Penyakit Arteri Perifer Mulai Menyerang Usia Muda, Kenali Gejala dan Faktor Risikonya
Penyakit arteri perifer atau Peripheral Arterial Disease (PAD) selama ini lebih sering dikaitkan dengan kelompok usia lanjut. Namun, tren kesehatan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa gangguan pembuluh darah ini mulai ditemukan pada usia yang lebih muda.
Para ahli kesehatan mengingatkan bahwa perubahan gaya hidup, meningkatnya angka obesitas, diabetes, kebiasaan merokok, serta kurangnya aktivitas fisik menjadi faktor yang mempercepat munculnya penyakit pembuluh darah pada kelompok usia produktif. Bahkan, sejumlah kasus kini ditemukan pada pasien berusia di bawah 40 tahun.
Kondisi ini menjadi perhatian karena penyakit arteri perifer dapat berkembang secara perlahan tanpa gejala yang jelas pada tahap awal. Akibatnya, banyak penderita baru menyadari penyakitnya setelah muncul gangguan yang lebih serius.
Apa Itu Penyakit Arteri Perifer?
Penyakit arteri perifer merupakan kondisi ketika pembuluh darah arteri yang mengalirkan darah ke lengan atau kaki mengalami penyempitan akibat penumpukan plak lemak pada dinding pembuluh darah. Akibatnya, aliran darah menuju anggota gerak menjadi berkurang.
Kondisi ini paling sering menyerang tungkai dan kaki. Saat aliran darah tidak mencukupi kebutuhan jaringan tubuh, penderita dapat mengalami berbagai keluhan yang memengaruhi aktivitas sehari-hari.
Penyebab utama penyakit arteri perifer adalah aterosklerosis, yaitu proses penumpukan lemak, kolesterol, dan zat lain pada dinding arteri yang berlangsung selama bertahun-tahun. Seiring waktu, pembuluh darah menjadi semakin sempit dan kaku sehingga aliran darah terganggu.
Mengapa Kini Menyerang Usia Muda?
Dulu penyakit ini identik dengan kelompok lanjut usia karena proses penyempitan pembuluh darah biasanya berkembang dalam jangka panjang.
Namun, pola hidup modern membuat faktor risiko muncul lebih cepat. Konsumsi makanan tinggi lemak dan gula, minim aktivitas fisik, merokok, stres berkepanjangan, serta gangguan metabolik menyebabkan kerusakan pembuluh darah dapat dimulai sejak usia muda.
Penelitian terbaru bahkan menemukan banyak orang dewasa muda sudah menunjukkan tanda-tanda awal kerusakan pembuluh darah meskipun usia mereka masih relatif muda. Kondisi ini menunjukkan bahwa kesehatan pembuluh darah perlu diperhatikan sejak dini.
Selain itu, meningkatnya prevalensi diabetes tipe 2 pada usia produktif juga menjadi faktor yang memperbesar risiko penyakit arteri perifer.
Gejala yang Sering Tidak Disadari
Salah satu tantangan terbesar dalam mendeteksi penyakit arteri perifer adalah gejalanya yang sering dianggap sepele.
Keluhan paling umum adalah nyeri atau kram pada betis, paha, atau pinggul saat berjalan maupun beraktivitas. Rasa sakit biasanya berkurang setelah penderita beristirahat beberapa menit. Kondisi ini dikenal sebagai klaudikasio.
Selain itu, gejala lain yang dapat muncul meliputi:
- Kaki terasa dingin dibandingkan bagian tubuh lainnya.
- Mati rasa atau kelemahan pada tungkai.
- Luka pada kaki atau jari kaki yang sulit sembuh.
- Perubahan warna kulit pada kaki.
- Pertumbuhan rambut pada kaki berkurang.
- Denyut nadi kaki melemah.
- Nyeri saat beristirahat pada tahap yang lebih berat.
Karena gejalanya sering berkembang perlahan, banyak penderita menganggapnya sebagai kelelahan biasa atau akibat aktivitas fisik yang berlebihan.
