yang harus dihadapi:
- Fluktuasi harga jangka pendek
Harga pangan sangat sensitif terhadap kondisi cuaca, gangguan pasokan, atau kebijakan pemerintah — kenaikan bisa terjadi sewaktu-waktu. - Kesenjangan harga antar daerah
Penurunan nasional tak selalu merata: daerah terpencil atau pulau mungkin masih menghadapi harga tinggi, karena ongkos transportasi. - Biaya produksi & input naik
Jika pupuk, pupuk kimia, bahan bakar, atau tenaga kerja naik, maka produsen bisa mengalami tekanan sehingga menyulitkan penurunan harga. - Ketergantungan impor beberapa komoditas
Komoditas seperti kedelai dan minyak nabati impor bisa terpengaruh kurs valuta dan kondisi global, sehingga rentan terhadap kenaikan tajam.
Pengamat ekonomi pangan menyarankan agar pemerintah menjaga stabilitas pasokan, memperkuat rantai logistik, dan memfokuskan dukungan pada sektor petani agar harga pangan tetap terkendali.
Kesimpulan
Data terbaru dari Bapanas menunjukkan bahwa hari ini banyak komoditas pangan pokok mengalami penurunan harga: cabai rawit merah, bawang merah, beras premium/medium/SPHP, serta bahan strategis seperti jagung dan kedelai. Ini menjadi sinyal positif bagi stabilitas pangan nasional, terutama di tengah tekanan ekonomi dan inflasi.
Meski demikian, kenaikan tipis pada komoditas seperti daging dan minyak menunjukkan bahwa beban hidup belum turun sepenuhnya. Pemerintah, produsen, dan distribusi harus terus dioptimalkan agar penurunan ini tidak sekadar sesaat, tetapi menjadi fondasi keberlanjutan bagi kesejahteraan rakyat.

