Beras Fortifikasi dan Beras Biasa: Beda Kandungan, Standar, dan Manfaat Gizinya
Beras fortifikasi belakangan menjadi perbincangan setelah pemerintah menemukan sejumlah produk yang dipasarkan dengan klaim fortifikasi tetapi diduga tidak memenuhi persyaratan kandungan gizi. Temuan tersebut membuat masyarakat semakin ingin mengetahui perbedaan beras fortifikasi dan beras biasa yang selama ini dikonsumsi sehari-hari.
Sekilas, keduanya memang sulit dibedakan. Beras fortifikasi tetap mempunyai bentuk seperti beras pada umumnya dan setelah dimasak akan menjadi nasi. Perbedaan utama justru terdapat pada kandungan zat gizinya dan proses yang dilakukan sebelum produk beredar di pasaran.
Beras biasa memperoleh zat gizi secara alami dari bulir beras. Sementara itu, beras fortifikasi secara khusus mendapatkan tambahan vitamin dan mineral untuk meningkatkan kandungan mikronutriennya.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mendefinisikan fortifikasi sebagai proses menambahkan satu atau lebih mikronutrien esensial, seperti vitamin dan mineral, ke dalam pangan untuk meningkatkan kualitas gizinya dan memberikan manfaat kesehatan masyarakat dengan risiko seminimal mungkin.
Apa Itu Beras Fortifikasi?
Beras fortifikasi merupakan beras yang diperkaya dengan zat gizi tertentu. Salah satu teknik pembuatannya dilakukan dengan mencampurkan beras biasa dengan fortified rice kernels atau kernel beras fortifikan.
Kernel tersebut dibuat menyerupai bulir beras, tetapi di dalamnya telah ditambahkan vitamin dan mineral. Kernel kemudian dicampur dengan beras sosoh menggunakan komposisi tertentu sehingga zat gizi tambahan tersebar pada produk akhir.
WHO menjelaskan bahwa fortifikasi beras bisa dilakukan melalui beberapa metode. Selain menggunakan kernel yang dibuat melalui proses ekstrusi dan kemudian dicampurkan ke beras, mikronutrien dapat ditambahkan dengan teknik pelapisan atau penyemprotan pada permukaan bulir.
Jadi, istilah beras fortifikasi tidak sekadar berarti beras yang diberi vitamin secara sembarangan. Ada proses produksi, komposisi zat gizi, standar mutu, hingga ketentuan pelabelan yang harus diperhatikan.
Apa Bedanya dengan Beras Biasa?
Perbedaan beras fortifikasi dan beras biasa paling jelas terlihat dari keberadaan zat gizi yang sengaja ditambahkan.
Beras biasa tetap mempunyai nilai gizi, terutama sebagai sumber karbohidrat. Kandungannya dapat berbeda tergantung varietas, tingkat penggilingan, serta proses pengolahan. Namun, produk tersebut tidak melalui proses penambahan mikronutrien seperti yang dilakukan pada beras fortifikasi.
Sebaliknya, beras fortifikasi dirancang agar konsumen memperoleh tambahan vitamin dan mineral melalui makanan pokok yang dikonsumsi secara rutin.
Indonesia sendiri telah mempunyai SNI 9372:2025 tentang Beras Fortifikasi. Berdasarkan standar tersebut, setiap 100 gram beras fortifikasi memiliki ketentuan kandungan vitamin B1 minimal 0,25 miligram, asam folat 0,25–0,38 miligram, vitamin B12 1–1,5 mikrogram, zat besi 3,50–5,25 miligram, serta seng 3–4,5 miligram.
Kernel yang digunakan juga mempunyai standar tersendiri melalui SNI 9314:2024 tentang Kernel Beras Fortifikan. Dengan demikian, produk yang dipasarkan sebagai beras fortifikasi seharusnya memenuhi ketentuan yang berlaku, bukan sekadar mencantumkan klaim pada kemasan.
Mengapa Beras Perlu Difortifikasi?
Fortifikasi pangan bukan konsep baru. Strategi ini digunakan di berbagai negara untuk membantu meningkatkan asupan mikronutrien pada masyarakat, terutama ketika terdapat masalah kekurangan vitamin atau mineral tertentu.
Beras menjadi salah satu pilihan karena merupakan makanan pokok yang dikonsumsi secara rutin oleh populasi besar. Dengan menambahkan mikronutrien ke makanan yang sudah menjadi bagian dari pola konsumsi sehari-hari, intervensi gizi berpotensi menjangkau lebih banyak orang.
WHO merekomendasikan fortifikasi beras dengan zat besi sebagai salah satu strategi kesehatan masyarakat di wilayah yang menjadikan beras sebagai makanan pokok. Fortifikasi dengan vitamin A dan asam folat juga dapat digunakan untuk membantu meningkatkan status zat gizi masyarakat sesuai kondisi dan kebutuhan setempat.