Bisa Memicu Komplikasi Serius
Penyakit arteri perifer bukan sekadar masalah pada kaki atau tungkai.
Kondisi ini sering menjadi tanda bahwa proses aterosklerosis juga terjadi pada pembuluh darah lain di tubuh, termasuk arteri jantung dan otak. Karena itu, penderita penyakit arteri perifer memiliki risiko lebih tinggi mengalami serangan jantung maupun stroke.
Jika tidak ditangani, aliran darah yang semakin berkurang dapat menyebabkan kematian jaringan atau gangren. Pada kasus berat, tindakan amputasi terkadang diperlukan untuk mencegah penyebaran kerusakan jaringan.
Inilah alasan mengapa diagnosis dan penanganan dini sangat penting dilakukan.
Faktor Risiko yang Perlu Diwaspadai
Terdapat sejumlah faktor yang diketahui meningkatkan risiko penyakit arteri perifer.
Merokok menjadi salah satu faktor terbesar karena zat beracun dalam rokok dapat merusak lapisan pembuluh darah dan mempercepat pembentukan plak. Selain itu, diabetes juga memiliki hubungan erat dengan kerusakan pembuluh darah.
Faktor risiko lainnya meliputi:
- Tekanan darah tinggi.
- Kolesterol tinggi.
- Obesitas.
- Kurang aktivitas fisik.
- Riwayat keluarga dengan penyakit jantung atau stroke.
- Usia yang semakin bertambah.
Meskipun usia masih muda, seseorang yang memiliki beberapa faktor risiko sekaligus tetap dapat mengalami penyakit arteri perifer.
Pentingnya Deteksi Dini
Dokter dapat mendiagnosis penyakit arteri perifer melalui pemeriksaan fisik dan berbagai tes penunjang.
Salah satu pemeriksaan yang paling sering digunakan adalah Ankle-Brachial Index (ABI), yaitu perbandingan tekanan darah di pergelangan kaki dengan tekanan darah di lengan. Pemeriksaan ini membantu mengetahui apakah terdapat gangguan aliran darah menuju tungkai.
Selain ABI, dokter juga dapat menggunakan USG Doppler, CT scan pembuluh darah, angiografi, maupun pemeriksaan laboratorium untuk menilai kondisi pasien secara lebih menyeluruh.
Deteksi dini memungkinkan penanganan dilakukan sebelum muncul komplikasi yang lebih berat.
Cara Mencegah Penyakit Arteri Perifer
Kabar baiknya, sebagian besar faktor risiko penyakit arteri perifer dapat dikendalikan melalui perubahan gaya hidup.
Berhenti merokok merupakan langkah paling penting untuk melindungi kesehatan pembuluh darah. Selain itu, menjaga berat badan ideal dan berolahraga secara teratur dapat membantu memperbaiki sirkulasi darah.
Pola makan sehat yang rendah lemak jenuh, gula, dan garam juga berperan penting dalam mengontrol tekanan darah serta kadar kolesterol.
Bagi penderita diabetes, pengendalian kadar gula darah menjadi langkah yang tidak boleh diabaikan karena kadar gula yang tinggi dapat mempercepat kerusakan pembuluh darah.
Jangan Abaikan Nyeri Kaki Saat Berjalan
Banyak orang menganggap nyeri kaki saat berjalan sebagai masalah ringan yang akan hilang dengan sendirinya.
Padahal, jika keluhan tersebut muncul berulang terutama setelah berjalan dalam jarak tertentu dan membaik saat istirahat, kondisi itu bisa menjadi tanda awal penyakit arteri perifer.
Semakin cepat kondisi ini dikenali, semakin besar peluang untuk mencegah komplikasi serius seperti serangan jantung, stroke, maupun gangren.
Karena itu, masyarakat terutama kelompok usia produktif perlu mulai memperhatikan kesehatan pembuluh darah sejak dini. Penyakit arteri perifer bukan lagi penyakit yang hanya menyerang lansia. Gaya hidup modern membuat risiko tersebut kini semakin dekat dengan generasi muda.

