Kemensos Ajukan Keterlibatan Relawan Sosial dalam Penyaluran MBG bagi Lansia dan Difabel demi Keberlanjutan Program
Tangerang, Indonesia —
Dalam upaya memperluas jangkauan layanan Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk kelompok masyarakat rentan, khususnya lansia dan penyandang disabilitas, Kementerian Sosial Republik Indonesia mengajukan sinergi baru dengan melibatkan relawan sosial dalam proses pengantaran makanan. Usulan ini datang sebagai respons terhadap kebutuhan layanan langsung bagi penerima manfaat yang memiliki keterbatasan mobilitas dan akses terhadap nutrisi harian yang layak, serta sebagai bagian dari strategi memperkuat efektivitas distribusi program ini.
Menteri Sosial, Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, menyampaikan gagasan tersebut pada acara buka bersama yang digelar di ICE BSD, Tangerang. Dalam keterangannya kepada media, Gus Ipul menekankan bahwa pendayagunaan relawan sosial merupakan langkah strategis untuk meningkatkan cakupan layanan MBG kepada lansia yang memasuki usia di atas 75 tahun serta penyandang disabilitas yang membutuhkan dukungan khusus.
Mengapa Relawan Sosial Dilibatkan?
Menurut Gus Ipul, alasan utama melibatkan relawan dari Kemensos adalah untuk memastikan bahwa layanan MBG tidak hanya menjangkau kelompok penerima yang seharusnya layak tetapi juga dapat diantarkan secara langsung ke tempat tinggal mereka. Kelompok lansia lansia dengan usia lanjut (di atas 75 tahun) umumnya menghadapi keterbatasan fisik dalam mengakses pusat-pusat layanan—termasuk dapur Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG). Relawan sosial diusulkan untuk membantu mengantarkan makanan bergizi ini dan, jika perlu, sekaligus memberikan bentuk perawatan dasar yang sesuai dengan kebutuhan lansia.
Usulan ini juga dimaksudkan untuk menjembatani kebutuhan kontinuitas layanan MBG bagi penyandang disabilitas, yang sering kali mengalami kendala dalam akses transportasi, mobilitas, dan koordinasi layanan publik. Relawan sosial yang telah terlatih diharapkan mampu menjadi ujung tombak dalam proses distribusi di lapangan.
Sejarah dan Pencapaian Awal Program MBG untuk Lansia
Usulan penggunaan relawan sosial bukanlah hal yang sepenuhnya baru. Pada tahun sebelumnya, Kemensos telah melakukan uji coba program MBG khusus yang mengutamakan kelompok lansia dan penyandang disabilitas. Dalam praktik awalnya, pelayanan ini telah menjangkau sekitar 100.000 lansia dan 36.000 penyandang disabilitas, sesuai dengan data awal yang telah dicatat.
Gus Ipul menjelaskan bahwa dari pengalaman tersebut, pemerintah mempertimbangkan untuk memperluas cakupan layanan hingga mencapai antara 300.000 hingga 400.000 penerima manfaat pada tahun berjalan. Target ini merupakan bukti bahwa kebutuhan akan pelayanan MBG yang tepat dan inklusif kian meningkat di tengah dinamika sosial Indonesia, terutama di masa pemulihan pascapandemi dan meningkatnya jumlah lansia dalam masyarakat.
Sinergi Data dan Penetapan Penerima Manfaat
Salah satu aspek penting dalam program MBG yang dikembangkan adalah mekanisme penentuan kelayakan penerima manfaat. Gus Ipul menekankan bahwa data penerima MBG untuk kelompok lansia dan penyandang disabilitas akan disusun secara berlapis. Untuk itu, Badan Gizi Nasional (BGN) akan bekerja sama dengan pemerintah daerah melalui wali kota maupun bupati masing‑masing:
“Nanti data penerima MBG ini akan dibantu kriteria dari daerah, sehingga program benar‑benar tepat sasaran,” ujar Gus Ipul.
Rencana tersebut bertujuan untuk memastikan akurasi penetapan penerima manfaat sehingga program tidak hanya menjangkau kelompok yang memenuhi syarat secara administratif, tetapi juga benar‑benar memberikan bantuan kepada mereka yang mengalami kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan gizi sehari‑hari.
Model Pelaksanaan Penyaluran MBG bagi Lansia dan Difabel
Dalam beberapa pernyataan sebelumnya terkait program MBG untuk lansia, mekanisme yang sedang dimatangkan mencakup beberapa fase operasional penting:
- Perencanaan Konsep dan Pembentukan SPPG:
Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) akan tetap menjadi unit produksi makanan bergizi, mirip dengan skema yang berjalan bagi anak sekolah. Ini telah disebutkan sebagai bagian dari pembentukan konsep pelaksanaan MBG untuk lansia. - Peran Relawan dan Pendamping Sosial:
Relawan sosial dari Kemensos serta pendamping atau caregivers akan mengambil peran dalam tahap distribusi makanan secara langsung ke rumah warga yang tidak dapat mengakses layanan secara mandiri. - Kriteria Penerima Manfaat dan Asesmen Data:
Penetapan kelompok yang lolos sebagai penerima manfaat MBG lanjut usia dan penyandang disabilitas akan ditentukan berdasarkan data Kemensos yang divalidasi oleh pemerintah daerah sebelum dirumuskan BGN sebagai dasar layanan.
Strategi Distribusi yang Lebih Efisien dan Berkelanjutan
Dengan melibatkan relawan sosial, Kemensos berharap distribusi MBG menjadi lebih efisien dan tepat sasaran. Model kerja ini juga menjadi daya dukung penting dalam mengatasi kendala mobilitas yang melekat pada kelompok lansia dan difabel. Relawan yang berpengalaman di bidang layanan sosial diharapkan mampu membantu menjembatani kesenjangan pelayanan yang kerap terjadi di lapangan.
Selain peran distribusi makanan, relawan diharapkan mampu memberikan feedback loop antara penerima manfaat dengan instansi pengelola sehingga dapat memperbaiki model layanan secara berkelanjutan.
Tantangan dan Harapan Program MBG Lansia
Program ini masih dalam tahap pematangan konsep dan pelibatan relawan sosial dalam penyalurannya masih diuji coba. Sebagaimana dinyatakan, pemerintah melalui Kemensos dan BGN terus melakukan koordinasi untuk menyempurnakan model implementasi ini sehingga dapat berfungsi secara optimal.
Meskipun demikian, gagasan tersebut disambut positif oleh para pemangku kepentingan karena menawarkan inovasi dalam layanan sosial bagi kelompok rentan. Di masa mendatang, apabila skema integrasi relawan sosial terbukti efektif, pendekatan ini dapat menjadi model yang diadopsi secara lebih luas di berbagai wilayah di Indonesia.