Zat besi mempunyai peran penting dalam pembentukan hemoglobin. Sementara itu, asam folat diperlukan dalam pembentukan dan pembelahan sel. Vitamin B12 berkaitan dengan pembentukan sel darah merah dan fungsi sistem saraf, sedangkan vitamin B1 berperan dalam metabolisme energi. Seng juga dibutuhkan dalam sejumlah proses tubuh, termasuk pertumbuhan dan fungsi kekebalan.
Namun, beras fortifikasi tidak dirancang untuk menggantikan seluruh sumber gizi dari makanan lain.
Beras Fortifikasi Bukan Pengganti Pola Makan Seimbang
Tambahan vitamin dan mineral bukan berarti seseorang cukup mengandalkan beras fortifikasi untuk memenuhi seluruh kebutuhan gizinya.
Tubuh tetap membutuhkan pola makan beragam yang terdiri atas sumber karbohidrat, protein hewani maupun nabati, sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, serta sumber lemak sesuai kebutuhan.
WHO juga menempatkan fortifikasi sebagai bagian dari strategi peningkatan gizi masyarakat, bukan sebagai pengganti pola makan yang beragam. Manfaatnya lebih tepat dipandang sebagai cara untuk meningkatkan asupan mikronutrien melalui pangan yang telah rutin dikonsumsi.
Karena itu, anggapan bahwa beras biasa otomatis menjadi tidak sehat hanya karena tidak difortifikasi juga tidak tepat. Beras biasa tetap dapat dikonsumsi sebagai bagian dari pola makan bergizi seimbang.
Pemerintah Temukan Beras Fortifikasi Diduga Tak Sesuai Klaim
Perhatian terhadap beras fortifikasi semakin meningkat setelah Badan Pangan Nasional (Bapanas) melakukan pengawasan terhadap produk yang beredar.
Pada September 2026, pemerintah mengungkap pemeriksaan terhadap 27 merek. Sebanyak 25 merek di antaranya dinyatakan tidak memenuhi persyaratan dalam pemeriksaan pemerintah terkait klaim fortifikasi dan kandungan produk.
Bapanas sebelumnya menyebut hasil pengujian terhadap sampel menunjukkan sekitar 93 persen produk yang diperiksa belum memenuhi persyaratan untuk mencantumkan klaim sebagai beras fortifikasi maupun beras yang diperkaya.
Persoalannya bukan sekadar pada nama produk. Konsumen membeli beras fortifikasi dengan harapan memperoleh kandungan vitamin dan mineral seperti yang tercantum pada kemasan. Ketidaksesuaian antara label dan kandungan aktual karena itu dapat merugikan masyarakat.
Bapanas menyatakan 11 pelaku usaha yang memiliki 25 izin edar produk terkait telah memperoleh surat peringatan. Hingga minggu pertama September 2026, seluruh merek yang dipersoalkan disebut sudah menghentikan produksinya, sementara sebagian produk juga telah ditarik dari peredaran.
Konsumen Perlu Memperhatikan Label Produk
Temuan pemerintah membuat konsumen perlu semakin teliti ketika membeli produk yang menawarkan tambahan kandungan gizi.
SNI 9372:2025 bukan hanya menetapkan jenis dan jumlah mikronutrien dalam beras fortifikasi. Bapanas menyebut kandungan vitamin dan mineral dalam produk sedikitnya harus mencapai 80 persen dari nilai yang tercantum pada label. Untuk mineral seperti zat besi dan seng, kandungannya tidak boleh melampaui 120 persen dari nilai yang tercantum.
Artinya, klaim pada kemasan seharusnya dapat dipertanggungjawabkan melalui kandungan produk yang sebenarnya.
Konsumen dapat memperhatikan informasi produk, izin edar, komposisi, kandungan gizi, kondisi kemasan, serta petunjuk penyimpanan sebelum membeli. Jika suatu produk menawarkan manfaat atau kandungan tertentu, informasi tersebut semestinya sesuai dengan produk yang berada di dalam kemasan.
Jadi, Pilih Beras Fortifikasi atau Beras Biasa?
Beras fortifikasi dan beras biasa sama-sama dapat menjadi bagian dari konsumsi sehari-hari. Perbedaan utamanya terletak pada tambahan mikronutrien dan standar khusus yang harus dipenuhi oleh produk fortifikasi.
Beras fortifikasi menawarkan tambahan vitamin B1, asam folat, vitamin B12, zat besi, dan seng sesuai standar yang berlaku. Sementara itu, beras biasa tetap mempunyai nilai gizi alami dan dapat menjadi sumber karbohidrat dalam pola makan seimbang.
Yang lebih penting daripada sekadar memilih label “fortifikasi” adalah memastikan produk mempunyai mutu baik dan informasi kandungan gizinya dapat dipertanggungjawabkan.
Fortifikasi memang dapat membantu meningkatkan asupan zat gizi mikro, tetapi manfaat tersebut baru benar-benar diperoleh jika kandungan produk sesuai dengan klaimnya. Pada akhirnya, beras apa pun yang dipilih tetap perlu dikombinasikan dengan sumber protein, sayur, buah, dan pangan beragam lainnya untuk memenuhi kebutuhan gizi tubuh.

