Potret Perubahan Kebiasaan Makan dan Gaya Hidup Remaja Suku Tengger
Pasuruan / Wonokitri, Jawa Timur — Remaja suku Tengger, yang tinggal di wilayah sekitar Gunung Bromo, mulai mengalami perubahan signifikan dalam pola makan dan gaya hidup. Penelitian terbaru dari Universitas Airlangga (UNAIR) mengungkap bahwa meski masih menjaga tradisi budaya, para remaja Tengger kini terkena pengaruh budaya luar, terutama dalam pilihan makanan, perilaku sosial, dan penggunaan gawai.
Latar Belakang Penelitian
Penelitian kualitatif ini dilakukan oleh tim dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, dengan mewawancarai 15 remaja Tengger dan Kepala Desa Wonokitri sebagai informan utama. Metode pengumpulan data meliputi wawancara mendalam dan observasi langsung gaya hidup para remaja.
Tujuan utamanya adalah untuk mengeksplorasi bagaimana nilai budaya asli suku Tengger dan pengaruh dari luar (seperti wisata dan modernisasi) membentuk kebiasaan makan dan pola hidup para remaja.
Temuan: Tradisi vs Pengaruh Modern
Tradisi Budaya Masih Kuat
- Banyak remaja Tengger tetap menghormati tradisi lokal. Mereka masih mengenal dan mengikuti adat suku mereka, terutama dalam konteks makanan dan ritual adat.
- Makanan khas untuk upacara adat Tengger, seperti jadah, pasung, pepes, dan jenang merah-putih, tetap memiliki nilai filosofi tinggi.
- Analisis gizi terhadap makanan upacara tersebut menunjukkan kandungan karbohidrat dominan dan rasa manis, yang sesuai tradisi Tengger.
Pengaruh Budaya Luar Makin Terasa
Meski tradisi tetap hadir, remaja Tengger juga menangkap pengaruh budaya modern, terutama dari pariwisata dan globalisasi:
- Makanan Cepat Saji
Para remaja menyebut mulai sering membeli fast food, salah satu indikasi bahwa selera makan tradisional perlahan bergeser. - Gaya Berpakaian dan Sosialisasi
Gaya berpakaian mereka berkembang dari pakaian tradisional menuju tren modern. Di samping itu, cara bersosialisasi berubah: lebih banyak berinteraksi melalui media sosial dan kegiatan anak muda modern. - Kebiasaan Merokok & Konsumsi Alkohol
Beberapa remaja jelaskan bahwa kini ada remaja Tengger yang merokok dan mengonsumsi alkohol — kebiasaan yang kurang lazim di generasi sebelumnya. - Penggunaan Gadget
Gawai menjadi bagian penting dalam hidup sehari-hari, tak hanya untuk komunikasi, tetapi juga hiburan dan akses ke budaya luar.
Faktor Pendorong Perubahan
Beberapa faktor utama dianggap mendorong perubahan gaya hidup ini:
- Pariwisata
Wilayah suku Tengger sering dikunjungi wisatawan, dan interaksi dengan pengunjung dari luar suku membawa pengaruh budaya baru, termasuk pola makan dan gaya hidup. - Modernisasi & Globalisasi
Akses informasi global lewat internet dan media sosial memudahkan remaja Tengger untuk menyerap tren modern. - Kebutuhan Sosial
Remaja ingin tetap “kekinian” dan bisa bersosialisasi dengan teman sebaya dari luar komunitas tradisional, yang tak kalah penting dalam membentuk identitas mereka. - Pilihan Ekonomi
Fast food dan produk modern mungkin tersedia lebih mudah dan murah dibanding beberapa bahan makanan tradisional — yang membuatnya menarik untuk remaja.
Tantangan dan Implikasi Kesehatan
Perubahan gaya hidup ini menimbulkan beberapa risiko dan tantangan:
- Risiko Nutrisi: Pergeseran dari makanan tradisional ke fast food bisa berdampak pada kualitas gizi remaja.
- Nilai Budaya Terancam: Jika tidak diimbangi dengan pemahaman tentang nilai lokal, generasi muda bisa kehilangan pemahaman mendalam tentang akar budaya mereka.
- Kesehatan Mental: Adaptasi antara budaya tradisional dan modern bisa membawa konflik identitas, terutama bagi remaja yang merasa “terbelah” antara nilai lama dan baru.
- Ketergantungan Gadget: Penggunaan gadget yang intens bisa mengurangi aktivitas fisik, meningkatkan perilaku sedentari, dan memengaruhi kesehatan secara keseluruhan.
Rekomendasi dari Penelitian
Peneliti dari UNAIR memberikan beberapa rekomendasi untuk menjaga keseimbangan sehat antara tradisi dan modernitas:
- Edukasi Budaya: Remaja perlu diajak untuk memahami nilai-nilai tradisional Tengger agar bisa memilih mana pengaruh modern yang positif dan mana yang perlu dijaga jaraknya.
- Intervensi Kesehatan Gizi: Program kesehatan remaja di komunitas Tengger harus mempertimbangkan kebiasaan makan tradisional dan modern agar nutrisi tetap seimbang.
- Pendampingan Sosial: Keterlibatan guru, orang tua, tokoh adat, dan kader kesehatan lokal sangat penting untuk membimbing remaja dalam pengambilan keputusan gaya hidup.
- Pengelolaan Teknologi: Ada kebutuhan untuk mengedukasi remaja tentang penggunaan gadget yang sehat serta menetapkan batas agar tidak mengganggu pola makan dan interaksi sosial.
Kesimpulan
Penelitian Universitas Airlangga menggambarkan gambaran menarik dan kompleks dari remaja Suku Tengger: mereka masih menjaga warisan budaya secara kuat, tetapi juga tak terhindar dari pengaruh global yang membentuk kebiasaan makan dan gaya hidup baru.
Perubahan ini bukan sekadar soal makan modern atau gadget, tetapi tentang identitas budaya, pemilihan nilai, dan adaptasi generasi muda yang menghadapi dualitas tradisional dan modern. Untuk menjaga keseimbangan yang sehat, diperlukan upaya edukatif dan kolaboratif antara komunitas, akademisi, dan pembuat kebijakan agar remaja Tengger bisa berkembang dalam harmoni budaya dan kesejahteraan masa depan.

